Haruskah Kita Mengejarnya

Akhir-akhir ini kita dilelahkan dengan berita para “tokoh masyarakat” yang berlomba merasa diri yang paling tepat, mencalonkan diri sebagai pejabat. Baik sebagai bupati, walikota maupun gubernur. Bahkan di salah satu kota, ada seorang calon bupati yang “bermurah hati” mencetak kitab suci Al Qur’an ribuan eksemplar dengan biaya sendiri. Namun “sayang seribu sayang, ada udang dibalik batu”, kerja suci dikotori niat syahwati. Al Qur’an Kalam Allah yang Maha Suci, dijadikan alat untuk memikat simpati. Sungguh nista penuh keculasan, Kalam Allah dijadikan mainan. Tidakkah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kita renungkan? “Dan Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah (QS. Al Baqarah; 41)

Ini semua membuat kita bertanya-tanya, kenapa mereka amat bernafsu memburu jabatan dunia? Menjadi Singa di hutan rakyat jelata. Padahal kekasih Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda; “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan (jabatan)! Karena sesungguhnya jika engkau diberi kepemimpinan karena permintaanmu maka engkau akan diserahkan kepadanya (tidak ditolong oleh Allah). Jika engkau diberi tanpa meminta maka engkau akan dibantu melaksanakannya”. (HR. Bukhary dan Muslim).

Ada apa dibalik jabatan tersebut? Apakah mereka menganggap jabatan sebagai lahan basah yang menjanjikan keuntungan materi? Apakah mereka berfikir dengan mengemban jabatan, mereka dapat leluasa menggunakan harta umat untuk kepentingan pribadi dan keluarga? Jika itu yang terlintas dalam benak pemburu jabatan, sungguh menyesal ibu mengandung. Manusia modern yang tak pernah memahami hakikat amanah dan untuk apa kita di-ciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mampukah kita menjadikan Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu sebagai panutan? Memikul sekarung gandum seorang diri, ditengah malam yang se-nyap sunyi, hanya karena takut ditanya Ilahi, ketika satu keluarga janda miskin dan anak-anaknya sedang kelaparan. Dengan penuh tanggung jawab dan rasa takut pada Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau pernah berucap; “Seandainya ada seekor kambing di Syam yang ter-gelincir hingga jatuh ke jurang, niscaya aku akan ditanya pada hari kiamat kelak, kenapa tidak engkau perbaiki jalan ter-sebut, wahai Umar?”

Ingatlah wahai saudaraku…
Kekasih Allah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berpesan “Demi Allah, tidaklah seseorang dari kalian mengam-bil sesuatu yang bukan haknya kecuali ia akan datang menghadap Allah sambil membawa apa yang diambilnya itu pada hari kiamat”. (HR. Bukhary dan Muslim)

Takutlah kepada Allah. Waspadalah terhadap fitnah dunia, yang terlihat begitu mempesona, dipelupuk mata hamba dunia, yang sedang terlena di dunia fana. Padahal ajal diujung sana, menanti kita dengan seksama. Dan itu pasti!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: