Damai Bersama Nya

Tataplah matahari yang panas membara, ada kedamaian padanya, karena ia mau mendekat kepada Sang Penciptanya, Robbul ‘Izzah, melalui ketundukan pada garis terbit dan tenggelamnya. Purnama terpancang elegan di tengah langit dengan semburat cahayanya penuh keda-maian yang menawan, karena ia menundukkan diri kepada Sang Khaliq dengan beredar pada garis orbitnya. Maha besar Alloh swt, semua apa yang ada di langit dan di bumi tertunduk tafakur, khusyuk bertasbih mensucikan Alloh Robbul ‘Aalmiin, menjalani eksitensinya dengan penuh kesadaran qudraty, bahwa hakikat wujud diri kala memintal benang kehidupan ada dalam lingkaran hakikat kepemilikan Alloh swt dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan ketentuan yang dikehendaki-Nya. Firman Alloh swt:

“Kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imraan: 83)

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Alloh (menyatakan kebesaran Alloh). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dan kepada Alloh-lah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al Hadiid: 1-2&5)

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak menger-ti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra: 44).

Sungguh manusia akan sampai pada kesempurnaan sejati sebagai manusia seutuhnya saat mereka dapat menapaki titian jalan menuju kepada-Nya. Sekalipun sesekali jalan hidupnya tampak buram dan samar oleh pekatnya ujian dan cobaan. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Alloh swt menjadikan para anbiya wa rusul sebagai kekasih-kekasih-Nya, sekaligus menempatkan Rasululloh saw sebagai kholil-Nya, begitupun dengan para sahabat beliau yang Alloh swt ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, itu semua dikarenakan mereka telah mendapatkan dua kemenangan. Kemenangan ketika mengarahkan hati, agar selalu berada dalam titian keridhoan-Nya, tidak lalai oleh dunia dan tidak pula mengharapkan-nya dan kemenangan dalam mengalahkan seluruh anggota badan dalam mencapai rahmat-Nya. Seluruh pengorbanan mereka kerahkan untuk menegakkan kalimat-Nya dan menggapai kecintaan-Nya, di saat itulah, hati-hati mereka galau penuh kebimbangan dan tubuh-tubuh mereka terlilit lelah dan letih oleh hempasan gelombang ujian dan cobaan, dalam bentuk cemoohan, hinaan, kekurangan harta, intimidasi bahkan sampai pembunuhan pun harus mereka rasakan. Namun di saat itu pulalah terpancar kedamaian dari wajah mereka, tidak ada lagi kepenatan, kesuraman, keletihan dan kegundahan. Mereka hapus dengan melarutkan hati dan jasad mereka dalam kelezatan munajat kepada-Nya, menyungkurkan wajah bersujud di atas tanah, menghiba kepada-Nya, kaki-kaki mereka memar karena lamanya berdiri, punggung-punggung mereka pegal karena lamanya rukuk, dahi-dahi mereka menghitam karena lamanya sujud, mata-mata mereka lebam karena lamanya menangis, jenggot dan dada mereka basah karena lelehan buliran air mata, mereka mengharap ampunan, mengakui kelemahan dan kesalahan, kakinya bersimpuh, hatinya memerah, tangannya menengadah mengemis pertolongn dari Alloh swt,

“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan (dunia) ini secara sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari adzab neraka.” (QS. Ali Imran: 91)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: