Sudah Merdekakah Kita?

Perjalanan sejarah membawa kita pada fase baru dalam pola tata hidup bernegara. 60 tahun sudah ikrar merdeka diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Entah corak ragam yang tersaji sekarang inikah, yang diasakan oleh dua proklamator itu dalam kalimat ingin merdeka mereka, atau akan ada kekecewaan yang bersangatan ketika mendapati generasi baru Indonesia yang penuh syahwat menikmati penjajahan baru ala Zionis Yahudi dan Negara Salibis Abang Sam.

Satu hal yang pasti, harapan para pahlawan bangsa ketika mereka menuntut kemerdekaan Indonesia, bukanlah untuk diisi dengan lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba gigit sendok bawa kelereng, masukin jarum kedalam botol pake pantat, lomba joget, ibu-ibu main bola pake sarung dan banyak “kelucuan” lainnya yang menunjukkan kecupitan berfikir dan kebodohan kolektif kita sebagai bangsa yang katanya sudah merdeka. Entah syaitan apa yang merasuki jiwa anak bangsa ketika peringatan kemerdekaan hanya dan mutlak dirayakan dengan format yang sangat dangkal dan konyol tersebut.

Yang juga pasti adalah, kemerdekaan yang mereka idam-idamkan bukanlah bermakna bebas bermaksi’at kepada Allah, bebas melanggar syari’at-Nya, bebas menghina ajaran-Nya, bebas meragukan Nabi-Nya, bebas meragukan kualitas dan kemampuan Hukum Allah dalam menata hidup hamba-Nya. Kalo ini yang timbul pastilah karena pengaruh berfikir ala JIL (Jaringan Iblis Liberal).

Kekerdilan berfikir, kebodohan mengambil hikmah atas seluruh pelajaran dari tatanan alam, pemenuhan syahwat syaithani dan penghambaan jiwa kepada selain Allah, selalu mendatangkan kegamangan bersikap dan ketakutan yang bersangatan (inferior) bagi pemilik iman yang cetek. Entah sudah berapa banyak kelompok manusia yang dihinakan, dilaknati, dibasmi, dimusnahkan dan dihancur ratakan oleh Allah swt guna memberikan pelajaran untuk generasi setelah mereka. Apakah mereka tidak punya akal untuk berfikir?

Mestinya kemerdekaan semakna dengan Islam. Orang yang merdeka adalah orang yang menghilangkan penghambaan, ketundukan, ketakutan dan kecintaan kecuali hanya kepada Allah swt.

Mestinya kemerdekaan semakna dengan kebebasan manusia dari kekuatan seluruh makhluq, guna menghambakan seluruh pengabdian dan kegagahannya hanya kepada Allah swt Sang Pencipta dan Penata Kehidupan Ideal. Pengingkaran dan ketiada pedulian terhadap perjuangan menegakkan perintah Allah swt dalam setiap tatanan kehidupan, mestinya semakna dengan ketiada merdekaan yang selalu menyiksa bathin seorang manusia. Sungguh indah Muhammad bin Abdullah saw mengajarkan kita berdo’a “Allahumma, kami berlindung kepada-Mu dari dikuasai oleh manusia lain.”

Mestinya kemerdekaan semakna dengan ketakutan kita terhadap ancaman Allah dengan azab neraka-Nya yang sangat menyakitkan. Semakna dengan ketakutan kita disebut fasiq, zholim dan kafir oleh Allah swt. Sebagaimana firman-Nya, “Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa tidak berhukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Barangsiapa tidak berhukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Al-Maidah : 44, 45, 47)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: