Belum Mantap untuk berhijab

Wanita memang mempunyai banyak kelebihan dalam setiap sisi kehidupannya yang tidak dimiliki oleh lawan jenisnya. Wanita itu adalah ‘berlian’ yang sangat mahal harganya. Karena itu, Islam sangat menganjurkan para wanita untuk menjaga kesucian dirinya.

Tetapi dewasa ini banyak kaum wanita yang salah kaprah dalam mengaplikasikan rasa syukur atas kecantikan yang Alloh  berikan kepadanya. Mereka memamerkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya kepada orang lain. Banyak kita saksikan di jalanan ataupun di tempat keramaian lainnya, mereka dengan bangga memakai pakaian yang sangat ketat dan mini.  Tidak ada rasa malu ataupun bersalah atas apa yang mereka perbuat.

Pantas saja jika saat ini kita lihat frekuensi tingkat kriminalitas berupa pemerkosaan dan pelecehan setiap hari meningkat. Ini disebabkan oleh kurang perhatiannya kaum wanita dalam menjaga kehormatannya. Walaupun tidak 100%  ini merupakan kesalahan kaum wanita saja, akan tetapi fakta menunjukkan rata-rata kejahatan seksual yang dilakukan  laki-laki disebabkan melihat lawan jenisnya berbusana yang membuat gejolak syahwat meninggi.

Karena itu, Islam sangat menganjurkan setiap wanita untuk menjaga auratnya. Dengan berbusana yang baik dan menutup seluruh tubuhnya, maka hal-hal tersebut diatas bisa dihindari. Lantas bagaimanakah jika ada yang mengatakan ‘kita belum mantap dalam berhijab’?

Jawabnya adalah hendaknya kita bisa membedakan antara perintah Alloh  dan perintah manusia. Perintah yang datang dari manusia maka bisa saja salah ataupun benar. Imam Malik berkata, “Setiap orang bisa diterima ucapannya dan juga bisa ditolak, kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini.” Yang dimaksudkan adalah Rasulullah saw .

Selagi masih perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bisa berucap, “Belum mantap”, dan ia tidak bisa dihukum karenanya.

Adapun jika perintah itu datang  dari Alloh SWT baik yang tertulis langsung dalam kitab-Nya ataupun melalui  NabiNya agar disampaikan kepa-da umatya, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk mengatakan, “Saya belum mantap”.

Bila ia masih berkata ‘saya belum mantap’ dengan penuh keyakinan, padahal ia mengetahui bahwa itu adalah perintah Alloh , maka hal tersebut bisa menyeretnya pada ancaman dosa besar.  Hal ini disebabkan ia tidak percaya dan ragu kebenaran perintah tersebut.

Alloh  berfirman:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36).

Ketika seorang hamba mengaku beriman kepada Alloh, perecaya bahwa Alloh Maha Bijaksana dan paling mengetahui dalam penetapan hukum daripada dirinya,  maka jika telah datang perintah dari Alloh, tidak ada pilihan lain baginya kecuali patuh kepada-Nya. Sebagai seorang mukmin atau mukminah, mereka wajib mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang-orang beriman, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al Baqarah: 285)

Alloh memerintahkan kita dengan suatu perintah didasarkan kepada untuk kebaikan kita, dan salah satu sebab bagi tercapainya kebahagiaan kita. Demikian pula halnya dengan ketika memerintah wanita berhijab, Dia Maha Mengetahui bahwa itu adalah salah satu sebab tercapainya kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita.

Alloh  Maha Mengetahui, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum manusia diciptakan, juga mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak akan terjadi dari berbagai peristiwa, juga Dia mengetahui andaikata peristiwa tersebut terjadi, apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Dengan keyakinan seperti ini, apakah patut dan masuk akal kita menolak perintah Alloh Yang Maha luas ilmu-Nya, lalu  menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan, dan ilmunya sangat terbatas? Sungguh ini merupakan hal yang perlu direnugkan lebih dalam untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan kita.

Kita berdoa kepada Alloh  agar senantiasa diberikan hidayah oleh-Nya, senantiasa dibimbing dalam mengarungi hidup di dunia ini dan diberi kebaikan atas semua amal-amal kita. Amin.

Andai Kalian Tahu, Wahai Ummi dan Abi

“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra: 23)

Ketika Aku berada di bangku SLTA tepatnya di tingkat I semester akhir, sejak itulah aku mulai mengenal Islam yang hak, yaitu Islam yang murni yang mana selama aku menuntut ilmu tersebut belum ada satu pun kecacatan atau hal-hal yang menyimpang dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah yang shalih. Hingga pada suatu hari, Aku pun terus berusaha mendakwahkan dan menerapkan ilmu yang Aku peroleh mulai dari dalam hal pemahaman Aqidah, Fiqih, dan Ilmu-ilmu syar’i lainnya.

Kemudian tepatnya ketika Aku ber-ada di tingkat 3 SLTA dan hampir mena-matkan sekolah SLTA, keluarga ku pun mulai menyadari dan mencurigai Aku. Karena hampir 2 tahun belakangan ini, aku melaksanakan tata cara peribadahan yang berbeda dari yang dulu biasa Aku laksanakan sebelum Aku mengenal sun-nah. Akhirnya, pengawasan mereka, ter-utama kedua orang tuaku terhadapku semakin ketat karena mereka khawatir jika Aku terjerembab ke dalam pema-haman yang sesat.

Kendatipun demikian, aku tidak patah semangat untuk terus me-nyakinkan mereka bahwasanya ilmu syar’i yang selama ini Aku pelajari adalah ilmu yang haq beda dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah Aku pelajari sebelum aku mengenal sunnah yang mana sumber rujukannya itu tidak jelas.

Hingga suatu hari setelah aku tamat dari jenjang SLTA, aku pun memutuskan untuk melanjutkan studiku ke sebuah Ma’had sunnah yang sebelumnya aku pernah menimba ilmu dari Ma’had ter-sebut setiap akhir pekan setelah pulang sekolah, dan memang sebelumnya juga aku sudah sempat menyinggung sejak awal tentang rencanaku untuk menerus-kan studi ke Ma’had tersebut. Pada awalnya keluargaku mendukung tentang ke-putusanku, tapi ketika mereka mendengar isu-isu yang tidak benar tentang Ma’had itu yang dikatakan sesat/mengajarkan ke-pada kesesatan, akhirnya mereka pun mengubah keputusannya dengan tidak merestui aku untuk melanjutkan ke Ma’had, tetapi bukan hanya itu, Aku pun di-baikot oleh keluarga untuk tidak menimba ilmu syar’i lagi di sana dan dilarang untuk tidak lagi berhubungan dengan akhwat yang ada di sana. Mendengar keputusan keluarga itu, pada awalnya aku merasa sangat sedih dan kecewa, sedih karena mereka mengubah keputusannya dan sangat kecewanya lagi karena mereka mudah percaya kepada orang lain ke-timbang anaknya sendiri. Aku pun me-renung sejenak, dan mengambil tindakan untuk meng-sms salah seorang murobiyah.

Beliau memberiku tausiyah agar Aku te-rus bersabar dan senantiasa berusaha bersikap baik kepada keluarga dan ber-bakti kepada kedua orang tua. Beliau mengatakan, “Ukhti… cobalah berkhusnu zhon kepada mereka, mereka melarang ukhti untuk menimba ilmu di Ma’had semata-mata karena mereka khawatir ukhti terjerembab ke dalam ajaran-ajar-an sesat, dan cara untuk dapat mengambil kepercayaannya kembali adalah dengan terus bersabar, bersikap baik kepada ke-luarga dan berbakti kepada kedua orang tua. Buktikan bahwasanya setelah ukhti mengetahui dinul Islam yang haq ini, ukhti menjadi lebih baik dalam segala hal baik dalam hal ibadah, muamalah, birrut walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Sebagaimana Allah telah berfirman kepada hamba-hamba-Nya untuk senan-tiasa berbakti kepada kedua orang tua.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كُِلاَهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
“Dan Rabbmu Telah memerintahkan su-paya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lan-jut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Israa : 23)

Dan tidak mendurhakai mereka, salah satu diantaranya adalah mencaci ayah dan ibu orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah , “Termsuk dosa besar seorang lelaki mencaci kedua orang tuanya, yaitu seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang tersebut balas mencaci ayah dan ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan kita pun jangan lupa untuk terus berdo’a kepada Allah
Yang Maha Membolak-balikan hati untuk memberikan hidayah dhilalah dan Taufik kepada keluarga dan terus berusaha men-dakwahkan mereka kepada ajaran Islam yang haq.

Alhamdulillah..bi’idznillah akhirnya me-reka pun kembali mendukung Aku untuk menimba ilmu di Ma’had, sedikit demi sedikit keluargaku pun mau menerima ilmu yang aku sampaikan walaupun sedikit, dan aku akan terus berusaha dan memohon kepada Allah semoga Dia memberikan hidayah dhilalah dan taufiq kepada keluar-gaku. Karena aku tidak mau hanya diriku saja yang terselamatkan dari api Neraka, sedangkan keluargaku merintih kesakitan akibat siksaan Allah yang pedih, wa ‘iyya dzu billah tsumma Na’udzubillah sebagaimana Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperin-tahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintah-kan. (QS. Tahriim:6)

Oleh karena itu wahai ikhwah wa akhwati fillah, bagi kalian yang baru saja mengenal Islam yang haq dan yang sedang berusaha pula untuk mengamalkannya akan tetapi masih ada cobaan dan ujian yang dihadapi, seperti perlakuan orang tua dan keluarga yang masih menentang dan belum mau menerima ajaran Islam yang haq, janganlah berputus asa dan tetaplah bersemangat, teruslah bersabar, berusaha dan berdo’a kepada Allah karena Dia-lah yang menguasai hati-hati para hamba-Nya, bermunajatlah kepada-Nya agar Dia memberikan hidayah dhi-lalah dan taufiq kepada keluargamu, dan keluarga kita semua. Yakinlah kepada-Nya, karena sesungguhnya Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi, “Sesung-guhnya Aku (Allah ) tergantung persangkalan hamba-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)

NJ (Ma’had Mu’alimat)

Dalam sebuah hadits shohih dari Nabi , beliau bersabda, “Pada hati kiamat akan diseret seseorang lalu dibuang ke dalam neraka, lalu memuncratlah semua isi perutnya. Lalu ia berpputar mengelilinginya seperti keledai mengelilingi penggilingannya. Kemudian penduduk neraka berkumpul melihatnya dan berkata kepadanya, ‘Hai fulan, ada apa denganmu? Bukankah dulu kamu menyeru kami berbuat yang nakruf dan melarang kami berbuat yang mungkar?’ Maka ia menjawab, ‘Ya dulu saya telah menyuruh kalian berbuat yang makruf tapi saya sendiri tidak melakukannya. Saya melarang kalian dari berbuat yang mungkar namun saya sendiri melakukkannya.'”

Ayah –Sang Mentari Pagiku-

“Teteh, coba lihat jari kita, berbeda bukan? Di setiap jari kita sendiri saja sudah beda nak, apalagi dengan jemari orang lain? Garisnya pun berbeda, kau lihat?

Setiap orang itu, punya garis nasib masing-masing, jangan sama ratakan diri kita dengan orang lain, yang penting bagaimana kita bisa memaksimalkan diri dengan potensi yang telah ada pada kita. Kamu boleh mengagumi orang lain, tapi tidak untuk menirunya, karna dirimu adalah diri kamu sendiri nak, bukan orang itu.”

Lamunanku terpecah, ketika ayah –sang mentari pagiku- , berpetuah sesingkat mungkin, namun amat dalam. Mataku pun menerawang jauh ke depan. Melihat pundaknya dari belakang jok mobil, sedikit terlihat pula gurat usia dari pelipis kirinya yang kian nampak, ah, ayah.. mentari pagiku. Selama ini, kadang aku jarang bersua denganmu. Rentang dari aktivitasmu telah habiskan jutaan detik yang seharusnya bisa kau habiskan tuk berdiskusi denganku.

Dan malam ini, sungguh kau telah buatku bahagia. Itulah sebabnya mengapa petuah itu ‘kan teringat lekat, bahkan amat lekat dalam fikirku.

Ayah adalah sosok yang tangguh dan pantang menyerah. Ayah dilahirkan di sebuah kota kecil, kota yang terkenal dengan makanan khasnya –dodol- di kota itulah beliau tumbuh menjadi pemuda yang mengerti kerasnya hidup, karena di usia 16 tahun, orang tuanya bercerai, mengharuskan ayah tuk bisa mandiri dan bertanggung jawab. Jatuh bangun beliau melewati deretan nasib yang telah digariskan. Mulai dari perjuangan untuk kuliah di STT Telkom hingga mendapat beasiswa 3 bulan ke Paris. Semua itu ayah dapatkan bukan dengan mudah, bahkan beliau pun pernah menjadi “tukang bersih-bersih kolam renang” untuk membiayai kuliahnya sendiri, dan kau tahu? Ayah tidak gengsi dengan hal itu! Ya, begitulah -sang mentari pagiku- melewati bukit terjal dalam hidupnya , menjadi tegar tuk dapat terbit dengan indah di ufuk barat. Itulah sebabnnya , mengapa ayah menjadi satu sosok yang amat berpengaruh dalam hidupku. Di balik keras raut wajahnya, tersimpan jutaan awan lembut yang siap mendekap siapa saja yang rapuh. Mengembalikan semangat siapa saja yang berputus asa, dan membuat tersenyum siapa saja yang dirundung galau. Tempaan yang kini ia terapkan padaku, tak sebanding dengan tempaan hidup yang dijalaninya, bahkan lembar yang kutulis kini, takkan cukup tuk gambarkan semua hal tentangnya.
Siapapun, ayah tetap menjadi mentari pagiku, mentari yang sanggup menyinari bahkan menghidupi sekitarnya untuk berusaha, sekalipun rentang waktunya tak bisa selalu untukku. Tapi ku yakin, dalam doa dan harapnya, beliau tetap jadikanku sebagai salah satu bintang harapannya. Bintang yang kan lanjutkan perjuangannya dalam menyinari kehidupan ini. Ya, bintang yang merefleksikan kebaikan, dalam setiap jengkal hidupnya.
“Love U Dad.. CAUSE ALLAH..”
(bintangbiru yang akan selalu menyayangi mentari paginya)

Muslimah Amerika Bicara Hijab

“Wahai saudari muslimah, mari menuju gerbang surga bersama. Penuhi kewajibanmu kepada Allah , kenakan perhiasanmu, kenakan hijabmu, dan berlombalah dalam beramal shaleh untuk menggapai surga Allah.”

Kenapa kita harus menggunakan hijab (kerudung)? Ini pertanyaan yang bagus bukan, dan tentunya ada jawaban yang bagus pula. Allah telah memerintahkan kita sesuatu yang baik buat kita, dan Allah melarang kita dari sesuatu yang itu buruk buat kita. Allah perintahkan wanita muslim untuk mengenakan hijab ketika ia keluar rumah atau ketika ada pria asing. Jadi mengenakan hijab adalah sumber kebaikan buat kalian -muslimah- untuk berbagai alasan, di antaranya:

Kalian telah mentaati Allah . Ketika mengenakan hijab kalian mematuhi perintah Rabb kalian dan kalian bisa mengharapkan pahala yang besar.

Perintah mengenakan hijab adalah perlindungan Allah terhadap kecantikan alami kalian. Kalian begitu berharga untuk dipamerkan kepada setiap pria yang melihat.

Hijab juga penjagaan Allah terhadap kesucian kalian. Allah mensucikan hati dan pikiran kalian melalui hijab. Allah mempercantik luar dalam roman kalian. Pada bagian luar, hijab kalian mencerminkan kemurnian, kesucian, kesederhanaan, rasa malu, ketenangan, daya tarik, dan kepatuhan terhadap Allah . Untuk bagian dalamnya, akan mengeratkan hal yang sama.

Allah memberi kefemininan melalui hijab. Muslimah adalah wanita yang menghormati kewanitaannya. Allah menginginkan kalian untuk dihormati oleh orang lain, untuk itu hormatilah diri kalian sendiri.
Allah menampakkan martabatmu melalui hijab. Ketika pria asing melihatmu, dia akan menghormatimu karena dia melihat bahwa kalian menghormati diri kalian. Allah menjaga kehormatanmu 100% melalui hijab. Laki-laki tidak akan memandangmu dengan cara yang sensual, mereka tidak akan mendekatimu dengan cara yang seperti itu, dan bahkan mereka tidak akan berbicara kepadamu dengan cara yang demikian. Lebih dari itu, laki-laki akan memberikan penghargaan yang tinggi terhadapmu dengan cara hanya memandangmu sekilas-sekilas, seperti pandangan budak terhadap rajanya.

Allah memberimu derajat yang tinggi melalui hijab. Kalian terpandang, tidak direndahkan karena kalian tertutupi tidak telanjang.
Allah memberikan persamaan sebagai muslimah melalui hijab. Rabbmu melimpahkan persamaan yang sederajat dengan laki-laki sebagai rekan dalam hidup dan memberimu hak dan kebebasan sepenuhnya. Dan ini bisa kalian utarakan dengan mengenakan hijab.

Allah memberikanmu peran sebagai muslimah dengan hijab. Kalian adalah seseorang dengan tugas yang penting. Kalian tunjukan bimbingan dan arahan melalui hijab. Kalian adalah seseorang yang mana masyarakat melihatnya dengan serius.

Allah utarakan keindependenanmu melalui hijab. Kalian menetapkan secara jelas bahwa kalian adalah hamba yang berbakti kepada Rabb Yang Maha Agung. Kalian tidak akan patuh kepada seorangpun dan mengikuti cara yang lain. Kalian bukan budak lelaki manapun, bukan budak sebuah negara. Kalian bebas dan mandiri dari semua sistem buatan manusia.

Allah memberi kebebasan bergerak dan berekspresi melalui hijab. Kalian bisa bergerak dan berkomunikasi tanpa rasa takut gangguan. Hijab memberi kepercayaan diri yang unik.

Allah ingin memperlakukan kaum muslimah dengan kebaikan, Allah ingin keindahanmu terpelihara dan tersimpan hanya untuk seorang pria, yakni suamimu. Allah membantumu menikmati pernikahan melalui hijab, karena kamu hanya menyajikan keindahanmu kepada satu orang pria. Suamimu akan bertambah mencintaimu, dia akan lebih mengharapkanmu, dia lebih menghargaimu dan lebih menghormatimu. Maka hijab telah menambah kesuksesan hubungan pernikahan kalian.

Dengan demikian, wanita muslim yang berhijab akan berde-
rajat tinggi dan tidak direndahkan, akan bebas dan tidak dapat ditak-
lukkan, akan suci dan tidak ternodai, akan merdeka dan tidak diperbudak, akan terlindungi dan tidak telanjang, akan dihormati dan tidak akan jadi bahan tertawaan, akan percaya diri dan tidak gelisah, dan menjadi pelaksana hukum bukan pendosa.

Wahai saudari muslimah, mari menuju gerbang surga bersama. Penuhi kewajibanmu kepada Allah , kenakan perhiasanmu, kenakan hijabmu, dan berlombalah dalam beramal shaleh untuk menggapai surga Allah.

Muslimah Connection

BERBAHAGIALAH, WAHAI HAMBA ALLAH!

Air Mata, Sakit Hati = Ujian

Tidak pernahkah kita berpikir bahwa betapa Allah senantiasa membuat kita bahagia? Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa semua air mata dan luka di hati adalah jalan untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah?

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS.Al Baqarah: 214)

Sahabat, mari kita merenung sejenak. Apa yang kita lakukan saat kita sedang bersedih. Dari lubuk hati yang paling dalam, akan muncul sebuah pengakuan. Betapa lemahnya diri kita. Betapa rapuhnya iman kita. Betapa bodohnya kita. Dan betapa kecil kita sebagai manusia. Sebuah keyakinan tercipta bahwa betapa Maha Kuasa Allah atas diri kita. Dia Yang Maha Kaya, Maha Berilmu, Maha Perkasa sekaligus Maha Penyayang. Semua keangkuhan sirna dalam sekejap.

Nah, saat diri rapuh dan tidak berdaya, saat itu pula kita mulai yakin bahwa ada yang lebih segala-galanya di atas kita. Sebuah kesejukan menetes membasahi hati yang terbakar. Ada kelembutan membelai pikiran yang gersang. Sebuah genggaman dahsyat yang membantu kita untuk bangkit kembali, melanjutkan kehidupan yang lebih baik.

Sahabat, begitulah cara Allah membahagiakan kita. Dengan menguji kita lewat berbagai macam penyakit, baik itu penyakit fisik dan sakit hati. Karena penyakit itulah, seseorang akan tersadar dari semua keangkuhan dan mengakui semua kesalahan yang telah kita perbuat dan segera bertaubat. Dengan ujian-ujian itu pula kita sebagai manusia merasa sangat kecil, merasa diri ini betul-betul seorang hamba yang bergantung hanya kepada Allah. Saat kita tersadar dari segala perjalanan dosa, mulailah kita memperbaiki kualitas ibadah kita dan mendekatkan diri kepada Allah.
Betapa Allah sangat mencintai hambanya. Betapa Allah ingin kita berada dekat dengan-Nya. Bukankah kebahagian itu jika kita berada dekat dengan yang kita cintai? Dan hanya Allah-lah yang memiliki cinta sejati itu.

Nikmat Allah selalu lebih besar dari cobaannya.

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah:2-3)

Allah Maha Pemurah. Allah Maha Penyayang. Cobalah hitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Seumur hidup kita tidak akan sanggup karena saking banyaknya. Lalu apa yang kita khawatirkan? Apa yang membuat kita gelisah?

Kita pasti mengetahui bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Bahkan nyawa kita adalah milik-Nya. Mengapa hanya karena kehilangan kaki seseorang merasa kehilangan segala-galanya? Bukankah ia masih memiliki anggota badan yang lainnya? Mengapa setelah ditinggal kekasih, seorang pemuda atau pemudi menjadi frustasi? Bukankah jodoh itu sudah diatur oleh Allah? Mengapa hanya karena tidak lulus ujian seorang siswa rela menghilangkan nyawanya? Bukan, bukan itu tujuan Allah memberi kita penyakit.

Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Pemurah. Nikmat yang Allah berikan selalu lebih besar dari cobaan-Nya. Bukankah orang yang kakinya buntung masih mempunyai tangan untuk menggenggam, masih mempunyai mata untuk melihat kebesaran Allah, masih dapat mendengar seruan Allah? Bukankah orang yang buta sekalipun juga diberi kelebihan oleh Allah dengan insting yang kuat? Lalu apa yang harus kita sesali dengan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan? Apa yang membuat kita bersedih?

“Maka, nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman:13)

Yakinlah, bahwa di balik setiap tetes air mata, selalu ada sejuta senyum yang menanti. Di balik sayatan luka di hati, selalu ada sejuta kebahagiaan yang siap menyambut. Dan yakinlah, bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Allah…

Intan dalam Duri

“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah:5-6)

Jalan menuju kebahagiaan memang tidaklah selalu mudah. Ada saja rintangan yang menghadang. Setan bekerja keras melaksanakan tugasnya. Menggoda manusia, memberi was-was ke dalam hati mereka. Bagi orang yang lemah imannya, kurang cintanya terhadap Allah, pastilah dengan senang hati mengikuti bujuk rayu dan tipu daya para setan. Sebaliknya, orang-orang yang begitu mencintai Allah akan menempuh jalan merintang sekalipun. Dan orang-orang seperti itulah yang akan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan. Menjadi pemenang atas godaan setan, berhasil membuktikan penghambaannya kepada Allah dan menjadi bahagia karena pahala yang dicurahkan kepadanya serta kemenangan yang terbesar adalah saat perjumpaan dengan Allah.

Untuk mencapai sebuah kebahagiaan, di perlukan pengorbanan dan kerja keras. Jangan mudah putus asa mencari rahmat Allah. Ibaratkan Dia memberikan kita sebuah hadiah berupa sebongkah intan tetapi hadiah tersebut di bungkus dengan kertas berduri. Apakah kita punya nyali untuk membukanya? Mungkin tangan kita akan berdarah, mungkin juga tidak. Dengan petunjuk cara membukanya, kita akan selamat dari duri-duri dan berhasil membuka hadiah tersebut. Akhirnya kita mendapat isi dari kotak itu.

Sama seperti dalam kehidupan, segala rintangan untuk mencapai sebuah kebahagian pastilah ada. Kalau rintangan tersebut kita anggap sebagai penghalang, ia akan betul-betul menghalangi langkah kita. Tapi, jika kita menganggap mereka sebagai tantangan, itu jauh lebih baik. Dalam menghadapi tantangan, kita harus menggunakan ilmu sesuai dengan petunjuk Allah. Dengan ilmu itulah kita dapat keluar dari permasalahan yang ada dan memperoleh hadiah yaitu kebahagiaan.

Cara Berbahagia

1. Syukur

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya, jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat_Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Orang-orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur hidup akan menjadi lebih bahagia. Syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Tidak lupa bersyukur atas apa yang telah kita peroleh di masa lalu. Jangan mencari yang tidak ada, jangan meresahkan kelebihan orang lain karena Allah juga telah menitipkan potensi ke dalam diri kita untuk dikembangkan.

Banyak orang yang terjebak di masa lalu. Menangisi kegagalannya, menyesali kesalahan-kesalahan saat itu. Kita harus berhati-hati. Sebesar apapun penyesalan kita, masa lalu tidak akan kembali dan tidak akan terulang lagi. Jangan sampai kegagalan membuat kita sedih berkepanjangan. Jangan sampai musibah yang kita alami membuat kita lalai dan melupakan semua nikmat yang telah Allah berikan, kufur atas nikmat Allah. Jangan pernah sedetikpun lidah kita absen dari ucapan syukur, memuji Allah Yang Maha Pemurah.

Masa sekarang adalah sebuah kenyataan. Tepat berada di hadapan kita. Bersyukurlah karena hari pagi ini kita masih bisa menghirup udara bebas, bersyukur akan hidangan yang lezat di depan kita, bersyukur karena kita dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang menyayangi. Bersyukur atas semua cinta yang telah diberi Allah kepada kita. Bersyukurlah agar kita menjadi orang yang paling bahagia.

2. Ikhlas

Ikhlas karena Allah. Kalimat yang mudah diucapkan namun kadang dalam prakteknya bertentangan. Mulailah dengan niat karena Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu bekerja, mencari nafkah atau belajar adalah ikhlas demi mendapatkan ridha Allah semata.

Tidak sedikit orang yang menyia-nyiakan usaha kerasnya. Mengapa sia-sia? Karena tujuannya bukan karena Allah. Tujuannya hanyalah mencari kesenangan dunia semata. Kalau sudah tujuannya dunia, orang-orang seperti itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun kebahagiaannya itu semu dan hanya sesaat. Dan balasannya pun bisa berupa murka Allah di dunia dan di akhirat.

Gantungkan tujuan dan cita-cita kita hanya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah Yang Maha Pemberi, Allah Yang Maha Penyayang. Hanya Allah yang dapat membalas semua perbuatan kita.
Orang-orang yang bekerja dan hanya mengharapkan ridha Allah, merekalah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Setiap langkah adalah ibadah ikhlas kepada Allah dan setiap ucapannya adalah dzikir, perkataan yang baik, serta nasihat-nasihat kepada sesama. Begitulah, orang-orang yang berjuang dengan niat yang ikhlas mengharapkan ridha Allah, senantiasa menjaga perilakunya

Selain pada niat, ikhlas juga akan tercermin pada sikap yang mudah memaafkan. Bagaimana kita melupakan semua kesalahan orang yang pernah menyakiti. Sulit memang, tapi yakinlah kalau kita bisa!

Bergurulah pada Nabi Muhammad . Bagaimana beliau yang lembut hatinya dengan sabar menerima semua ejekan dan cacian dari orang-orang kafir saat menyebarkan Islam. Pada saat salah satu dari orang kafir tersebut jatuh sakit, apa yang dilakukan kekasih Allah ini? Beliau datang kerumah orang itu, menjenguknya. Subhanallah! Luar biasa! Begitu besar rasa ikhlas untuk memaafkan pada diri Rasulullah. Tidak ada dendam sedikit pun. Dengan ikhlas hati kita menjadi lapang. Dengan kelapangan tersebutlah kebahagiaan akan didapatkan.

3. Sabar


“Hai orang-oang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah:45)

Sabar dalam menjalani kehidupan akan tercermin pada pribadi yang lapang dada, tabah, dan pantang menyerah. Sabar bukan berarti menerima begitu saja dan menunggu datangnya keajaiban.

Sabar dalam bekerja, mencari nafkah adalah mengerahkan segala upaya, pantang menyerah, memaksimalkan potensi untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Sabar dalam menuntut ilmu adalah dengan tekun belajar, mengatur waktu dengan baik, memahami dan mencerna pokok-pokok yang diajarkan dan yang lebih penting adalah mengamalkannya di jalan Allah .

Dengan kesabaran, jiwa kita akan terasa lapang. Keyakinan akan janji Allah semakin kuat. Orang-orang yang sabar akan berdiri laksana gunung yang kokoh menancapkan kakinya, berjalan di jalan yang diridhai Allah. Akhirnya, orang-orang yang sabarlah yang akan menjadi pemenang dan berbahagia.

4. Berpikir Positif

“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku.” (Hadist Qudsi)

Pikirkanlah yang indah-indah, maka hidupmu akan menjadi indah. Berpikir positif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita dapat menciptakan sebuah semangat untuk menjalani hidup ini.

Jika kita senantiasa berpikiran negatif, segala sesuatu yang kita kerjakan pun akan bernilai negatif. Contoh, ada seseorang yang berpikiran bahwa musibah adalah sesuatu yang menyakitkan, musibah adalah penghalang untuk mencapai cita-cita, kemudian disikapi dengan berkeluh kesah dan bersedih terus menerus. Apa yang terjadi kemudian? Bisa jadi orang tersebut akan mengalami gangguan jiwa seperti stress dan depresi. Belum lagi fisik yang semakin lemah akibat hilangnya nafsu makan. Sungguh rugi orang-orang yang mempunyai pikiran negatif.

Orang-orang yang mempunyai pikiran positif akan menganggap musibah itu sebagai ujian dan tantangan. Bisa jadi mereka berpikiran bahwa musibah itu adalah hadiah untuk mendekatkan diri kepada Allah . Semangat dan optimis akan tercipta dalam setiap langkahnya. Dengan jiwa yang optimis itu pula, orang yang berpikiran positif akan senantiasa mengembangkan potensi dalam dirinya, untuk menjadi pribadi yang unggul. Sungguh bahagialah orang-orang yang senantiasa berpikiran positif.

5. Berbuat Baik

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran:110)

Marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat baik agar kita bahagia. Berbuat baik pada diri sendiri seperti memperbaiki kualitas shalat, mengkaji Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Shalat yang khusyuk akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang. Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an kita bisa menemukan rahasia kehidupan ini. Berbagai macam ilmu ada di dalamnya. Itulah yang membuat kita menjadi orang yang cerdas.

Berbuat baik kepada orang lain adalah wajib hukumnya. Berbuat baik kepada orang tua dengan menjadi anak yang saleh/salehah. Menyambung tali silaturahmi, tersenyum kepada orang lain, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, saling menasehati untuk berbuat baik dan menegur teman yang berbuat salah.

Bersedekah juga salah satu cara untuk berbuat baik kepada orang lain. Dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain. Kekayaan kita bukan tercermin pada berapa banyak saldo tabungan di bank, bukan seberapa tinggi tumpukan emas di lemari, bukan pula berapa banyak mobil mewah yang diparkir di garasi mobil. Kekayaan kita dapat dilihat dari berapa banyak yang telah kita beri kepada orang lain, baik itu harta benda ataupun ilmu yang bermanfaat, ikhlas karena Allah.

Apa yang kita rasakan saat memberi seorang pengemis selembar uang seribuan dan tersenyum bahagia karenanya? Bahagia bukan? Kebahagiaan kita terletak pada bahagia orang lain. Jika kita membahagiakan diri sendiri, kita hanya mempunyai satu point bahagia. Jika kita membahagiakan sepuluh orang, maka kita mempunyai sepuluh point bahagia. Jadi berbuat baiklah kepada semua orang, tentunya dengan hati yang ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

6. Percaya Akan Janji Allah

“Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)

Percayalah kepada Allah. Jangan ada keraguan sedikitpun di hati kita. Mungkin apa yang kita peroleh saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Yakinlah bahwa itulah yang terbaik buat kita. Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya yang berbuat baik.

Allah memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Dia akan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Semua kebutuhan sebagai bekal untuk bertemu dengan-Nya sudah tersedia. Hanya saja kita yang tidak melihat atau bahkan tidak peduli dengan seruan tersebut.

Jadi, berdoa dan berbuat baik adalah kuncinya. Setelah itu, serahkan semua kepada Allah Yang Maha Adil. Bisa jadi kita tidak akan menerima imbalan di dunia. Hadiah tersebut akan kita terima di akhirat kelak. Dan yakinlah, hadiah itu pasti lebih indah dari dunia dan isinya. Pertemuan dengan Allah.

Sri Aliah Ekawati-Bandung

Peran Muslimah Dalam Dakwah

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kubuka lembaran pagi dengan menyebut asma-Mu Yang Maha Tinggi. Ku coba meniti hari dengan kesucian hati, meski sungguh selaksa dosa masih melekat di jiwa. Kucoba merenda masa depan dengan benang harapan dan jarum ketulusan. Meski kadang perih menusuk, perjuangan ini harus tetap berlanjut.

Terbentang di depan mata padang ujian kehidupan, luas…, seolah tanpa batas, namun fana seumur akal yang sempit. Ia tak dapat diarungi oleh jiwa-jiwa yang kerdil iman, karena panasnya nafsu telah menyeretnya ke lembah-lembah oase fatamorgana. Namun, hati yang bertabur syukur, penuh kerinduan kepada Rabbnya, berhiaskan cahaya iman akan menuntunnya menuju negeri akhir kebahagiaan.

Wahai saudariku kaum muslimah, engkau laksana pilar kebijaksanaan. Di tanganmulah kelak tumbuh generasi-generasi yang tangguh. Di pundakmu ada amanah besar, bersamanya tersimpan berjuta asa, penentu arah sebuah generasi menuju kejayaan umat.
Wahai kaum muslimah, engkaulah calon-calon ibu masa depan. Ada ketegaran di balik kelembutanmu. Tersimpan jiwa ksatria di balik lemah tubuhmu. Sungguh Islam telah memuliakanmu. Dengan indah, Rasulullah menggambarkan betapa agung engkau wahai ibu… Ketika suatu saat salah seorang sahabat Beliau bertanya tentang target bakti paling tinggi (Setelah Allah dan Rasul-Nya)? Lantas beliau menjawab “Ibumu,” lalu kepada siapa lagi? “Ibumu”, kemudian? “Ibumu”, kemudian? “Ayahmu”.
Begitulah Islam telah menempatkanmu pada kedudukan yang mulia, di saat dalam agama dan bangsa lain engkau dihina dan direndahkan.

Saudariku! Hidup ini bukan tanpa makna dan tujuan. Sebagaimana firman Allah yang tersirat dalam Al-Qur’an Al-Karim, bahwa tujuan dari penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada Allah.

Dikatakan juga oleh Imam Hasan Al-Bashri, bahwa hidup ini adalah perjuangan. Hidup takkan berarti tanpa perjuangan, perjuangan takkan berarti tanpa pengorbanan, pengorbanan takkan berarti tanpa kesabaran, dan kesabaran takkan berarti tanpa keimanan.

Ketika hidup ini diuji, maka dimulailah suatu perjuangan. Perjuangan untuk menundukkan nafsu dan angkara yang ada dalam jiwa kita. Akan sanggupkah jiwa ini tetap kokoh dalam keimanan? Atau justru terperosok dalam lembah keputusasaan. Tidak salah lagi, di sinilah dituntut adanya kesabaran dan pengorbanan, yakni pengorbanan atas perasaan kita dari nafsu atau keinginan yang tak pernah puas. Keinginan untuk terus dalam basuhan kenikmatan, keinginan untuk terus larut dalam lautan sanjungan.

Saudariku… Berbahagialah engkau, ketika wanita- wanita lain larut dalam kemaksiatan, berlomba meraup kebahagiaan semu di luar sana dengan mengobral aurat mereka, engkau tetap di rumah menjaga kesucian dirimu. Ketika wanita lain berhias dengan mode ala Baratnya, engkau sibuk berhias mempercantik diri dengan balutan ilmu dan ketakwaan.

Saudariku Kaum Muslimah, engkaulah madrasah awal pendidikan umat, dari rahimmu akan lahir generasi baru yang siap memikul amanah dakwah dan menegakkan panji- panji Al-Haq, dalam naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka persiapkanlah dirimu. Isilah jiwamu dengan ruh iman, dan biarkan mutiara-mutiara berhamburan dari lisanmu yang bersih, tertata dengan indah menjadi bingkai-bingkai pekerti yang luhur, yang senantiasa mengingatkan umat dari kelalaian.

Saudariku… Marilah sejenak menata diri. Menengok sekilas perjalanan para shahabiyah, yang keindahan perjuangannya telah tertulis dengan tinta emas dalam sejarah. Seperti ibunda Khadijah seorang isteri sekaligus partner dakwah Rasulullah . Ia tak pernah lelah membantu dakwah Rasulullah, dengan memberikan bantuan secara moril dan materil. Al-Khansa yang telah merelakan ke empat puteranya menjadi Jundullah, sehingga mereka syahid dalam pertempuran membela agama Allah. Atau Sumayyah syahidah pertama dalam Islam. Karena keteguhan iman serta kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, ia merelakan diri dan keluarganya menerima pedihnya siksaan kaum Quraisy, hingga menemui kesyahidan.

Ingatlah kembali… di dalam lembaran Al-Qur’an pun Allah menyebutkan beberapa wanita mulia yang namanya tetap harum dalam bingkai sejarah umat yang sekaligus Allah jadikan teladan bagi kita. Seperti Asiyah, isteri yang mulia dari seorang raja yang lalim, yakni Fir’aun. Kekuasaan dan kelaliman suaminya tidak mempengaruhi kekuatan iman di hatinya, bahkan semakin berkilau dalam tempaan ujian.

Asiyah adalah seorang wanita yang diuji dengan dua keadaan, antara tetap menikmati segala kemewahan yang selama puluhan tahun telah ia reguk namun tetap dalam kekufuran ataukah meninggalkan segala kenikmatan itu dengan menerima keimanan sebagai penggantinya dan siap menanggung segala konsekuensi yang ia sadari akan diterima. Ini adalah situasi yang sulit yang kebanyakan wanita pada saat ini tidak sanggup melakukannya. Bersabar dari kemiskinan saja sudah sulit, apalagi jika harus bersabar dari tidak menikmati kemewahan yang biasa dinikmati dan meninggalkannya demi Allah semata.

Oleh karenanya, pilihan Allah sangatlah tepat dengan menjadikan Asiyah sebagai tauladan bagi kita. Karena ia lebih memilih apa yang di sisi-Nya ketika banyak para wanita pada saat ini menanggalkan keimanannya demi mereguk kenikmatan dunia yang sesaat. Alangkah baiknya jika kita bisa seperti Asiyah dan sering-sering memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai wanita yang berharga di sisi-Nya.

Begitupun halnya dengan ibunda Nabi Isa , Maryam. Ia seorang wanita Shalihah yang teguh menjaga kesucian dirinya. Kehidupannya banyak dihabiskan untuk beribadah kepada Rabb-nya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah teladan dari para shahabiyah, maupun generasi setelahnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in, yang jiwanya bercahaya dalam kilauan iman. Hingga membuat dunia berdecak kagum, mengenal keagungan pribadi mereka.

Sekarang saudariku…, masih adakah pribadi- pribadi para shahabiyah tersebut melekat dalam diri-diri kita? Memang terlampau sukar untuk kita bisa menyerupai mereka. Namun sebuah usaha untuk bisa meneladani mereka adalah bukti dari kesungguhan kita dalam meniti kebajikan, sebagai buah dari keimanan. Dakwah kita pun dalam keluarga dan masyarakat merupakan salah satu wujud merealisasikan keimanan.

Dakwah tidak berarti harus selalu tampil di depan umum berceramah. Dengan selalu mendukung dan menyemangati suami dalam berdakwah, Atau mempersiapkan anak- anak kita sebagai tunas-tunas baru dalam dunia dakwah. Mendidik dan mengarahkan mereka hingga benih- benih keimanan mengakar dengan kuat dalam jiwa-jiwa mereka. Ataupun senjata kita cuma pena dan lembaran- lembaran kertas, yang mengajak umat untuk kembali pada Al-Haq. Itu semua merupakan upaya- upaya di jalan dakwah.

Saudariku… Alangkah bahagianya bila kita bagian dari dakwah, mengajak umat pada kebaikan. Karena seperti yang telah dikatakan Rasulullah , bahwa satu orang yang mendapatkan hidayah dengan perantaraan kita, maka hal itu lebih baik dari unta merah. Yang mana unta merah merupakan binatang paling mahal dan mewah di masa Rasulullah . Maka bersegeralah dalam kebaikan. Meski bekal yang kita punya sedikit, namun jangan sampai menghalangi kita untuk berjuang di jalan dakwah. Karena dakwah adalah tugas kita, sekecil apapun semoga Allah membalasnya. Bukankah pahala di sisi Allah lebih berharga dibanding dunia dan isinya.

Seorang Muslimah yang dalam jiwanya mengakar kuat keimanan, maka akalnya akan tajam membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Tempaan tarbiyah imaniyah akan mengokohkan tekadnya, lurus tidak terpengaruh arus zaman. Ia laksana permata di antara batu-batu sungai, kecil tersembunyi namun kilauannya dapat menyinari sekelilingnya.

Saudariku… Dengan kemampuan yang serba terbatas, marilah kita berusaha memberikan yang terbaik bagi umat, bersama meretas sebuah masa depan. Diiringi niat tulus dan untaian doa yang tersusun dalam bingkai keikhlasan, Semoga Allah menjayakan umat ini dan melindunginya dari segala makar kaum kuffar.

          •

Waallahu ‘alam bisshawab.

Eri Choiriyah

Surat dari Ukhti

Hari Senin 15 Desember 2003, aku melakukan hal yang paling benar yang pernah aku lakukan dalam hidupku, aku mulai berhijab.

Tak terkira rasa senangnya hatiku ketika akhirnya kukenakan juga hijab itu setelah melalui berbagai rintangan dan tentangan dari sana sini. Keesokan harinya, setelah upacara sekolah aku mendapatkan sepucuk surat dari salah seorang ukhti yang saat itu adalah kakak kelasku. Hatiku berdebar-debar apa yang ditulis ukhti Hanif ini untukku, namun aku tidak begitu cemas karena ia salah satu yang memotivasiku untuk berhijab.

Lalu kubuka surat itu, isinya…

“Bismillah Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah karena sampai saat ini kita masih dan semoga tetap diberikan nikmat iman dan kesehatan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswah kita Rasulullah , keluarga, para sahabat, dan kita semua selaku pengikutnya hingga yaumul akhir.
Amien…………..

Adikku…, Alhamdulillah sekarang anti telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengenakan hijab. Secara dzahir anti telah berhijab, tinggal sekarang apakah hati dan sikap anti juga berhijab sebagaimana dzahir anti. Semoga jawabannya “InsyaAllah, menuju ke sana mbak!”. Bahwasanya seorang muslimah itu tidak dikenal karena dia berhijab, tanpa mengetahui untuk apa dia berhijab? Untuk siapa dia berhijab? Dan bagaimana hakikatnya hijab yang ia pakai?

Dik, ana terkejut saat upacara tadi, untuk pertama kalinya ana lihat anti pakai hijab lebar. Setelah ana terkejut, ana mulai senang, bangga, terharu dan berubah menjadi takut. Ana senang karena ada adik ana yang lain. Ana berharap semua perubahan ini didukung dengan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang senantiasa cocok mendampingi eksistensi keberadaan hijab lebar itu.

Ana bangga, karena di zaman yang serba Hedonis, zaman yang menganggap bahwa orang yang benar-benar menjalankan syari’at Allah malah dituduh sesatlah, ekstrimlah, eksklusiflah, dan masih banyak lah-lah yang lain.

Ana terharu, karena masih ada orang yang berani tampil beda yaitu berhijab lebar.

Dan ana juga takut, apakah kita mampu mempertahankan hijab kita ini, karena seseorang memutuskan untuk berhijab maka dia harus mempertahankan hijab itu baik kesucian maupun keeksistensiannya melekat pada tubuh kita. Tapi ana yakin Allah akan menolong hamba-Nya yang menegakkan dan menjalankan agama-Nya.

Adikku…, ana punya cerita, semoga dengan deskripsi cerita ini semakin memberikan kekuatan kepada kita untuk menetapi kebenaran.
Dia seorang muslimah yang berhijab lebar. Dia mempunyai semangat untuk menegakkan agama Allah bahkan cita-cita menjadi seorang da’iyah dan istri yang shalehah. Di sekolah maupun di rumah dia senantiasa berhijab jika bertemu dengan yang bukan mahramnya. Dia berusaha menundukkan pandangan dan menolak berjabat tangan, tatkala bertemu dengan yang bukan mahramnya. Walaupun begitu, banyak teman-temannya, orang tuanya, saudaranya, dan tetangganya, menganggap dia ninja, teroris, Islam garis keras dan masih banyak tuduhan yang tidak layak untuknya.

Alhamdulillah sampai saat ini dia masih tetap istiqomah dengan keputusan dan keyakinannya itu.
Katanya dia mempunyai trik-trik khusus untuk menguatkan imannya itu, katanya sebagai berikut:
Akrab dengan Al-Qur’an (tilawah, tadabur dan hafalan). Menjalankan shalat sunnah (dhuha, rawatib dan shalat lail (tahajud, witir, dll)) serta berusaha menjalankan puasa sunnah. Berteman dan berdampingan dengan orang-orang yang sepaham dan sepemikiran dengannya. Membaca buku-buku keislaman. Aktif ikut Majelis Ta’lim (kajian).

Itulah sekelumit cerita tentang akhwat itu, kita doakan dia semoga tetap istiqomah sampai akhir hayat dalam meniti jalan kebenaran. Dan semoga kita bisa meniru sikap dengan segala kelebihannya, amin…

Saudariku…, jadilah seorang muslimah dambaan umat yang dicintai Allah, paling tidak menjadi muslimah yang hanya dicintai Allah, walaupun dibenci dan dicaci oleh umat manusia lain, yang mempunyai keterbatasan ilmu untuk memahami Islam secara kaffah. Marilah kita sama-sama mendekatkan diri kepada Allah, selangkah kita mendekat pada-Nya maka seribu langkah Allah akan mendekati kita. Insya Allah,
Ini dulu yang dapat ana sampaikan. Bila ada kebenaran datangnya dari Allah bila ada kesalahan datangnya dari ana sendiri. Afwan jiddan (maaf yang sebesar-besarnya) bila ada salah kata dan jazakillah atas semuanya.

Your ikhwah

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”

Jazakillah khairan ya ukhti, sudah sejak 5 tahun yang lalu aku tetap menyimpan surat ukhti, dan surat ini selalu bisa mengingatkanku. I miss you ukhti, ana uhibbuki fillah.