Ujian Penjara Dunia

“Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan sebagai surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)

Dunia adalah penjara.. benarkah? Mari kita cermati. Gunakan cara pandang berbeda. Koleksi kreasi bangun percaya diri. Seperti kisah di bawah ini.

Laki-laki itu seorang ulama di zamannya. Pengarang kitab yang amat terkenal, Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari. Siapa dia? Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.

Suatu hari sebagai qadhi, ia berkendara dengan keledai yang bagus. Pakaiannya bagus. Performanya meyakinkan. Saat melintas di sebuah pasar, tiba-tiba seorang Yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali kekang keledai sang Imam, seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘Dunia itu penjara bagi orang-orang beriman, dan surganya orang kafir.’ Dengan penampilan Anda yang seperti ini, Anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang begini ini, saya berada surga seperti apa?”
Ibnu Hajar menjawab, dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seolah dalam penjara. Engkau dengan kondisimu seperti itu, dibandingkan dengan siksa dan hukuman yang Allah ancamkan di akhirat nanti sekarang berada di dalam surga.

Luar biasa! Mendengar jawaban tersebut , Yahudi spontan menyatakan masuk Islam. Sehebat apapun orang mukmin di dunia, ia masih berada dalam ‘penjara keterbatasan’. Segembel apapun orang kafir, mereka masih di surga, sebab masih ada neraka menyala menanti mereka.

Berpikirlah merdeka. Jadikan pesona dunia sebagai inspirasi surga, seperti Imam Ibnu Hajar. Merdeka, jangan penjarakan dirimu dalam jeruji maksiat.

Wahai pengembara di penjara dunia, jadilah orang asing, pelancong. Nikmati wisata dunia sekedarnya. Kita pasti kembali.

“Jadilah engkau di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang dalam perjalanan.” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di waktu sore, maka jangalah mengharapkan akan hidup di waktu pagi. Dan jika kamu pada waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Pergunakalah masa sehat itu untuk bekal masa sakit, dan masa hidup untuk bekal kematian.” (HR. Bukhari)

Waktu di dunia ini adalah sama dengan waktu di sekolah. Ia sama dengan kampus kehidupan, ‘University of life’. Afghanistan, Irak, Palestina, Chechnya adalah universitas jihad. Para alumninya kini berbahagia di surga, insyallah. Pasar adalah kampus kejujuran. Kantor sebagai kampus pelayanan. Jalanan kampus pengendalian diri.

Pemukiman kumuh kampus kepedulian. Di mana masing-masing tempat memiliki ujian-ujian, maka pekalah dengan waktu yang disediakan. Manfaatkan untuk investasi abadi, amal shalih.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dan ujian itu bukan mustahil. Ia bisa ditempuh, asal sungguh-sungguh. Bila ujian itu mustahil tentu tidak berguna, tidak bisa untuk membedakan antara prestasi dan frustasi. Padahal Allah berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Menurut Sayyid Quthub, ujian adalah tanggung jawab pribadi yang mesti diemban. Ujian adalah pembangkit himmah atau hasrat dan semangat untuk membentuk manusia menjadi pribadi utuh dan positif. Manusia adalah manusia, bukan malaikat, bukan pula hewan atau setan. Manusia adalah makhluk mulia, karena Allah memuliakan dan menyempurnakan ciptaanNya. Ia lebih mulia daripada malaikat, sebab diberi akal untuk bersyukur dengan menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hatinya. Namun ia bisa jatuh terhina seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi, bisa menjadi setan durjana terlaknat karena akal pikirannya tak bermanfaat.

Bagi orang mukmin, telah dijadikan mudah penjara dunia ini untuk dilewatinya. Mereka yakin, mereka mengembalikan ujian-ujian yang dihadapi kepada yang memberikannya. Dan kelak hanya kepadaNyalah mereka dikembalikan. Mereka yakin akan kembali kepada Allah .

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepadaNyalah kalian (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)  wallahu a’lam

Sumber: The Way to Win (Solikhin Abu Izzuddin)

Jangan Setengah-Setengah, Lanjutkan! Lebih Taat Lebih Baik

Jangan Setengah-Setengah, Lanjutkan! Lebih Taat Lebih Baik

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang
telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”
(QS. Al-Haqqah: 24)

Memahami agama ini adalah sesuatu kewajiban. Dengannya kita bisa beribadah kepada Allah berdasarkan ilmu dan hujjah. Men-jalankan segala amal ketaatan yang dilakukan dengan penuh pengharapan meraih berkah penghargaan menuju kemenangan. Sungguh tidak sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Ketahuilah, diceritakan, pernah ada seorang yang shalih dan sangat banyak melaku-kan shalat tahajud dan puasa. Suatu malam ia shalat di suatu masjid dan tertidur. Dalam tidurnya itu ia bermimpi melihat rombongan yang ia keta-hui bahwa rombongan tersebut bukan berasal dari jenis manusia. Mereka membawa roti yang putih bagaikan salju. Di atas roti itu terdapat berlian seperti delima. Rombongan itu lalu berkata, “Makanlah!” Orang shalih itu menjawab, “Sesungguhnya aku ingin berpuasa.” Mereka berkata pula, “Pemilik rumah ini (masjid) memerintahkan kepadamu untuk makan.” Orang shalih itu lalu berkata, “Maka akupun memakan makanan itu, dan mengambil berlian tadi untuk aku bawa.” Namun mereka berkata, “Biar-kanlah berlian itu, kami akan menanamnya untukmu hingga menjadi pohon dan memberikan kebaikan kepadamu.” Orang shalih itu berkata lagi, “Di manakah itu?” Rombongan itu berkata, “Di tempat yang tidak akan ambruk, buah yang tidak berubah, serta kepemilikan yang tidak akan terputus dan pakaian yang tak akan lusuh. Di dalamnya terdapat perkara yang membuat hati ridha, menyejukkan mata, istri-istri yang selalu rindu dan membuat ridha, mereka tidak memperdaya dan tidak terpedaya. Hendaklah engkau tetap dengan keadaanmu saat ini, karena sesungguhnya tak lama lagi eng-kau akan berangkat menuju kemenangan” Akhirnya, hanya jarak dua pekan setelah mimpinya itu, orang shalih itupun menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pada malam wafatnya, salah seorang sa-habatnya yang mendengar kisahnya tadi bermimpi melihatnya, dan orang shalih itu berkata kepada sahabatnya ini, “Janganlah engkau heran akan pohon yang ditanam untukku pada hari kuceritakan hal itu pa-damu. Dan kini pohon itu telah membawa sesuatu.” Sahabatnya lalu bertanya, “Apa-kah yang ia bawa?” Orang shalih itu men-jawab, “Janganlah engkau menanyakan hal itu karena tidak ada seorang pun yang dapat menggambarkannya. Tidak ada penghargaan seperti ini dari Dzat Yang Maha Mulia, bila datang kepada-Nya orang yang taat.”
Keutamaan-keutamaan ilmu penge-tahuan telah kita ketahui bersama, Allah pun akan mengangkat derajat orang yang memiliki ilmu pengetahuan kepada dera-jat yang tinggi. Lebih lagi dari ilmu sese-orang itu memancarkan cahaya yang ber-manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, sehingga terkesan orang seperti ini tidak ingin shalih sendiri, tapi juga mendakwah-kannya, mengembangkannya bersama dengan orang-orang di masyarakatnya.
Semakin banyak manusia yang meng-esakan Allah karena perantara perbuatan seorang hamba, semakin Allah mencintai hamba tersebut. Seperti di bulan ini, bu-lan penuh dengan rahmat yang telah kita raih –insya Allah-, bulan yang penuh am-punan serta janji pembebasan seseorang dari ancaman neraka, mengajak manusia kepada kembali mengibadahi Allah se-mata di dalamnya, akan membuahkan penghargaan yang banyak dari Dzat Yang Maha Mulia. Betapa tidak, akan semakin banyak orang sebagaimana orang yang shalih dalam kisah di atas tadi. Dan ya, merekalah orang-orang yang menang, mereka yang datang ke-pada Allah hanya orang-orang yang taat beribadah.
Berpuasa
Beberapa hari sudah kita puasa. Puasa yang tidak hanya menjadikan pe-rut lapar dan kerongkongan dahaga, na-mun dijadikan juga sarana pembelajaran dalam melatih kesabaran kita. Minimal-nya pada tiga hal, pertama, kita bersabar dalam ketaatan. Hingga sekarang dan insyaAllah beberapa hari lagi ke depan, kita senantiasa menambah macam peri-badatan, yang mana itu suatu ketaatan, jika diperuntukkan hanya wajah Allah sebagai tujuan.
Kedua, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, jika masih kita dapati orang-orang bermaksiat di bulan Rama-dhan sedang setan-setan dibelenggu, ini hanya sebuah pembuktian, betapa ren-dah derajat dan lemahnya iman seseo-rang, karena yang dibelenggu itu adalah setan durjana. Selain syahwat yang tetap ada pada setiap insan hanya jenis setan amatiran yang berkeliaran.
Dan ketiga, sabar dalam menghadapi segala derita berupa rasa lapar dan da-haga serta kelemahan yang menimpa jiwa maupun raga. Mungkin ini bagian dari takdir Allah , seperti tertimpa ber-bagai musibah yang kita dituntut bersabar atasnya, dan memang begitu. Kita pun jadi tahu, merasakan jadi orang fakir atau miskin yang menghadapi kondisi lapar dan dahaga selalu.
Alhamdulillah kita bisa bersabar, dan mudah-mudahan Allah membalas dengan lipatan-lipatan pahala-Nya. “Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang mem-bangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepa-da musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Berdiri Hidupkan Malam
Berdiri di sini tidak sembarang. Se-perti yang sudah biasa banyak dilakukan, malam-malam berkeliaran di pinggiran jalan tanpa arah manfaat dan tujuan, alasannya ingin ikut serta meramaikan. Bukan meragamkan macam peribadatan, ini membuang uang senangkan anak nyalakan petasan. Siapa bilang? Kalau-pun anak senang, tunggu saja anak akan lebih merepotkan.
Berdiri di sini lebih dikenal dengan qiyam. Qiyam ramadhan, berdiri shalat hidupkan malam. Shalat ini adalah sha-lat sunnah tarawih, yang Nabi contoh-kan mengerjakannya sebagai salah satu ibadah tambahan. Baik secara berjama’ah maupun sendirian, namun lebih utama berjama’ah.
وَمِنَ اللََّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
“Dan pada sebahagian malam hari ber-sembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa: 79)
Kita bukan mereka yang disebut se-bagai penipu shalat tarawih, bukan? Ka-rena banyak terjadi di negara-negara yang mayoritas masyarakatnya muslim, para imamnya biasa mempersingkat shalat tarawih, shalat yang bisa merusak rukun shalat. Mereka meninggalkan thuma’ninah (diam sejenak dalam ruku’ dan sujud), merusak makhrajul huruf (tempat ke-luarnya huruf) karena bacaannya terlalu cepat. Mereka biasa menyelesaikan dua puluh tiga rakaat dalam tempo kurang dari sepertiga jam (20 menit). Shalat semacam ini merupakan tipu daya setan terhadap orang-orang yang beriman, dapat mem-batalkan amalan shalat, sebab shalat se-perti itu lebih dekat pada permainan daripada bentuk ketaatan.
Bukankah kita sering dengar hadits yang meriwayatkan tentang bengkaknya tumit dan betis Rasulullah ketika mengerjakan qiyam? Sekalipun ketika shalat betis kita tidak bengkak-bengkak, minimal mendekati seperti apa yang be-liau lakukan. Jangan mengada-ada apalagi hanya biar jama’ahnya tetap banyak selama tiga puluh hari Ramadhan.
Di sini bukan memasalahkan jumlah rakaat shalat tarawihnya, mau sebelas atau dua puluh tiga silakan saja, tapi hen-daknya dilakukan dengan tata cara yang baik, memperhatikan bacaan shalat, ber-diri, ruku’, sujudnya yang benar, khusyu’, konsentrasi, ikhlas, serta merenungkan bacaan-bacaannya. Ketika merasa mampu mengerjakan dengan lebih banyak rakaatnya juga akan lebih baik, tentunya dengan tata cara yang baik.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ (البقرة: 148)
“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
Kisah berikut mungkin bisa menambah semangat memperbanyak amalan menuju kemenangan, ketika Sa’d Ubadah tampil bicara, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikan engkau memerintah-kan kami menyelam ke dasar lautan niscaya kami akan melakukannya.” Setelah itu Miqdad melanjutkan, “Kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang telah dikatakan Bani Israil, ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu untuk berperang dan kami di sini duduk saja.’ Akan tetapi kami akan berperang ke arah kanan dan kirimu, di depan dan di belakangmu.”
Nabi pun senang mendengarnya dan mulai mengatur strategi pasukan untuk menghadapi pertempuran. Malam itu bertepatan malam jum’at tanggal tujuh belas Ramadhan, Beliau melalui malamnya dengan berdiri shalat seraya menangis berdoa kepada Rabbnya untuk kemenangan terhadap musuh-musuhnya.
Dalam kitab Al-Musnad, diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib, bahwa ia berkata, “Malam itu kami ditimpa gerimis, kami-pun bernaung di bawah pohon untuk melindungi diri dari hujan. Sementara Rasulullah melalui malamnya dengan berdoa kepada Rabbnya, ‘Ya Allah jika Engkau membinasakan golongan kecil ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi.’ Begitu fajar menyingsing, Beliau berseru, ‘Shalatlah wahai hamba-hamba Allah!’ Para sahabatpun keluar dari ba-wah pohon, lalu beliau mengimami kami. Setelah itu beliau memotivasi kami untuk menghadapi pertempuran.”
Singkat cerita, Allah pun memberi bantuan kepada Nabi-Nya dengan bala tentara-Nya, dan sungguh kemenangan perang Badar kala itu hanyalah dari Allah , dan sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Bertilawah
Kemudian, dikisahkan ada seorang tabi’in senior yang bernama Amir bin Abdul Qais , seorang panutan dalam hal ibadah. Beliau adalah ahli ibadah di zamannya. Beliau meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah. Ketika sakit yang mengantarkan kepada kematiannya, saat khusyu’nya bertilawah, Amir mena-ngis terisak-isak tatkala terhenti pada se-buah ayat nan suci berbunyi,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)
Makna ayat ini adalah, bahwa Allah menerima amal dari hamba-hamba-Nya hanya jika mereka bertakwa kepada-Nya, sehingga mereka menunai-kannya dengan sebaik-baiknya, yaitu di-iringi dengan rasa takut dan harap ke-pada apa yang ada pada sisi-Nya. Amal yang dikerjakan hanya karena iman dan mengharapkan keridhaan serta ikhlas karena Allah . Tidak akan diterima amalan para hamba sampai mereka ber-ada di atas petunjuk yang lurus dan sunnah yang sesungguhnya.
Maka pembaca yang budiman, mari, jangan setengah-setengah, lanjutkan! Pompa terus semangat beribadah. Se-makin banyak kita mengerjakan amal ketaatan, semakin lebar pintu ridha yang dibukakan Allah . Diterimanya amalan lebih penting daripada amalan itu sendiri. Di bulan Ramadhan kali ini kita sama-sama bergerak menyongsong kemenang-an, wujudkan masyarakat Islami, masyarakat yang tertuntun ajaran-ajaran syar’i, sampai Allah mempersilakan kita masuk melalui pintu surga-Nya yang abadi, kemudian, “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. Wa Allahu a’lam

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ
فِي الأيَّامِ الْخَالِيَةِ

Berilah Peringatan …

Berilah Peringatan …

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab)”. (QS. Ath-Thuur: 26)

Seorang anak yang cerdas bertanya kepada ayahnya di suatu malam halaqah keluarga, ” Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” Sepertinya bahasan kali itu membuat seluruh anggota keluarga ketakutan, hingga si anak dengan rasa kantuknya bertanya demikian. Ayahnya bangga mendengar pertanyaan yang terkesan polos namun menggetarkan. Teringat dengan firman Allah, ‘Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?’ (QS. Al-‘Araf: 97)

Membahas neraka membutuhkan kejernihan hati, sebab apa? hati yang keras lagi kotor akan jauh dari rasa takut, sedangkan khauf (takut) ialah satu ibadah yang pahalanya melebihi ibadah lainnya. Ibnu Iyadh berkata, “Khauf lebih utama daripada raja’ (harap), bagi orang yang betul-betul normal.” Mereka akan benar-benar melihat bagaimana dahsyatnya tempat kembalinya orang-orang yang durhaka lagi kafir itu saat hati mereka jernih.

Hendaklah Takut

Kita akan menilik sedikit kepada apa yang telah sang ayah dalam keluarga tadi sampaikan dalam halaqah. Neraka!! tapi sebelumnya atur posisi duduk anda lebih nyaman dan fokus.

“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan adzab itu.” (QS. Az-Zumar: 15-16)

Inilah alasan kenapa sang ayah tak ingin keluarganya dalam kerugian. Berada dalam gumulan api yang menyala-nyala, berlapis-lapis di atas dan di bawahnya, sungguh kerugian yang nyata.

Telah diketahui sekarang, Allah berfirman, “Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatanginya (neraka).” (QS. Maryam: 71) Setiap kita, manusia, anak cucu Adam , telah menjadi ketetapan dari Allah Yang Maha Kuasa pasti akan mendatangi neraka itu. Qatadah menafsirkan kata ‘mendatangi’ dengan melewati.

Rasulullah bersabda, “Manusia pasti akan melewatinya sesuai dengan amalnya masing-masing.” Mereka yang beriman, menyakini dengan sepenuh hati, tulus takut (baca: bertakwa) pasti akan diselamatkan, sedang mereka yang durhaka, menyembah kepada selain Allah akan diseret di atas mukanya dan didorong ke dalam neraka, seburuk-buruknya tempat yang didatangi dengan paksa seperti binatang yang kehausan.
وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا
“Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahanam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 86)
Allah mengumpulkan orang-orang durhaka pada hari kiamat dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Mereka dijadikan kayu bakar bagi neraka, setiap kali panas neraka itu menurun, ditambah lagi nyala apinya untuk mereka. Merasakan tamparan api neraka di wajah, dibolak-balikkan dalam kobaran api dan cairan tembaga disiramkan pada tubuh dan tidak dapat menyelamatkan diri darinya dan di antara air yang mendidih yang telah memuncak panasnya.

Apa belum ada juga yang bergetar takut dengan adzab Allah ini? Anak-anak dalam keluarga tadi tambah ketakutan ketika sang ayah melanjutkan pembahasan.

Neraka memiliki tujuh pintu yang bertingkat-tingkat yang terdiri dari Jahanam, Lazha, Al-Huthamah, As-Sa’ir, Saqar, Jahim, dan Al-Hawiyah. Abu Hurairah berkata, “Mereka yang dilempar ke dalam Jahanam pada Hari Kiamat, api membakar mereka. Tidak ada daging yang menempel pada tulang, kecuali akan terbakar dan binasa.”

Mereka terkurung dalam neraka tertutup rapat dengan api yang berwarna kemerah-merahan lebih hitam dari aspal, sedang mereka dibelenggu di tiang yang panjang melintang.

Panasnya neraka itu melontarkan bunga api laksana istana pencakar awan. Apinya merupakan salah satu bagian dari seratus macam neraka Jahanam, tiada yang masuk ke dalamnya melainkan orang-orang yang paling celaka, yakni generasi yang jahat, mengabaikan shalat, dan mengikuti syahwat, karena itu mereka akan menemui kebinasaan, dimasukkan ke dalam jurang neraka Jahanam yang sangat dalam dan baunya tidak sedap.

Pohon zaqqum yang tumbuh di lembah-lembah Jahanam menjadi hidangan. Pohon yang dijadikan sebagai siksaan yang memiliki mayang seperti kepala-kepala setan yang menakutkan. Kemudian sesudah mendapatkan makan buah zaqqum akan disediakan minuman dari air yang panas lagi mendidih yang harus diminum seperti minumnya unta yang kehausan. Duh, sungguh mengerikan.
“Maka bagi orang-orang yang kafir akan dibuatkan pakaian dari api (neraka).” (QS. Al-Hajj: 19) Ketika membaca ayat ini Ibrahim At-Taimi berkata, “Mahasuci Allah yang menciptakan pakaian dari api neraka.” Bayangkan pakaian yang terbuat dari api neraka seperti apa, pakaian dari tembaga yang panas, yang tentunya membakar seluruh tubuh yang asalnya indah. Ini ancaman bagi mereka yang melanggar tuntunan Nabi dalam kitab shahih Bukhari yang diriwayatkan Abu Hurairah , “Pakaian yang panjangnya sampai di bawah dua mata kaki akan menarik seseorang ke dalam neraka.” Sendal di neraka pun terbuat dari api yang terbakar hingga mendidihkan otak, dan dipakaikan sendal ini seringan-ringannya adzab di Jahanam.
Kemudian Allah berfirman, “Mereka mendapat alas tidur dari neraka Jahanam dan di atas mereka selimut api neraka. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-‘Araf: 41)

Maksudnya seperti itulah kelak balasan bagi mereka yang zhalim dan melampaui batas, memperoleh tikar dan alas dari api neraka serta selimut api neraka. Lantas bagaimana mereka dapat tidur nyenyak? Mereka tidak mungkin mendapatkannya, mereka dikepung oleh api neraka dari segala penjuru, dari bawah, atas, samping kanan, kiri, depan dan belakang.

Tiba-tiba terdengar suara adzan Isya’, kajianpun dihentikan sejenak, sang ayah mengajak tiga anak laki-lakinya berangkat menuju masjid dekat rumah. Seusai menunaikan shalat Isya’ berjama’ah, keluarga tersebut melanjutkan kajiannya membahas tentang neraka. Mereka sangat takut sekali dengan apa yang disampaikan sang ayah.

Ketakutan Mereka

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan neraka, kemudian menciptakan penghuni bagi masing-masing keduanya. Kemudian Allah mengeluarkan keturunan Nabi Adam kemudian berfirman, ‘Aku meminta persaksian kepada mereka, ‘Bukankah Aku adalah Rabb kalian?’ Mereka berkata, ‘Benar.’ Kemudian Dia membalikkan mereka dan berfirman, ‘Mereka ini masuk surga dan mereka ini masuk neraka. Ahli surga mudah melakukan amalan ahli surga dan ahli neraka mudah melakukan amalan ahli neraka.'” (HR. Thabrani)

Kalau kita menengok kehidupan dan kondisi ulama salaf, maka kita akan mengetahui bahwa mereka sangat takut beramal amalan-amalan penghuni neraka, takut menjadi penghuni neraka yang akan merasakan siksaan neraka. Mereka sangat percaya, siapa yang Allah tetapkan masuk neraka maka masuklah ia ke dalamnya.
Adalah Umar bin Al-Khaththab berkata, “Jika penyeru dari langit menyerukan, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga, kecuali seorang saja. Tentu saya takut jika seorang itu adalah saya.”
Abu Nuh Al-Anshari berkata, “Rumah Ali bin Husain terbakar saat ia sedang sujud, kemudian orang-orang memanggilnya, Wahai cucu Rasulullah, ada api. Ia tetap sujud dan tidak mengangkat kepalanya sampai api itu padam. Seseorang berkata kepadanya, Apa yang membuat engkau tidak menghiraukan rumahmu yang terbakar api? Ia menjawab, Api yang lain (api neraka).”

Yazid Ar-Ruqqasyi banyak menangis dan dikatakan kepadanya, “Apabila api neraka benar-benar diciptakan untukmu, tentu kamu akan menangis lebih banyak lagi melebihi hal ini. Ia berkata, Bukankah api diciptakan untuk saya, sahabat-sahabat saya, jin dan manusia? Bacalah, ‘Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepada kalian hai manusia dan jin.’ (QS. Ar-Rahman: 31), dan “Kepada kalian (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kalian tidak dapat menyelamatkan diri daripadanya.”(QS. Ar-rahman: 35).”

Dari Atha’ Al-Khurasani ia berkata, “Uwais Al-Qarni pernah berhenti pada dua tempat pengolahan besi, kemudian ia memperhatikan para pekerja, bagaimana mereka memanaskan besi sehingga meleleh. Ia juga mendengarkan suara api membakar besi itu, kemudian ia terdiam.”

Di antara ulama salaf ada yang apabila memikirkan neraka maka bergetar hatinya dan berubah keadaannya.
Dari Mahdi ia berkata, “Sufyan Ats-Tsauri selalu tidur lebih awal dan terbangun pada malam harinya, kemudian ia menyeru, Ada api.. ada api.. saya sibuk memikirkan api neraka daripada tidur dan syahwat. Kemudian ia wudhu dan setelah itu berdoa, Ya Allah sesungguhnya Engkau lebih mengetahui kebutuhanku yang tidak diketahui orang lain. Saya hanya memohon kepada-Mu agar selamat dari api neraka.”

Malik bin Dinar berkata, “Putri Rabi’ bin Khatsim berkata, Wahai ayah kenapa engkau tidak tidur di kala manusia sedang tidur? Ia berkata, Sesungguhnya neraka yang menyebabkan ayahmu ini tidak bisa tidur.” Itulah beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan para ulama salaf yang sangat takut kepada adzab neraka. Mereka memperbanyak ibadah kepada Allah , mereka terjaga di malam hari dan mereka berusaha mengekang nafsu syahwatnya.

Dan nampaknya malampun semakin larut, melihat sayup mata anak-anaknya sang ayah mulai berinteraktif memberi kesempatan untuk bertanya, siapa yang ingin bertanya? Seorang anaknya sekilas tangkas mengacungkan tangan, “Boleh nggak orang yang takut masuk neraka tidurnya nyenyak?” namun ia terlihat begitu kantuk. Sang ayah tersenyum.

Lima Golongan dan Mayoritas Ahli Neraka

Dalam kitab shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Iyadh bin Himar bahwa Rasulullah bersabda di dalam khutbahnya, “Ahli surga ada tiga golongan, yaitu para penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk keadilan dan kebenaran, seorang yang penyayang dan lembut hatinya kepada siapa saja, dan orang muslim yang yang bisa menjaga diri dari kemaksiatan. Sedangkan ahli neraka ada lima golongan, yaitu orang lemah yang tidak peduli dengan sesamanya, para pengkhianat, penipu yang memperdaya keluarga dan harta orang lain, kikir dan pendusta, serta orang yang berakhlak tercela.”

Dijelaskan oleh Rasulullah bahwa golongan pertama ahli neraka yakni orang lemah yang tidak mempunyai daya untuk menjaga dirinya dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Adalah mereka tidak berusaha untuk melakukan amal-amal shalih dan amalan ketakwaan lainnya. Golongan ini merupakan golongan manusia yang paling jelek, karena mereka tidak mempunyai usaha untuk sukses di dunia dan akhirat, cita-citanya hanya seputar perut dan kemaluan.

Golongan kedua, para pengkhianat yang merusak persatuan umat dan menjadi penyebab kegagalan dalam sebuah perjuangan. Sebagian ulama salaf berkata, “Kami membicarakan tentang penghuni neraka, di antaranya adalah pengkhianat yang tidak takut kepada Allah .”
Golongan ketiga, para penipu yang pekerjaannya siang dan malam memperdaya orang lain, keluarga dan hartanya. Penipu merupakan salah satu sifat munafik, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah karena karakternya adalah menampakkan kebaikan, padahal yang ada dalam benaknya dan apa yang direncanakannya adalah kejahatan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukanlah termasuk golongan kami, orang yang melakukan konspirasi dan tipu daya tempatnya adalah neraka.” (HR. Thabrani dari Ibnu Mas’ud)

Golongan keempat, pembohong dan orang yang bakhil. Keduanya merupakan embrio dari sifat tamak, yang berarti mengambil harta orang lain yang bukan haknya, sedangkan seorang yang bakhil berusaha menguasai harta miliknya secara berlebihan.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Sesungguhnya setan berkata, ‘Barangkali keturunan Adam akan mengalahkanku, tetapi aku akan mengalahkan mereka dengan tiga hal; membujuk mereka mengambil harta orang lain yang bukan haknya, atau menafkahkan harta bukan pada jalan yang benar, atau menguasai hartanya dan tidak mau menafkahkannya ke jalan Allah.'”

Dari sifat tamak pula, muncul sifat-sifat lain seperti pembohong, tipu daya dan mengharapkan sesuatu yang bukan haknya, sehingga ia ingin mendapatkannya dengan jalan yang haram. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kebohongan itu mendorong seseorang untuk berbuat dosa dan perbuatan dosa mendorong seseorang masuk neraka.” (HR. Bukhari)

Adapun golongan kelima ahli neraka adalah mereka yang berakhlak tercela, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seburuk-buruk orang pada Hari Kiamat di sisi Allah adalah siapa yang ditinggalkan oleh manusia lain (di dunia) karena mereka takut akan bahaya perbuatannya.” (HR. Bukhari)
“Oleh karena itu kamu harus senantiasa menjaga akhlak dengan baik, di saat sendiri maupun dalam keramaian. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang tersembunyi maupun yang nampak.” Papar sang ayah saat-saat mengakhiri halaqah malam itu. “Dan semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada keluarga kita yakni terhindar dari adzab neraka.”

Rasulullah juga menyebutkan dua golongan lainnya seperti dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah , “Dua golongan ahli neraka yang tidak akan saya lihat yaitu, kaum yang membawa cambuk seperti cambuk sapi yang dipergunakan untuk mencambuk manusia, serta wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium aromanya, padahal aroma surga dapat dicium seseorang dari jarak yang jauh.” (HR. Muslim)

Kemudian mayoritas penghuni neraka adalah kaum wanita, sebuah hadits dari Ibnu Abbas dari Nabi beliau bersabda, “Saya menengok neraka dan saya melihat isinya kebanyakan adalah wanita.” (HR. Muslim)
“Dengan selalu menjaga sunnah-sunnah Rasulullah , seperti mengerjakan shalat tepat waktu, menambah shalat-shalat nafilah (yang disunnahkan), membaca doa berlindung dari adzab Jahanam setiap selesai membaca doa tasyahud akhir,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku ber-lindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Al-masih Dajjal.” Berbuat baik kepada orang tua, mentaati suami. Membaca dzikir-dzikir sebelum tidur, seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi mengajarkan doa sebelum tidur, “Ya Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harapan dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan nabi yang Engkau utus.” Insya Allah, kalian akan dijaga ketika tidur, sehingga cukup istirahatnya.” Nasihat sang ayah sebelum membaca doa kafaratul majelis sekaligus menjawab pertanyaan anak laki-lakinya yang cerdas tadi yang tampak telah bersandar pada pundak sang ibu tercinta.

Sampaikan Peringatan Ini..

Fenomena laknat-melaknat antara manusia akan terjadi di neraka, para penghuninya saling mendoakan serta berharap kepada Allah untuk menimpakan siksaan dan menambah siksaan tersebut. Mereka bertengkar, orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang sombong lagi kafir, “Sesungguhnya kami ini dahulu pengikut kalian.”

Allah selalu mengingatkan mereka untuk introspeksi sebelum masuk neraka itu, karena Dia tidak akan memasukkan hamba-Nya dengan zhalim. Dia adalah Dzat Yang Maha Adil atas segala hukum yang diberlakukan kepada hamba-Nya. Bahkan penghuni neraka mengakui bahwa mereka mendustakan para rasul dan tidak beriman kepada mereka dan kepada Allah . Merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sendiri dengan mengikuti pemimpin-pemimpin yang kafir lagi enggan mengikuti petunjuk.
Kemudian para ahli neraka akan melihat orang-orang mukmin yang dahulunya mereka hina dan mereka cela berhasil mendapatkan ridha Allah dan selamat dari murka-Nya. Mereka telah mendapatkan kenikmatan yang tiada tara seraya berkata, “Kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami kepada kami.” (QS. Al-‘Araf: 44)

Jangan mau dihinakan oleh iblis laknatullah’alaihi, di neraka nanti iblis akan berkelit tidak ingin menanggung siksa atas apa yang telah dia serukan sewaktu di dunia, sebagaimana orang-orang yang kafir mengelak, “Sesungguhnya kita semua berada di neraka.” Dan memang, “Orang-orang kafir yang pernah menghalang-halangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan yang semestinya, sebagai balasan atas pengrusakan yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 88)
“Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fathir: 36)
“Diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada adzab yang berat.” (QS. Ibrahim: 17)

Rasulullah bersabda, “Sedangkan orang-orang yang betul-betul ahli neraka, mereka tidak mati dan tidak hidup, mereka mendapatkan siksaan di neraka karena dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, Nasa’i)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa: 56)

Hilangnya kasih sayang sesama me-reka di dunia, “Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari adzab hari itu dengan anak-anaknya. Dan istrinya atau saudaranya, dan sanak keluarganya yang melindunginya (di du-nia). Dan orang-orang di atas bumi selu-ruhnya, kemudian (mengharapkan) tebu-san itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij: 11-18)

Maka berbahagialah manusia yang menyambut seruan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, pe-liharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya ada-lah manusia dan batu, penjaganya malai-kat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahriim: 6)
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’araa: 214-215)

Mereka yang membersihkan diri, menyucikan hati serta mejernihkannya dengan pendekatan Ilahiyah dalam rangka meningkatkan takwa, akan bisa merenungkan ini sebagai peringatan dan menjadikannya tuntunan hidup di dunia yang fana lagi sementara. Sampaikanlah kepada orang di dekat Anda, bahwa kita akan mendatanginya. 

Wallahu’alam

Bahaya Memanjakan Hawa Nafsu

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya."
(QS. Al-Furqaan: 43)

Bagaimana Menghadapinya

Maha Suci Dzat yang telah menjadikan manusia disibukkan dengan berbagai urusannya masing-masing. Dia pulalah yang mengajarkan doa agar setiap urusan itu rasyada (lurus, selesai). Tuntas sempurna seperti yang diharapkan. Yang tentu ini tak bisa lepas dari rahmat (belas kasih) Allah.

Alkisah di suatu kali, ada dua orang buruh yang memikul batangan besar pohon untuk kayu bakar. Keduanya mendendangkan nasyid-nasyid yang saling bersahutan. Mereka mengucap-kan kata-kata yang sangat menghibur. Yang satu mendengarkan apa yang didendangkan temannya, dan ia mengulanginya ataupun menyahut dengan kata-kata hiburan yang lain. Begitu sebaliknya dan terus, hingga mereka sampai di tempat tujuan, menyelesaikan pekerjaannya dengan tanpa membawa beban seperti lupa akan beban yang tengah mereka pikul.

Menangkap satu isyarat dan pelajaran yang menarik dari perilaku kedua orang ini, adalah bahwa jika mereka tidak mendendangkan nasyid, pasti mereka akan merasa bahwa beban yang mereka bawa sangatlah memberatkan. Dialog mereka lewat hal ini dan pengalihan perhatian mereka dari beratnya beban kepada sesuatu yang menyenangkan lagi menghibur, dapat membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan.

Setiap manusia, siapapun ia, orang yang di dekatnya, atau kita sendiri, yang telah Allah jadikan mudah bagi mereka jalan kepada kefujuran atau ketakwaan, jalan menuju kepada dosa atau pahala, selalu diberikan pilihan untuk menyelesaikan setiap urusannya. Inilah sebenarnya apa yang diemban manusia, berat terasa olehnya dalam memikulnya, melewati perjalanan panjang hidupnya, saat ini hingga nanti akhir hayatnya di dunia. Inilah beban manusia yang jika jernih hatinya, ia akan berhenti sejenak dan berpikir, ia akan memilih bagaimana bersabar menghadapi hawa nafsunya bahkan mampu menaklukkannya.

Bisyr Al-Hafi, suatu ketika ia melakukan perjalanan dengan seorang laki-laki dari kawannya yang merasa haus dan berkata kepadanya, “Mungkinkah kita minum dari air sumur ini?”
Bisyr berkata, “Bersabarlah kita minum di sumber air yang lain saja.”
Tatkala keduanya telah sampai pada sumur yang lain, temannya berkata, “Mungkinkah kita minum dari sumber air ini?”
Bisyr berkata, “Kita minum di sumber yang lain lagi.” Demikian ia terus menerus memberi alasan setiap bertemu dengan sumber air. “Bersabarlah.” Mereka pun kembali berjalan. Sambil menoleh kepada laki-laki itu Bisyr berkata, “Begitulah semestinya dunia ini kita lewati.”

Menjadikan diri kita sabar menghadapi ujian dunia untuk tetap berada dalam ketakwaan dan ketaatan ibadah, menghibur diri dalam rangka menenangkan jiwa dengan memperbanyak pendekatan Ilahiyah, adalah cara yang benar dalam menghadapi semua urusan dunia. Berani menekan kecenderungan diri terhadap hawa nafsu atau syahwat yang mungkin sering kali melampaui batas. Bertekad bulat tegakkan jihad melawan dunia dan syahwat. Cepat menyikapi kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan di hadapan, agar tidak dikalahkan. Karena sesungguhnya ini adalah perang, maka berpegang- teguhlah pada keyakinan, laksana berpegangan pada tali kekang saat kuda berlari kencang. Serta beristiqamah kepada kesungguhan agar menang dalam usaha pemurnian. Sehingga akal, hati dan pikiran kita tetap pada jalur yang lurus.

Lebih Dekat Mengenalnya

Hawa nafsu atau syahwat, salah satu unsur dalam jiwa manusia yang hendaknya setiap pemilik itu mengenalnya. Hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat terhadap apa yang sesuai dengannya. Dalam pengertian ini ia tidaklah tercela. Ibnu Qayyim berkata, “Kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu itu melahirkan yang haram atau mengarah kepada yang haram karena kadarnya yang melampaui batas.”

Sering kali memang, hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal jika mengingat sebuah syair yang berbunyi, ‘Banyak kelezatan yang membunuh kebahagian’, seseorang akan lebih berhati-hati dengannya. Ia tak kan rela merasakan hubungannya renggang dengan istrinya karena nikmatnya dada berdegup berbuat serong. Ia berharap melihat anaknya tumbuh dewasa, tanpa tahu anaknya melayang di atas lezatnya asap candu narkoba. Seseorang akan merenung dalam-dalam di belakang jeruji kurungan, setelah beberapa jam yang lalu ia puaskan mengutil perabot rumah tangga di sebuah swalayan.

Hawa nafsu seperti jaring-jaring yang menjerat. Situasi yang dijumpai memaksa untuk melakukannya, setelah itu akhir dari segala pilihan adalah tangisan dan penyesalan. Mulailah terhitung banyak orang yang terperangkap dalam dosa dan tidak bisa lagi keluar.
Ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, dia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu. Namun hawa nafsunya tetap berpaling dari berpikir mengenai kehinaan itu. Yang demikian ini adalah sifat daripada binatang, karena hawa nafsu tidak pernah berpikir tentang akibat, hanya saja binatang lebih bisa dimaklumi. Jadi, hawa nafsu itu tak lebih laksana binatang liar yang harus dirantai lehernya, karena ia akan menghancurkan tanaman takwa yang ada di dalam jiwa.

Tetapi perkara ini menjadi sungguh aneh. Ada banyak orang yang membiarkan hawa nafsunya melakukan apa-apa yang disenanginya, lalu menjatuhkan orang tersebut pada sesuatu yang ia sendiri pun tidak menyenanginya. Sedangkan ada pula orang yang mengekang nafsunya sekencang-kencangnya, hingga melarangnya dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan. Saat itulah seseorang disebut telah menzhalimi nafsunya sendiri. Padahal niatnya mencenderungkan tabiat kepada hal yang baik.

Akibat kezhalimannya terhadap nafsunya sendiri ini, ada orang yang ingin sampai pada tingkat zuhud namun makan tidak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan tubuhnya, sehingga mengakibatkan dirinya lemah untuk melakukan kewajiban-kewajiban ibadah. Ada juga yang terlalu menekan nafsunya dengan menyendiri dan menjauhkan diri dari lingkungan, sehingga terasingkan dari manusia dengan alasan menjauh dari kehinaan makhluk dan menyatu dengan Sang Khalik. Akibatnya, justru ia tersesat terlebih meninggalkan kewajiban-kewajiban sosialnya yang utama, seperti menjenguk orang sakit, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, ataupun berdakwah.

Jika terbuka bagi seseorang pintu-pintu menuju hal yang mubah, hal yang halal-halal saja, maka ia takkan berlebihan mempergunakanya. Berusaha terus memenuhi kewajiban-kewajiban ibadahnya dan menambah-nya dengan amalan-amalan sunnah. Demikian mereka yang mau mendidik hawa nafsunya, mengajarinya dengan kesungguhan dan memiliki semangat dan keyakinan dalam menjaga prinsip-prinsip agama. Berbeda dengan mereka yang senang membiarkan hawa nafsu memenuhi keinginannya dan memanjakannya. Maka akan tersingkaplah maksiat-maksiat yang sering dilakukan para pendosa.

Bahayanya

Bicara hawa nafsu, kita ingat sekali Allah mengisahkan Yusuf dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ketika masalahnya mengaitkan beliau dengan hawa nafsu seorang wanita yang hampir tak terbendung. Seorang pria dihadapkan wanita cantik jelita dengan gelora birahi menyala-nyala. Kekaguman siapa sampai suasana panas membara hampir menyeret ke dalam kelamnya jurang hitam?

Seseorang yang sekali tergoda hawa nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang diharamkan, dan ia tidak memikirkan akibatnya, ia akan ketagihan hingga diarahkan kepada satu kondisi di mana ia tidak lagi merasakan kenikmatan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, biasa dengan keburukan berarti biasa dengan kehinaan. Yusuf memilih kesabaran sesaat demi selamatnya ia dari dalamnya jurang kehinaan.

Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukannya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya seperti antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian akan didapati jika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya.
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.” (QS. Al-Furqaan: 43)

Sesungguhnya manusia lebih unggul daripada binatang, karena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu mengusainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya daripada makhluk tak berakal. Sungguh bahaya!
إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
“Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.”

Unta itu makan lebih banyak daripada manusia, burung pipit lebih sering melakukan hubungan seksual daripada manusia, binatang itu bebas dalam melampiaskan keinganannya tanpa pernah merasakan kesedihan dan kesusahan akibat mengikuti hawa nafsunya.

Real, Mayoritas Anak Memang Begitu

Tanggung Jawab Pendidikan

Mayoritas penyebab kerusakan anak-anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka. Benarkah? Ada yang ingin disalahkan? Tentunya tidak pada kita, jelas. Dan tentu tidak ada di antara orang tua mana pun yang ingin mendapatkan adzab dari Allah , bahkan dua adzab sekaligus. Ya, pertama adzab yang pedih karena mengotori mutiara yang mulia itu, dan kedua karena melakukan tindak kesalahan.

Anak, mutiara hati yang diamanatkan Allah , yang Rasulullah telah kabarkan sebenarnya anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam keadaan Islam, menerima. Orang tuanyalah yang akan menjadikan mereka tetap dalam ke-Islaman, atau menjadikan Yahudi, Majusi, atau juga Nashrani. Jika kita menempatkan tanggung jawab anak ke tempat persemaian yang buruk, hendaknyalah sebelum itu berhati-hati. Konsekwensi amanat ini adalah terpeliharanya diri dan keluarga dari api neraka.

Islam telah menerangkan dengan gamblang tentang tanggung jawab orang tua terhadap anak. Dengan mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk meluruskan anak-anak kita, senantiasa memperbaiki kesalahan anak serta membiasakan mereka berbuat baik, merupakan tanggung jawab pendidikan orang tua muslim terhadap anaknya. Allah telah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong untuk itu dan memikulkan tanggung jawab ini kepada mereka.

Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu ia membiarkannya begitu saja, berarti telah berbuat kesalahan besar.”

Setelah sebelumnya kita bicarakan pernikahan dengan semua tanggung jawabnya, alhamdulillah, saat ini kelahiran mutiara hati yang menjadi idaman bagi setiap pasutri (pasangan suami dan istri) yang tentunya tak lepas dari tanggung jawab yang juga cukup besar akan siap kita pikul, semoga Allah memberi kepercayaan itu kepada setiap keluarga muslim. Ya, tanggung jawab yang di mana seseorang akan ditanya mengenainya di hari kiamat kelak. Ada baiknya kita ingat sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, “Pada hari kiamat nanti setiap hamba akan dihadapkan kepada Allah lalu Allah berfirman, ‘Bukankah Aku telah menjadikan pendengaran, penglihatan, harta dan anak untukmu? Bukankah aku juga telah tundukkan binatang dan ladang untuk kamu gunakan? Dan bukankah Aku telah membiarkan kamu memiliki dan menikmati apa yang ada? Maka, yakinkah kamu ketika itu bahwa kamu pada hari ini akan berjumpa dengan-Ku?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Allah pun kemudian berfirman kepadanya, ‘Pada hari ini Aku akan melupakanmu sebagaimana kamu pun melupakan-Ku.'”

Pasangan muda, atau mereka yang baru selesai melakukan proses pernikahan sering membayangkan ingin sekali begini dan begitu setelah nanti sang buah hati lahir ke dunia. Bahkan mereka yang telah lama berkeluarga dan memiliki keturunan sangat menginginkan keuntungan yang banyak bagi anak keturunannya. Perhatikan kisah di bawah.

Nabi Khidhir , ketika beliau membangun sebuah tembok dan benteng secara sukarela, tanpa mengambil upah dari pekerjaannya, lalu bertanyalah Nabi Musa tentang alasannya, akhirnya Khidhir menjawab, “Karena kedua orang tuanya shalih,” bahkan para malaikat turut mendoakan anak-anak mereka.
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتٍ عَدْنٍ الَََّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak meraka, dan istri-istri mereka serta keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mukmin: 8) di surat yang lain Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)

Begitu Allah berjanji, keshalihan orang tua bisa memberikan keuntungan bagi anak keturunannya. Keshalihan kedua orang tua merupakan teladan yang baik bagi anak, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kejiwaan anak. Jika anak dan cucu bisa tumbuh dalam nuansa ketaatan kepada Allah dan menyeru kepada agama-Nya, maka akan terjadi pertemuan di antara mereka kelak di surga yang kekal abadi. Inilah keuntungan yang sejati. Keuntungan dengan sebenar-benarnya keuntungan.

Mayoritas Memang Begitu

Pendidikan adalah hak anak yang menjadi kewajiban atas orang tua. Ia merupakan hibah atau hadiah dari Allah , karunia yang diberikan Allah kepada manusia, hati gembira menyaksikannya, jiwa menjadi tentram ketika bercanda ria bersamanya, anak, ia adalah perhiasaan dunia, terlebih di usia mereka ketika masih balita. Subhanallah.. pasti lucu.

Siapa yang tak menyukai hadiah dan perhiasan dunia? Kabar gembiranya adalah seperti yang Rasulullah sabdakan bahwa ‘Jika seseorang meninggal, amalnya sudah terputus, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.’ Terbayang bukan seorang anak yang digambarkan? Sebutannya jelas, anak shalih, yang menurut kepada orang tua. Untuk itu orang tua dituntut mengimplementasikan perintah-perintah Allah dan sunnah Rasulullah sebagai perilaku dan amalan serta terus menambah amalan-amalan sunnah tersebut semampunya. Sebab, anak yang baru tumbuh akan selalu mengawasi perilaku kedua orang tuanya.

Halnya akan lain ketika justru anak menjadi subjek rasa kesal yang menyesakkan dada kita. Rasanya, heeem…ingin cubit saja, ingin pukul, dan ingin-ingin yang lain sekiranya itu bisa terlampiaskan. Dari yang kerjanya tidak mau buat tugas sekolah, pergi keluar rumah tanpa pamit, berkelahi dengan teman, memecahkan perabot rumah tangga, bahkan sampai berbohong. Benar tidak? Hadiah pemberian ini akan seperti lusuh dengan bentuknya yang lain.

Tapi tunggu dulu, perlu memang memberi ‘punishment’ kepada anak. Setelah kita tentunya mengerahkan seluruh sarana metode pendidikan baik yang bersifat penalaran, pemikiran maupun kejiwaan. Memberi hukuman atau.. mari kita ganti dulu kata hukuman dengan ‘pelajaran’, karena anak adalah objek didikan, mereka adalah golongan yang masih perlu dididik dan bukan diberi sanksi, jadi saat ini kita ganti kata memberi hukuman dengan memberi pelajaran. Pelajaran tersebut hendaklah menjadikan anak merasa bahwa perkara mentaati orang tua yang dihadapinya adalah serius dan bukan main-main.

Masa anak-anak adalah masa bermain, bersenda-gurau dan aktif bergerak, mayoritas mereka begitu. Orang tua dan pendidiklah yang harus memahami betul karakteristik kejiwaan anak, sehingga mereka tidak menerapkan metode pendidikan yang mengekang, membelenggu dan meneror jiwa anak, yang menjadikan anak kehilangan keceriaan, merasa takut dan tertindas. Real, keceriaan dan kesedihan anak-anak adalah kejujuran, polos.

Ada anak-anak yang bisa menerima didikan dengan mudah, namun ada yang tak bisa menerimanya. Demikian juga ada anak-anak yang tidak punya rasa malu, namun ada pula yang sangat pemalu. Ada yang memperhatikan apa yang diajarkan kepadanya dan mau mempelajarinya dengan serius dan sungguh-sungguh, ada juga yang jenuh untuk belajar bahkan tidak suka belajar.

Di antara anak-anak yang punya perhatian dan punya ilmu itu jika diberi pujian lebih, ia akan belajar lebih banyak lagi, namun ada sebagian dari mereka yang baru mau belajar setelah dimaki dan dimarahi oleh pendidiknya. Ada juga di antara mereka yang tidak mau belajar kecuali untuk menghindari pukulan. Begitulah adanya perbedaan mencolok antara anak-anak yang bosan belajar dan yang teguh dalam belajar, yang suka dusta dan yang suka jujur.

Hingga saat ini para ahli kesehatan anak masih percaya bahwa perkembangan psikis dan emosional anak tercermin dari pada kemampuan belajarnya. Maksudnya, bagaimana respon anak untuk mengerti, mengingat dan mengkomunikasikan informasi adalah faktor utama yang menjadi indikator perkembangan seorang anak. Anak-anak yang tak mampu merespon dengan cepat informasi yang ada di sekitarnya, akan cendrung mengalami kesulitan belajar. Apabila orang tua meneladani anak dengan bekal kebaikan, menyuguhkan informasi atau ilmu-ilmu yang bermanfaat dengan jujur, niscaya anak akan meresponnya.

Kejujuran, Rasulullah telah memberi perhatian untuk menanamkan perangai ini pada diri anak. Beliau juga memberikan pengarahan kepada orang tua agar membiasakan diri berperilaku jujur. Ini dengan maksud agar mereka tidak terperosok ke dalam ketidakjujur-an yang tercela itu, lalu berbuat bohong kepada anak yang pada akhirnya nanti akan ditiru si anak tersebut. Beliau juga menempatkan ini sebagai kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam hal muamalah kemanusian. Kedua orang tua tidak dibenarkan untuk menipu atau berbohong dengan cara apapun dan mengabaikan bermuamalah dengannya. Don’t lie your child!! (Jangan bohongi anakmu!!)

Arahan Yang Baik dan Benar

Ada anggapan anak kecil nakal itu ‘wajar, namanya juga anak-anak’, stop!! Ganti imej ini. Seorang pakar pendidikan yang bernama Abu Was mengatakan, “Perilaku buruk orang disebabkan oleh kebiasaan ketika kecil. Ini terjadi jika akhlak mereka tidak diarahkan secara baik.” Pendidikan sejak dini haruslah diberikan kepada anak agar ia terbiasa terdidik kepada hal-hal yang baik. Didikan yang baik akan bisa merubah perangai buruk menjadi terpuji. Karakter buruk anak itu bisa saja terjadi karena adanya pengabaian ketika kecil.

Sebagai orang tua harus bisa mendetek ‘kenakalan’ mereka sendiri, sadarkan diri kita. Oh ya..? kami pun nakal?? Kenakalan pada anak sangatlah berbeda dengan kenakalan orang tua dan ini jarang sekali disinggung. Padahal hampir dipastikan bahwa penyebab utama kenakalan anak dan remaja sering berawal dari kenakalan orang tuanya sendiri. Dari tinjauan psikologisnya, pikiran dan keinginan antara keduanya pun tentu sangat berbeda.

Kenakalan orang tua yang paling fatal adalah kebodohan mereka tentang pendidikan anak yang benar. Berawal dari sinilah lahirnya anak-anak tak berpendidikan dan salah asuhan. Beberapa faktor yang menggiring mereka kepada keadan seperti ini adalah lemahnya keinginan para orang tua untuk mengerti akan tugas dan tanggung jawab utama sebagai kepala rumah tangga, suami bagi istrinya dan orang tua bagi anaknya. Kemudian, ibarat bayangan, anak hanya akan mengikuti benda aslinya, orang tua yang sedikit uswahnya (teladan baik) siap-siap untuk ditaklidi secara membabi buta oleh anak-anaknya. Apa yang diperbuat orang tuanya disimpulkan sebagai kebaikan yang harus ditirunya, dan apa yang ditinggalkan orang tuanya maka tidak boleh dikerjakannya.

Oleh karena itu kami sarankan agar mendidik anak sejak usia dini. Sebab, ketika itu mereka bisa diarahkan dan dibentuk dengan perilaku yang baik dan perbuatan-perbuatan yang terpuji (asal berikutnya ia tidak dikuasai oleh kebiasaan buruk yang akan menggantikan anaknya dengan adab dan perbuatan-perbuatan yang terpuji ketika kecil). Orang tua pun akan mendapatkan keutamaan, kecintaan, kemuliaan dan akan mencapai puncak kebahagiaan. Jika tidak, maka ia akan mendapatkan yang sebaliknya. Jangan kita ikut samakan anak kita dengan kebanyakan anak yang orang tuanya sendiri menyebutnya ‘nakal’. Orang tua akan menyesal karena memetik buah dari kesalahannya sendiri yang ia lakukan jauh hari.

Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk mendidik anak-anak (pada periode kanak-kanak yang masih suci) sebelum setan laknatullah ‘alaih mendapat giliran untuk mempengaruhi-nya, ikut andil besar di dalamnya. Orang tua yang semestinya menjadi uswah perlu melakukan upaya yang jauh lebih keras lagi di masa mendatang untuk memperbaiki anak-anak mereka, jika mereka sedikit saja mengabaikan hal ini. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka yang mudah dan tidak sedikitpun ragu bahwa Rasulullah adalah pendidik yang sukses dalam segalanya, sehingga kita dapat bermutaba’ah (mengikuti) terhadap semua kebaikan-kebaikan beliau, amin.

Haruskah Menjadi “Wanita Modern”?

Haruskah Menjadi “Wanita Modern”?
Apa yang sesungguhnya terjadi di balik fenomena modernitas? Ternyata, tuntutan penampilan, pergaulan, dan pola beradaptasi menggeser jati diri kebanyakan para wanita.

Awalnya, para wanita modern memandang bahwa aktualisasi diri merupakan pencarian yang tidak bisa dihindari. Mereka ingin berbeda dengan wanita biasa, apalagi mereka memiliki fasilitas berupa kekayaan dan relasi untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam berbagai bentuk aktivitas. Tetapi kenyataannya, pilihan beraktivitas lebih banyak porsinya pada sesuatu yang bersifat materil duniawi. Padahal jika mereka menyadari, seharusnya aktualisasi tersebut ditujukan pada pencarian makna hidup, bukan menikmati kehidupan menurut selera belaka.

Kita bisa menyebutkan contoh secara materil. Berapa banyak koleksi sepatu, tas, busana, perhiasan dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Sementara keinginan untuk mengoleksi buku-buku dan media ke-Islaman yang bermanfaat relatif sedikit. Hal ini otomatis menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu untuk mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat sedikit ketimbang jadwal untuk menonton, jalan-jalan, ataupun berbelanja.

Dari sisi lain, kita pun bisa menemukan keadaan yang tidak selalu selaras dengan asumsi semula. Bila awalnya, gaya metropolitan dirasa sangat menyenangkan, namun seiring dengan pertarungan antara iman dan kufur, antara taat dan maksiat, terungkaplah bahwa dunia glamor dan hingar bingar tidak mampu diterima oleh nilai-nilai ilahiyah yang masih tertanam di dalam hati para muslimah. Buktinya, dalam berbagai keadaan, mereka seolah terpaksa tampil sebagai wanita yang kosmopolitan lantaran gaya dan pergaulannya menuntut seperti itu. Atau karena tidak ada orang terdekat yang mengingatkan tentang ketakwaan, ia pun cenderung terombang-ambing tak tahu arah. Kenyataan inilah yang tak bisa dipungkiri. Perasaan tertekan, gundah-gulana, stres, dan teralienasi (terasing) terus menggelayuti hati dan pikiran mereka yang masih menyisakan iman yang benar. Namun, keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Bila ia tidak mau kembali ke dalam naungan Islam, lambat laun keimanannya menipis bahkan mungkin lenyap, na’udzubillahi min dzalika.

Solusi Fatamorgana

Apa yang sekarang sedang marak di dunia jati diri mungkin saja dianggap solusi oleh wanita modern ini. Seminar-seminar motivasi, manajemen diri, tempat-tempat “pencerahan”, bahkan media meditasi tidak jarang dipilih sebagai solusi terampuh bila para modernis sedang menghadapi masalah. Benarkah ini solusinya?

Sebagian di antara mereka tidak mempedulikan asal-muasal, aliran, bahkan keyakinan dari para pengelola fasilitas atau kegiatan tersebut. Padahal, sudah cukup bukti, banyak kesesatan yang tidak disadari lantaran tidak mementingkan nilai-nilai akidah ketika seseorang mencoba keluar dari problem yang sedang dihadapinya. Dengan perkataan lain, sesungguhnya mereka hanya menambah daftar penyimpangan yang menyebabkannya jauh dari keridhoan Alloh.

Secara identitas, kadangkala sang wanita modern seolah-olah merasa asing dengan nilai-nilai Islam, sehingga bila menghadiri seminar atau majelis ta’lim tertentu, mereka seolah-olah baru saja menemukan kembali jati diri mereka yang hilang. Kalau begitu, apa tujuan mereka menghadiri majelis ta’lim? Apakah sebagai pertobatan sesaat, dan merasakan kembali penderitaan hati ketika berada dalam lingkungan modern?

Sungguh ironis bukan! Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai wanita yang “all out” (habis-habisan). Yakni ingin menunjukan kepiawaian mereka di publik dan sanggup menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Namun di sisi lain, mereka justru merasa kesepian saat berada di puncak kemandiriannya. Beruntunglah para wanita yang dapat merasakan perbedaan itu, sehingga tanpa letih, mereka berupaya untuk menemukan kembali jati diri mereka yang hilang, yakni dengan cara mendalami sisi spiritual pada diri mereka sendiri.

Akan tetapi, banyak juga di antara mereka yang sekedar “latah” sehingga upaya-upaya itu malah membuat mereka semakin terbingungkan dan berakhir tanpa mengetahui siapakah diri mereka yang sebenarnya.

Dalam hal ini, perlu disadari bahwa kita adalah makhluk, dan perlu mengenal Alloh swt sebagai Ilah. Inilah jalan untuk menemukan ketenangan batin yang dapat menuntun kepada perilaku yang lebih ’smart’ di dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab, siapapun yang telah mencapai tahap-tahap dari pengenalan diri sendiri, maka dia pun akan mengetahui “how to deal with self“ (cara berurusan dengan diri sendiri), agar seseorang bisa memahami berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga tidak akan mengambil tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.

Mungkin saja bahwa yang dicapainya saat ini, masih belum sesuai dengan seluruh harapan atau cita-citanya. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa seluruh kehendak dirinya bukan hal yang sempurna, sehingga boleh jadi sebagian dari kehendaknya itu malah akan memberikan dampak buruk atas kehidupannya di kemudian hari.
Hidup kita menjadi lebih sederhana dan indah bila sudah memahami tahap pengenalan diri sendiri. Alasannya, kita dengan mudah akan mampu mengukur kemampuan masing-masing. Dan pada saat yang sama, kita tahu bagaimana cara menempatkan diri agar sesuai dengan posisi yang semestinya di dalam kehidupan.

Namun kebanyakan dari kita sering keliru di dalam memaknai hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Bahkan terkadang, kita sering memposisikan Tuhan agar Dia mematuhi segala kehendak dan harapan-harapan kita. Tidakkah kita menyadari bahwa kitalah yang seharusnya menjadi hamba-Nya, dan bukan malah sebaliknya.
Di sini, jelas bahwa yang sebenarnya ingin dicari adalah diri mereka sendiri yang sudah lama mereka lupakan dan hampir-hampir mereka tidak mengenalinya lagi, karena mereka sibuk mencari sesuatu yang fatamargona yang terpental jauh dari ajaran Nabi .

Ingatlah, wanita adalah makhluk yang dimuliakan Alloh , sehingga segala perilakunya haruslah terjaga. Sebenarnya, kedudukan kaum wanita dengan kaum pria itu sejajar. Sebab, wanita adalah partner kaum pria, dan mereka harus saling bermitra dan bukan malah bersaing seperti yang sering disalahartikan oleh kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari umat Muhammad .

Dengan penjelasan ini, sudah selayaknya kita menyadari bahwa mereka sebenarnya “going nowhere” (tidak pergi ke mana-mana) dan dijamin, akan berakhir dengan “uncertainty” alias ketidakpastian, rasa hampa dan tidak memahami tujuan hidup.

Aneh memang! Apabila barang mereka hilang, maka mereka akan sibuk untuk mencarinya, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi, apabila jati dirinya yang hilang, maka mereka seolah-olah tidak peduli.
Apa yang dianjurkan Islam dari seorang wanita sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar kaum wanita menjaga kehormatan diri dengan sebaik-baiknya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan salah satu cara itu adalah dengan berpakaian sesuai panduan Al-Qur’an, dan bukan ala Barat atau Timur.

Sadarkah bahwa cara kita berpakaian, berdandan dan bertingkah laku saat ini telah dipengaruhi oleh budaya bangsa Barat alias westernize yang sebenarnya tidak berhubungan dengan modernitas. Singkatnya, smart woman adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir, merenungi makna dan nilai kehidupan, dan bukan yang semata-mata meniru serta berpenampilan ala wanita barat.

Untuk itu, wanita yang berpendidikan dan mampu mengikuti perkembangan zaman (modern woman) adalah para wanita yang patuh dan taat kepada Perintah-Nya.

Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa di dalam Al-Qur’an, Alloh swt telah mengatur tata cara manusia berperilaku, termasuk berpakaian? Dan secara tegas, Al-Qur’an mewajibkan kaum Muslimah untuk berpakaian sesuai yang dijelaskan Alloh .

Di sinilah keyakinan terhadap Al-Qur’an harus dipupuk sehingga kita mampu mematuhi rambu-rambu dan norma-norma agama, bahkan melebihi kepatuhan kita terhadap aturan kantor tempat kita bekerja. Namun anehnya, kita lebih takut terkena skors di kantor apabila kita melanggar salah satu aturannya, dan kurang peduli bahkan mengabaikan perintah Alloh swt yang memberikan kehidupan dan rezeki-Nya kepada kita secara tidak terbatas. Bahkan sesungguhnya rezeki kantor kita pun bergantung kepada Karunia dan Rahmat Alloh.

Apa gerangan yang terjadi dengan para wanita muslimah saat ini? Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa selama ini, kita mendapatkan limpahan nikmat dari Tuhan semesta alam? Akan tetapi, pernahkah kita mensyukuri hal itu?

Cobalah bandingkan bila kita diberi hadiah dari seseorang, maka kita akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih dengan berbagai cara, bahkan sering kali para “wanita modern” mengucapkan terima kasih dengan memberikan pujian setinggi langit. Rasionalkah cara berpikir dan tindakan kita selama ini? Sudahkah kita berterima kasih dan mensyukuri segala nikmat Alloh swt yang diberikan-Nya setiap saat?

Sebagai penutup, selayaknya setiap muslimah mengharap surga yang hakiki, bukan sekadar kesenangan sesaat. Hanya satu caranya, yaitu meraih predikat wanita taat dan takwa kepada Alloh dan Rasul-Nya. Memang, apabila kondisi ini yang diinginkan, maka banyak hal yang perlu dikorbankan, karena jati diri wanita seperti ini dituntut untuk tidak tergoda oleh gemerlapnya perhiasan dunia sementara banyak wanita lain yang tergoda. Akan tetapi tidak sembarang wanita di dunia ini bisa menggapainya. Hanya wanita yang mempunyai ciri-ciri tertentulah yang mampu meraihnya. Ciri-ciri tersebut adalah: (1) Beriman kepada Alloh. (2) Berdiam di rumah dan tidak bertabarruj. (3) Menundukkan pandangan dan menjaga dirinya. (4) Menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). (5) Menjaga pendengarannya dari nyanyian-nyanyian, ucapan kotor, dan yang sejenisnya. (6) Menghormati suami, menunaikan haknya, berusaha membuatnya tentram, dan mentaatinya dalam ketaatan kepada Alloh. (7) Hemat dalam kehidupan. (8) Tidak menyerupai laki-laki. (9) Berusaha menjaga shalat-shalat, puasa-puasa, dan sedekah sunnahnya. (10) Hendaknya dia menjadi seorang da’iyah di kalangan para wanita, menyeru pada kebaikan, dan melarang dari kemunkaran.

Dunia Mimpi, Impian Dunia

Dunia Mimpi, Impian Dunia

Apakah ada orang yang hidup di dunia ini yang tidak pernah mengalami mimpi? Tentunya pertanyaan ini belum jelas esensinya, karena kita akan bertanya, “Apakah penting untuk bertanya tentang mimpi?” Juga pertanyaan, “Apakah mimpi sebagai bunga tidur atau mimpi sebagai hasrat terpendam yang belum terlaksana, atau mimpi sebagai suatu nilai yang mempengaruhi kehidupan seseorang?” Siapa saja yang terjangkiti mimpi ini? Anak-anak, remaja, orang dewasa, semua mengalaminya. Namun, samakah impian mereka tersebut?

Tampaknya, impian seorang anak akan berbeda dengan impian orang dewasa. Demikian pula, jenis impian sebagian orang berbeda dengan orang lainnya. Jadi apa yang perlu dibahas? Ya, sekadar mengenal dunia mimpi dan impian kita di dunia, ada baiknya bila kita tidak sembarangan merealisasikan mimpi yang mungkin merupakan agenda kehidupan kita.

Sekian banyak agenda impian yang singgah di benak kita. Secara positif, impian ini pun diterjemahkan sebagai cita-cita oleh para organisatoris, pebisnis, dan ilmuwan. Tak terkecuali para pelajar, mahasiswa, politisi dan kalangan lainnya, semuanya menamakan impian ini sebagai visi. Memang, menurut mereka visi haruslah dianggap sebagai impian, karena di dalamnya terkandung harapan yang optimal sebagaimana cita-cita yang setinggi langit. Walaupun hampir sama dengan utopia, impian bagi orang-orang di atas bukanlah sekadar isapan jempol. Mereka menyadari, tanpa merancang misi, impian tersebut tidaklah mungkin menjadi kenyataan. Artinya, misi merupakan impian-impian kecil untuk mencapai impian besar. Mungkin, uraian di atas tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak mempunyai cita-cita alias “ikut mengalir jika ada arus, dan diam jika tak ada yang menggerakkan”. Jika demikian, pada posisi mana kita sekarang? Tentunya bukanlah posisi yang kedua, yaitu posisi pasrah tanpa memposisikan diri dalam suatu cita-cita yang mulia.

Pernahkah kita mengetahui adanya orang yang tidak mampu membedakan antara dunia nyata dan dunia mimpi? Kenyataannya memang ada. Orang seperti ini merasa bingung dengan eksistensinya. Ia ada, tetapi masih ragu dengan keberadaannya. Ia bingung dengan peran yang dimainkan dalam pentas dunia. Dalam hal ini, orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam dunia imajinasi bukan dunia realisasi. Atau baginya, mimpi merupakan penentu keberadaannya. Ia ada karena ia mampu bermimpi, sehingga ia menyadari keberadaannya lantaran ia mampu bermimpi. Sungguh aneh!

Tentang mimpi, ada tinjauan ilmiahnya. Kabarnya, seseorang yang sedang bermimpi menunjukkan aktivitas otak dengan gelombang tertentu di dalam otak yang berbeda dibandingkan ketika tersadar atau ketika tertidur lelap. Atau dengan penjelasan ‘Rapid Eye Movement’ (pergerakan mata), seseorang dapat diketahui apakah sedang bermimpi atau tidak.

Terlepas dari rasa ingin tahu yang besar para “ilmuwan mimpi”, kebanyakan orang memang mengalami fenomena mimpi ini.
Di antara jenis mimpi yang kita kenal seperti mimpi sebagai bunga tidur, mimpi sebagai keinginan yang dicita-citakan, maupun mimpi yang mempengaruhi kehidupan seseorang, kita harus waspada terhadap pemahaman orang-orang sesat yang menjadikan mimpi sebagai norma (hukum). Padahal menurut syari’at, selain mimpi para nabi sama sekali tidak bisa diambil sebagai hukum. Artinya, mimpi-mimpi tersebut harus dikembalikan kepada hukum-hukum syari’at yang ada. Atau pada batas tertentu, mimpi hanya bisa dipakai sebagai bentuk kabar gembira dan peringatan saja, tidak sampai menjangkau aspek hukum.

Tentang tafsir mimpi, pada umumnya dikenal kondisi-kondisi berikut,

1. Peristiwa yang menggembirakan yang benar yang terjadi setelah bermimpi, dan ini tidak memerlukan penafsiran.

2. Mimpi yang batil atau permainan syaitan, yaitu mimpi yang tidak dapat diperincikan oleh orang yang bermimpi. Artinya orang yang bermimpi itu tidak sanggup mengingat tertib atau jalan cerita mimpi itu. Mimpi seperti ini dianggap batil dan tidak mempunyai sembarang makna atau takwil.

3. Keinginan jiwa. Mimpi seperti ini terjadi karena pengaruh pikiran seseorang. Sesuatu yang seseorang lakukan atau khayalkan siang hari atau menjelang tidurnya terkadang menjelma ketika tidurnya.

Dari hal di atas, sebaiknya kita tidak berkutat dengan tafsir mimpi ini karena dikhawatirkan kita melintasi hal-hal yang kita tidak tahu ilmunya. Sedangkan untuk suatu kondisi mimpi, Rasulullah telah mengajarkannya kepada kita.

Dari Abu Qatadah , ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Mimpi baik itu datang dari Allah dan mimpi buruk datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Muslim)

Impian Dunia

Dari cuplikan pembahasan di atas, satu yang tidak luput dari perhatian kebanyakan orang adalah tentang impian dunia. Kesuksesan, popularitas, dan ‘seabreg’ cita-cita lainnya awalnya hadir sebagai impian. Walaupun bagi orang tertentu hal ini dianggap khayalan, tetapi sebagian besar manusia tetap mengharap kesenangan dunia.

Tentang kesenangan dunia, Allah telah menghiasi manusia dengan kesenangan (syahwat) sebagaimana Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingin, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Jadi, meraih kesenangan hidup di dunia memang diperbolehkan, namun bukanlah kita bebas mengikuti syahwat lalu melupakan kesenangan hakiki di akhirat (surga). Dalam hal ini sesungguhnya kita tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan keinginan kita apabila tidak dirahmati oleh Allah . Artinya, tetaplah memandang dunia sebagai sarana mencapai kebahagiaan hakiki di surga kelak, menjadikan dunia sebagai ladang pahala bukan tujuan amal.

Arus Impian Dunia

‘Sukses Dimulai dari Impian Besar’, begitu judul yang sering ditawarkan kepada kita jika menghadiri seminar manajemen dan pengembangan diri. Motivasi tersebut setidaknya dimaknai oleh dua tipe orang. Bagi orang yang berkarakter inferior (merasa diri kurang mampu) boleh jadi berbagai slogan motivasi tidak cukup menjadi penyemangat dirinya untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka mungkin ‘kapok’ dengan sejumlah “kegagalan” yang diderita. Jika bercita-cita, impiannya pun tidak muluk-muluk.

Berbeda dengan kalangan superior, impiannya sangat tinggi. Terkadang, ia tidak peduli dengan tertawaan orang-orang di sekitarnya. Cita-citanya mungkin dianggap mustahil tercapai dengan potensi yang melekat pada dirinya.

Jika kita serahkan permasalahan ini kepada ahli manajemen, mereka akan menjawab, “Bagi mereka yang ditertawakan karena berbekal cita-cita yang tinggi, janganlah merasa kecil hati dan putus asa. Sebaliknya, kita harus bangga dan berbahagia karena kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikan? Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian.” Lebih lanjut mereka akan menjawab, “Membangun impian dapat diibaratkan seseorang yang sedang membangun sebuah rumah. Awalnya kita harus membangun pondasi yang kokoh agar bila terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, atau lainnya yang mengakibatkan rumah yang kita bangun retak dan rusak, kita dapat membangunnya kembali. Begitu pula halnya bila kita sedang berusaha mewujudkan impian yang kita miliki. Jika impian yang kita tanamkan sudah melekat sedemikian kuatnya dalam diri kita, kita akan siap untuk bangkit kembali jika seandainya kita mengalami kegagalan. Tugas kita adalah memperlihatkan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang berhasil mengubah impian menjadi kenyataan.”

Impian Remaja

Bagi sebagian remaja, menjadi terkenal seperti para selebritis merupakan cita-cita yang didamba. Bagi remaja yang gemar berorganisasi, menjadi politikus handal bisa jadi adalah cita-citanya. Atau menjadi ilmuwan dan praktisi bisnis pun tidak mustahil merupakan harapan para remaja lainnya. Dalam hal ini, setiap remaja layak dikatakan memiliki cita-cita bila ia menjajaki jalan menuju cita-cita tersebut.

Secara tegas kita katakan, remaja yang tidak menempuh syarat dan menjalani langkah ke arah suatu cita-cita, tidaklah layak disebut sebagai remaja yang bercita-cita.

Sebenarnya, fenomena remaja menempuh cita-cita mudah kita saksikan bersama. Atau kita pun pernah mengalaminya. Sebagiannya berhasil, sebagian yang lain belum (tidak) berhasil. Ada satu alasan objektif, mereka yang berhasil telah menempuh syarat keberhasilan tersebut, dan sebaliknya, mereka yang tidak berhasil kurang menempuh syarat-syarat yang dibutuhkan.

Kalau begitu, hal di atas adalah sunatullah sekaligus takdir-Nya kepada setiap orang. Namun, di balik ketentuan tadi, kita pun perlu mengetahui jenis cita-cita dan jalan yang ditempuh untuk menggapai cita-cita tersebut.

Kita perlu mengingatkan para remaja yang berebut jatah untuk audisi selebritis. Mereka yang mengikuti audisi tarik suara, atau seni akting perlu diingatkan bahwa cita-cita tersebut bukanlah impian yang perlu diwujudkan. Profesi tersebut memang telah diekspos oleh media massa melebihi ekspos terhadap profesi keilmuan dan religi. Padahal, bukankah lebih baik kita mengikuti audisi penghuni surga dengan menempuh syarat keilmuan, iman, dan amal yang benar ketimbang mengikuti berbagai ajang kemaksiatan.

Inilah pilihan. Tetapi jangan salah pilih. Di sinilah iman kita diuji. Di sini pula ilmu tentang kehidupan akhirat perlu senantiasa kita upgrade. Bukankah kita perlu mengetahui informasi tentang surga dan neraka? Juga jalan untuk memasukinya? Setidaknya hadits berikut patut kita renungkan.

Dalam Shahih Muslim, Sunan, dan Musnad disebutkan hadits dari Abu Hurairah . Ia berkata “Rasulullah bersabda : “Ketika Allah telah menciptakan Surga, Dia berfirman kepada Jibril : ‘Pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pergi dan melihat ke sana. Lalu kembali dan berkata : ‘Wahai Rabb-ku, demi ‘izzah-Mu tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya melainkan ia ingin masuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah menutupi Surga itu dengan hal-hal yang tidak disukai, lalu Allah berfirman : ‘Hai, Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat ke sana, lalu kembali dan berkata : ‘Wahai Rabb-ku demi ‘izzah-Mu aku khawatir tak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalamnya.’ Ketika Allah telah menciptakan Neraka, Dia berfirman : ‘Hai Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat ke sana, lalu kembali seraya berkata : ‘Demi ‘izzah-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya ingin memasukinya.’ Kemudian Allah meliputinya dengan hal-hal yang disukai (syahwat). Kemudian Dia berfirman : ‘Hai Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihatnya seraya berkata : ‘Wahai Rabb-ku, demi ‘izzah-Mu aku khawatir tidak akan ada seorang pun yang tertinggal kecuali akan masuk ke dalamnya.’ “

Mewujudkan Impian yang Hakiki

Dalam realitas kehidupan, kita harus memiliki cita-cita agar tujuan hidup kita terarah dan jelas. Kita pun “bebas” merancang impian. Namun, impian yang sesungguhnya adalah menuju surga yang kekal abadi di akhirat kelak.

Dari sini kita perlu mengoreksi ulang cita-cita sekaligus jalan meraih cita-cita tersebut. Inilah identitas muslim, meraih keridhoan Allah dalam setiap keyakinan dan amal.
Oleh karena itu, seorang muslim harus melandaskan cita-citanya pada prinsip kebenaran Islam. Pada ketentuan Allah dan Rasulullah . Bukankah niat ikhlas mengharap ridho Allah , dan ittiba’ (mengikuti) petunjuk Rasulullah saja yang pasti mendapat ganjaran pahala? Bukankah kenikmatan hidup di dunia ini hanya sementara? Apa yang hendak dipertaruhkan bila kita melepas keyakinan akan kehidupan abadi di surga? Apakah sekadar membuktikan keberhasilan diri dan mengharap pujian manusia? Mampukah kesuksesan dunia menggantikan kesuksesan akhirat?

Tantangan Mewujudkan Impian

Semua orang sepakat, mereka yang berhasil mewujudkan impiannya adalah orang yang dapat menyelaraskan antara impian dan tindakan. Suatu impian tidak akan tercapai jika kita terlena dengan impian-impian dan selalu hidup dalam dunia mimpi tanpa bertindak nyata.

Segala yang kita lakukan sekarang adalah sarana menuju cita-cita hakiki. Terlepas dari kondisi dan keadaan kita yang masih jauh dari sempurna, yang jelas kita harus mempersiapkan segala sesuatu menuju cita-cita tersebut.

Sebagaimana pengorbanan calon ilmuwan yang harus keluar dari zona kenyamanan (comfort zone), tidaklah mungkin ia mempertahankan sikap malas tanpa mengerahkan semua langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Atau bagi orang yang terbiasa hidup mewah, manja dan selalu difasilitasi oleh orang tuanya, mungkin ia merasa berat untuk keluar dari zona kenyamanannya. Sebenarnya, mengalami “kepahitan hidup” bukanlah suatu kemestian, namun, bersikap dewasa dan siap hidup dalam kondisi sulitlah yang harus mampu ditempuh oleh orang-orang yang ingin sukses. Di samping itu, kita pun harus mampu melawan segala tantangan yang ada, baik internal maupun eksternal.

Secara umum, tantangan internal lebih berat dibanding tantangan eksternal. Bukankah kita merasa berat untuk menyaring dan membuat prioritas impian kita? Bukankah dominasi nafsu seringkali mengalahkan idealisme kita? Selain itu, bukankah kerapkali kita jenuh dengan proses pencapaian cita-cita tahap demi tahap yang melulu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan?

Selanjutnya, sebuah anekdot mengatakan, “Orang-orang dari suatu daerah mampu berhasil di tanah rantau, tetapi orang-orang dari daerah lainnya tidak kuasa apabila harus pergi jauh meninggalkan kampung halamannya.”

Anekdot tersebut terbukti benarnya secara generalisasi, namun yang terpenting bukanlah kita melekatkan identitas kesukuan dengan kesuksesan seseorang, karena pada dasarnya setiap orang akan mampu mengatasi tantangan apabila berilmu dan berjiwa lurus.
Seseorang yang bekerja haruslah mengetahui norma Islam yang terkait dengan seluk beluk pekerjaan tersebut. Seseorang yang harus meninggalkan keluarga akan tetap merantau bila cita-cita yang ingin diraihnya memang mulia. Pengorbanan harta juga telah ditempuh oleh para penuntut ilmu. Semuanya akan menuai kesuksesan apabila kita mampu meningkatkan semangat dan tidak berputus asa bila yang dihadapi di pertengahan jalan adalah “kegagalan”.

Pada umumnya, berhentinya seseorang mencapai cita-cita disebabkan oleh kesulitan yang tak mampu diatasi. Padahal, kesabaran dan kegigihan harus dimiliki oleh mereka yang ingin sukses.

Impian Orang Shalih

Sekarang, sekilas kita simak impian Abdurrahman bin ‘Auf, seorang shabahat Rasulullah yang sukses mencapai fasilitas dunia dan kekayaan jiwa, namun tetap memimpikan kesuksesan hakiki di akhirat kelak.

Suatu hari ia dibawakan makanan untuk berbuka, karena ia berpuasa. Ketika kedua matanya melihat makanan itu dan mengundang seleranya, ia menangis seraya berkata, “Mush’ab bin Umair gugur syahid dan ia lebih baik daripada aku, lalu ia dikafani dengan selimut. Jika kepalanya ditutupi, maka kedua kakinya kelihatan dan jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya kelihatan. Hamzah gugur sebagai syahid dan ia lebih baik daripada aku. Ia tidak mendapatkan kain untuk mengkafaninya selain selimut. Kemudian dunia dibentangkan kepada kami, dan dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia.”

Pada suatu hari sebagian sahabatnya berkumpul untuk menyantap makanan di kediamannya. Ketika makanan dihidangkan di hadapan mereka, maka ia menangis. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Rasulullah telah meninggal dalam keadaan beliau berikut ahli baitnya belum pernah kenyang makan roti gandum…. Aku tidak melihat kita diakhirkan, karena suatu yang lebih baik bagi kita.”

Demikianlah Abdurrahman bin Auf , sampai-sampai dikatakan tentang dia, seandainya orang asing yang tidak mengenalnya melihatnya sedang duduk bersama para pelayannya, maka ia tidak bisa membedakan di antara mereka.