Mahkota Kemuliaan

“Fuztu wa Robbi Ka’bah… fuztu wa Robbi Ka’bah… (Demi Robb pemilik Ka’bah, sungguh saya telah beruntung…).” Musuh-musuhnya terbelalak luar biasa ketika dentuman kalimat keluar dari mulut sang pemuda muslim yang sedang sekarat itu. Di saat kondisinya kritis, tertusuk jantungnya oleh hujaman pedang mereka, justru ia malah bersuka cita….,

Sepenggal kisah di atas menghantarkan kita kepada rasa takjub yang menggentarkan. Aneh memang, di saat nyawa sudah harus menghilang dari raga, “wajar” saja kalau ia mampu bersabar, namun ini lebih menakjubkan, ia justru bersuka cita, bersyukur dengan kematian yang sebentar lagi akan menjemputnya. Bersabar saja dalam kondisi seperti itu sudah sangat sulit, apalagi bila mampu bersyukur! Sungguh ajaib…,! Lalu…, percayakah kita bila ada kisah-kisah yang semisal, bahkan yang lebih menakjubkan darinya.

Tidak akan pernah hilang dari memori kita, di saat Rasululloh saw menolak tawaran malaikat penjaga gunung untuk meratakan penduduk Tha’if dengan tanah, akan tetapi walaupun seluruh hati dan tubuh beliau telah teriris oleh cacian dan lemparan batu dan kotoran, beliau lebih memilih bersabar dengan mengharapkan kemuliaan yang lebih besar dari Alloh swt, daripada meladeni rasa sakit yang dirasakan.

Kisah Al-Khansa menambah debar detak jantung kita, ketika kabar ke-empat mutiara hati yang dimilikinya telah gugur dalam kesyahidan sampai ke telinganya, bukan kesedihan dan bukan duka lara, justru syukur di atas kesabaran yang ia tampakkan. Seolah-olah ia berkata, “Biarkan mereka semua gugur, sungguh saya bersyukur, karena hanya itulah yang mampu saya persembahkan untuk menggapai kemuliaan di sisi-Nya.”

Subhanalloh.., rasanya terlalu aneh bila harus menceritakan kisah-kisah menakjubkan ini ataupun yang semisalnya. Yang dapat kita pahami, bahwa dua hal yang tak akan pernah bisa dipisahkan dari lubuk hati, jiwa, lisan dan amal perbuatan mereka di dalam menjalani roda perputaran dunia ini, yaitu selalu bersyukur dan bersabar di dalam menghadapinya. Karena dua hal itulah mereka menjadi berbeda dengan yang lainnya, dan karena dua hal itulah para pemiliknya menjadi mulia.

Oleh karena itu, tak akan pernah bisa dipisahkan dua hal ini dari kehidupan dunia, karena dunia tempat ujian cinta dan derita, dan tak akan pernah hilang sebuah kemuliaan dari pemiliknya, selama mahkota kemuliaan ini selalu menjadi bagian hati, lisan dan amal perbuatannya. Maka, terpujilah orang-orang mukmin, karena sesungguhnya hanya merekalah manusia-manusia yang mampu merengkuh kemuliaan ini dengan kesabaran dan selalu bersyukur dalam setiap ujian yang menerpa. Sesungguhnya Rasululloh saw pernah bersabda,

“Sangat menakjubkan bagi orang mukmin, karena segala urusannya adalah sangat baik baginya, dan itu hanya terjadi pada diri orang yang beriman. Apabila mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik baginya, dan apabila ia ditimpa kesusahan ia sabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: