Sisakan Senja-Mu untukku

“Maka berlomba-lombalah kalian (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkan kalian sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al-Baqarah:148)

Menjalani hidup sebagai “bawahan” memang susah-susah gampang, alias banyak susahnya dari gampangnya. Kebanyakan akan selalu berbenturan dengan kebutuhan kita dalam menjalankan perintah Allah . Shalat tepat waktu misalnya, kadang terasa sangat sulit mengerjakannya. Tapi kalau kita lihat lagi, apa sebenarnya yang menjadi prioritas dalam hidup kita, pasti kita akan lebih memilih mentaati Allah daripada atasan. Tapi alangkah mudahnya bila atasan kita mengerti akan hak kita dalam beribadah.

Alhamdulillah, termasuk nikmat yang wajib kusyukuri karena atasanku “lumayan” mengerti dengan kewajibanku sebagai seorang muslim walau dia notabene non muslim. Dan karena memang tugas yang diberikan Allah itu tidak akan merugikan kita ataupun dia sebagai atasan. Toh itu juga adalah hak asasi kita sebagai manusia.

Kalaupun ada atasan yang menghalangi dari beribadah kepada Allah, kita tidak perlu ragu untuk tidak mentaatinya. Kalau kita pikir, kita mentaati atasan karena satu alasan, yaitu karena ia menggaji kita. Tapi bagaimanapun gaji itu tak akan pernah sebanding dengan udara yang kita hirup, jantung yang berdetak, darah yang mengalir dalam nadi, otak yang merespon saraf, lalu kita bisa dan bekerja, dan akhirnya pun kita mendapat gaji. Jadi sebenarnya gaji itupun dari Allah juga?! Sebenarnya kita ini tidak punya modal apa-apa. Tidak akan pernah cukup jika laut sekalipun menjadi tinta untuk menuliskan nikmat-nikmat Allah, tidak akan pernah cukup, bahkan jika ditambahkan sebanyak itu, lalu ditambah lagi sebanyak itu pula.

Setiap kali shalat Zhuhur dan Ashar, bisa dikatakan aku tepat waktu mengerjakannya, namun begitu jam pulang kerja sering bertepatan dengan masuknya waktu shalat Magrib. Apalagi akhir-akhir ini waktu shalat Magrib lebih maju jadi untuk shalat tepat waktu agak sulit, karena jarak yang ditempuh untuk ke masjid lumayan jauh.

Sebenarnya di sekitar situ ada mushola, tapi kondisinya sangat memprihatinkan, antara ikhwan dan akhwat hanya ada hijab seadanya. Juga tempat wudhu yang campur baur, dan juga sangat kotor. Aku tidak bisa shalat di situ, itu yang kukatakan pada diriku.
Setiap memasuki waktu Magrib, sedang aku baru siap-siap untuk pulang, perasaan ini tidak enak sekali. Seakan-akan aku bisa merasakan malaikat maut yang sudah memegang nyawa di atas ubun-ubunku yang tinggal menunggu satu perintah saja dari Allah.

Cabut. Bagaimana jika nyawa ini tercabut sedangkan aku belum shalat Magrib?

Setelah keluar kantor, aku mempercepat langkah menuju masjid, mengingat waktu Magrib yang singkat membuat langkahku semakin cepat, tak sadar akupun setengah berlari dan akhirnya berlari. Aku baru tersadar ketika orang berkata “Jangan lari mbak ntar jatuh lo..”, dan sapaan-sapaan usil lainnya yang kurasa tidak pantas mendapat respon dariku. Aku tak peduli, aku terus berlari, hatiku tak henti-hentinya berkata, “Allah, mohon sisakan sedikit cahaya merah di ujung barat-Mu.” Mata inipun sesekali mengawasi cahaya merah itu, senja itu. Kalau beruntung aku mendapat rakaat penuh, tapi yang sering aku ketinggalan beberapa rakaat, kadang malah tidak kebagian jama’ah. “Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang dhaif ini.” Hanya itulah yang ias aku panjatkan, memohon ampunan. Tragisnya kondisi seperti ini selalu berulang-ulang, 6 kali seminggu, dan 26 kali sebulan. Semoga ini hanya menimpaku.

(Khusnul Khotimah)

Iklan

Bila Rasa Malu Hilang Dari Wanita

Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambahnya karena ketaatan dan berkurangnya karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan maka semakin bertambah pula keimanannya. Ketika keimanan seseorang semakin bertambah maka ia akan mendapatkan banyak kebaikan.

Tak sedikit wanita di masa sekarang ini yang telah menanggalkan rasa malunya dari cara dia berbusana, bergaul, dan bergaya hidup modern lainnya inilah gambaran fenomena kehidupan saat ini.”

Sifat malu itu adalah bagian dan akhlak mulia, bahkan merupakan cabang dari keimanan. Sifat malu memang identik dengan wanita karena merekalah yang dominan memilikinya. Namun sifat malu tidak mutlak milik kaum hawa, laki-laki pun memilikinya. Adanya sifat malu pada diri seseorang akan mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya kepada kejahatan. Bila rasa malu itu telah hilang, ia akan jatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Termasuk yang diperoleh manusia dari ucapan kenabiannya yang pertama adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu”. (HR. Bukhari)

Merebaknya kejahatan seksual kian memprihatinkan. Namun sedikit yang menyadari bahwa semua itu bersumber dari tersebarnya kerusakan sebagai akibat dari diumbarnya aurat wanita di tempat-tempat umum. Bocah yang masih ingusan/bahkan kakek yang tua renta pun bisa menjadi pelaku kejahatan karena mereka secara terus menerus disuguhi pemandangan yang bukan haknya ironisnya sebagian kor-ban adalah anak perempuan dibawah umur.

Sebagian orangtua seoleh begitu leluasa membiarkan putra-putri mereka bercampur baur dengan laki-laki baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lainnya. Mereka membiarkan anak gadis mereka pergi keluar rumah sendirian tanpa ditemani siapapun. Demikian kenyataan ini benar-benar terjadi.

Bila rasa malu telah hilang dari seorang insan, ia akan melangkah dari satu kejelekan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dan satu kerendahan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dari satu kerendahan kepada hal yang lebih rendah lagi.

Sungguh wajib bagi kita untuk terus merasakan pengasan Allah dan malu kepada-Nya di setiap waktu dan tempat seseorang yang jujur dalam keimanannya akan merasa malu kepada Allah jika melanggar kehormatan orang lain dan mengambil hak orang lain. Sedangkan orang yang telah dicabut rasa malu dari wajahnya, ia akan berani melanggar larangan Allah. Nau’udzu billah.

Bila kita telah mengetahui pentingnya sifat malu, maka berupayalah untuk menumbuhkannya didalam keluarga. Karena ketika rasa malu itu maish ada, kebaikan akan senantiasa mereka agungkan.

Agama Islam datang dengan memberikan kemuliaan kepada wanita, memelihara dan menjaganya dari terkaman serigala dari kalangan manusia, sebagaimana Islam menjaga hak-hak wanita, mengangkat hakikat dan martabatnya.

Islam mewajibkan bagi wanita untuk menghijabi (menutup) dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya agar ia tidak menjadi barang dagangan murahan yang bisa dinikmati setiap orang kapanpun dan dimanapun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin di tutupi)”. (QS. An Nur: 30)
Pada zaman sekarang ini, banyak wanita yang mengaku seorang muslimah akan tetapi dengan ikhlas menjual kehormatannya. Dan tidak sedikit wanita muslimah yang tidak segan-segan mereka terjun dalam dunia musik dan acting. Mereka begitu bebas berinteraksi dengan orang lain tanpa menghiraukan keberadaan sang suami. Maka jangan heran jika kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan sesuai harapan.

Oleh karena itu, tidak sepantasnya bagi wanita muslimah untuk melakukan hal-hal seperti itu, karena tidak akan memberikan manfaat baik bagi dirinya ataupun orang lain.

Alangkah baik bagi seorang wanita muslimah untuk tidak banyak keluar rumah kecuali memang terdapat keperluan yang penting. Itupun mereka apabila keluar harus menutup aurat agar terhindar dari berbagai fitnah. Namun apabila tidak ada keperluan, sebaiknya seorang wanita muslimah tinggal di rumah. Dengan begitu, dia akan lebih terjaga kehormatannya. Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan jangan bertabarruj (berhias) seabgaimana tabarruj orang-orang jahiliyyah yang dahulu”. (QS. Al Ahzab:33). Wallahu alam.  (Adien)

File Gerimis Edisi 4 Tahun ke-1 2008

Karena Adinda Begitu Mulia

Bidadari merupakan makhluq ghaib yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan nan selalu dipuji manusia. Seluruh kecantikan, keindahan, kelembutan dan kemuliaan wanita selalu diandaikan dengan bidadari, walau tiada pernah mata melihatnya. Mendapat nikmat berupa bidadari di surga Allah, merupakan rangsangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada seluruh hamba-Nya. Bukan hanya masalah seks sehingga keindahan, kecantikan, kelembutan dan kemuliaan bidadari menjadi perangsang hamba agar bertaqwa, namun tabi’at akal dan nafsu manusia membutuhkan tamsil nikmat yang begitu dekat dengannya, maka bidadari dan seluruh nikmat dunia dijadikan permisalan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ’Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu.’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), di sisi Rabb mereka ada surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya”. (QS. Ali Imran: 14-15).

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali gambarkan tentang kenikmatan surgawi yang akan direguk hamba-hamba-Nya yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman. (Yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah, dan Kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli”. (QS. Ad-Dukhan: 51-54).

Sungguh sulit membayangkan wanita dunia bisa menandingi keindahan, kecantikan dan kemuliaan bidadari surgawi. Namun tunggu dulu ukhti sayang, jangan terlalu cemburu! toh, karena ternyata kita jauh lebih mulia daripada mereka. Dialog antara Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dibawah ini menjadi bukti betapa kita, ternyata lebih mulia daripada bidadari bermata jeli, namun tentu semua ada syarat dan kategorinya.

Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah tentang ‘Bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”

Ummu Salamah berkata,”Jelaskanlah padaku, ya Rasulallah, tentang firmanNya,’ Laksana mutiara yang tersimpan baik”. (QS. Al-Waqi’ah: 23).

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman laut, tak pernah tersentuh tangan manusia.”

Ummu Salamah bertanya lagi, “Ya Rasulallah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah, ’Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”. (QS. Ar-Rahman : 70)

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”

<Ummu Salamah bertanya, “Jelaskanlah padaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik”. (QS. Ash-Shaffat : 49).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung dari kulit bagian luarnya (yang biasa disebut putih telur).”

Ummu Salamah kembali bertanya, “Ya Rasulallah, jelaskan padaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (QS. Al-Waqi’ah : 37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai gadis-gadis muda, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”

Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulallah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Ummu Salamah bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari, ya Rasulullah?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka bak sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas.

Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridha dan tak pernah bersungut-bersungut. Bahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya’…”

Ummu Salamah bertanya kembali, “Ya Rasulullah, salah seorang diantara kami pernah menikah dengan dua, tiga atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga. Siapakan diantara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa diantara mereka yang paling baik akhlaqnya. Lalu dia berkata: ‘Rabbi, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik tatkala hidup bersamaku di dunia maka nikahkanlah aku dengannya’…Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.” (HR Ath-Thabrani).

Amboy, indahnya penggambaran Islam terhadap kaum wanitanya yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Masihkah kita enggan untuk taqwa? Taqwa dalam makna ta’at terhadap seluruh perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, takut bermaksi’at ketika melanggar larangan-Nya. Ridha terhadap apapun keputusan Allah untuk kita. Mengharap cinta, rahmat dan kasih sayang Allah Azza Wa Jalla.

Semoga saya dan anda termasuk wanita yang membuat cemburu bidadari surgawi karena kemuliaan kita melebihi mereka. Amien ya Maulaya.

(Syifa Shabreena)

File Gerimis Edisi 3 Tahun ke-1 2005

Nasihat dari Seorang Ibu yang Bijak

Kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya digambarkan dengan gamblang dan jelas dalam hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai contoh kelembutan dan kasih sayang serta sumber cinta kasih yang tulus. Allah telah menciptakan wanita sebagai sumber yang mengalirkan cinta kasih kepada anak-anaknya dan memprioritaskan pemberiannya kepada mereka.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu telah meriwayatkan bahwa pernah sejumlah tawanan didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Di antara tawanan tersebut terdapat seorang ibu yang berlari-lari kesana dan kemari mencari anaknya yang masih balita.
Setelah menemukan anaknya, ia langsung menggendongnya dan menyusuinya. Maka saat itu juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Bagaimanakah menurut kalian, apakah wanita ini tega mencapakkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami men-jawab: “Demi Allah, tentu tidak”. Nabi bersabda: “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya, dari pada kasih sayang wanita ini kepada anaknya”.

Wanita itu telah jatuh ke dalam kehinaan sebagai tawanan, sedih, dan murung hatimya. Padahal sebelumnya dia adalah seorang wanita terhormat di kalangan keluarga dan handai tolannya, merdeka dalam lindungan kaum pria kabilahnya, dan dihormati dalam lingkungan rumah suaminya. Akan tetapi, karena ditawan, jadilah ia seorang budak perempuan yang dimiliki dan pelayan yang diperintah.

Keadaan seperti ini begitu menekan jiwanya dengan penuh kesulitan, sehingga membuatnya lupa kepada apa yang terjadi di sekitarnya karena kepedihan yang dideritanya benar-benar telah meremuk-redamkan kalbunya. Meskipun dengan kondisi demikian, sang ibu tetap tidak melupakan anak belahan hatinya. Bahkan dia dengan sekuat tenaga mencari-carinya sampai menjumpainya, lalu segera memeluknya dengan penuh kelembutan dan memberikan puting susu kepadanya seraya mendekapkannya ke dada dengan kasih sayang.

Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tersentuh oleh bahaya sedikit pun. Dia pasti akan membelanya dari gangguan sekecil apa pun dan rela berkorban untuknya meskipun harus ditebus dengan jiwanya. Dia akan meninggalkan anaknya dengan sesuatu yang berharga dan membahagiakannya. Dia akan selalu dan senantiasa memberikan untaian indah nasehat, bila anaknya akan pergi dan mulai meniti mahligai rumah tangga.

Adalah Ummu Iyas binti ‘Auf yang memberikan wasiat dan nasehat indahnya kepada puteri tercintanya di saat malam pernikahannya. Beliau berkata: “Wahai puteriku, sesungguhnya engkau sekarang beranjak dari nuansa yang selama ini engkau hidup di dalamnya dan engkau tinggalkan kehidupan yang selama ini biasa engkau alami. Sudah menjadi taqdir bagi wanita untuk diciptakan bagi laki-laki, begitu pula sebaliknya laki-laki diciptakan untuk wanita. Oleh karena itu, kusampaikan beberapa pesan agar engkau bersama suami dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik:

“Patuhlah kepada suami dengan menerima apa adanya dan mendengar kata-katanya dengan baik disertai keta’atan. Perhatikanlah apa yang biasa dilihat matanya dan dicium oleh hidungnya. Untuk itu, jangan sampai pandangan matanya melihat hal yang buruk dari dirimu dan jangan sampai hidungnya mencium darimu kecuali bau yang harum.

Perhatikanlah waktu tidur dan waktu makannya, karena sesungguhnya ketegangan rasa lapar itu amat membakar dan kurang tidur itu dapat menimbulkan emosi kemarahan. Jagalah hartanya dan peliharalah keluarga dan anak-anaknya. Adapun hal yang terpenting berkaitan dengan hartanya adalah mengaturnya dengan baik dan yang berkaitan dengan anak-anaknya adalah memelihara mereka dengan baik. Janganlah enkau mendurhakai perintahnya dan jangan membocorkan rahasianya, karena sesungguhnya jika engkau menentang perintahnya, berarti engkau akan membuat dadanya bergejolak.

Dan jika engkau membocorkan rahasianya, berarti engkau tidak luput dari penghianatannya. Hati-hatilah, jangan sampai engkau memperlihatkan sikap gembira di hadapannya sedang dia dalam keadaan bersedih. Dan jangan pula engkau memperlihatkan kesedihan di hadapannya, sedang dia dalam keadaan gembira”.

Begitu sayang dan cintanya seorang Ummu Iyas hingga beliau ingin kelak puterinya menjadi sosok wanita dan seorang isteri yang ta’at dan patuh kepada suaminya. Tanggung jawab dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu yang mendorongnya berbuat seperti itu. Beliau ingin kelak anaknya pun menjadi sosok ibu yang kembali akan meraih rumah tangga yang bahagia serta melahirkan dari rahimnya benih-benih para pejuang Islam.

File Gerimis Edisi 2 Tahun ke-1 2005

Kebun yang Menjaga Tanaman

Syahdan diceritakan, pada satu pagi seorang Sulthan dari negeri yang gemah rifah loh jinawi sedang duduk-duduk di balkon istananya yang megah. Tanpa sengaja pandangannya berhenti pada sosok seorang wanita yang sangat cantik jelita, terkesima sang Sulthan langsung bertanya pada para pembantunya. “Oh, itu Mustika Maya, istri Hang Jebat, tuanku Baginda. Laksamana kerajaan yang sangat perkasa, mereka baru menikah 2 hari yang lalu”. Jawab salah seorang pembantu Sulthan.

Sulthan terkesima dengan kecantikannya, lalu muncul pikiran nakal untuk mendekati wanita tersebut. Pagi berlalu beranjak siang, malam pun datang menjelang, namun pikiran Sulthan selalu melayang, terus mengenang si ikal mayang, “Bidadari” yang dilihatnya tadi pagi menjelang siang.

Syaithan datang melemparkan ide jahat, lalu Sulthan memanggil Hang Jebat, perwira perkasa pada malam itu juga. “Wahai Hang Jebat laksamana perkasa, keadaan negeri gundah gulana, kerajaan butuh bhakti sang perwira, membawa amanah ke Negeri Lingga. Tiada kulihat seorang perwira, yang mampu memikul tugas nan mulia, kecuali dikau wahai sang mutiara. Aku perintahkan esok di pagi buta, Laksamana berlayar ke Negeri Lingga”. Titah Baginda Sulthan. “Duli Sulthan mulia, hamba siap menjunjung perintah.” Jawab Laksamana Hang Jebat dengan bijak. Hang Jebat pulang membawa surat, tiada pun tahu maksud tersirat, di hati raja kan berbuat jahat. Inilah susahnya menjadi rakyat, apapun jua titah pejabat, harus ditu-naikan tak boleh bersyarat, walaupun bulan madu baru sekejap, namun perintah Sulthan sebuah amanat, harus ditunaikan walaupun berat.

Setelah Subuh di hari Selasa, Hang Jebat pamit tinggalkan dinda tercinta, untuk menunaikan titah baginda. Walaupun hati gundah gulana, sang istri rela melepas kepergian kanda tercinta.

Belumlah jauh Hang Jebat berjalan, Sulthan ke rumahnya datang menyambang, pintu pun diketuk pelan-pelan. “Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Mustika Maya sambil membuka pintu. “Saya Sulthan datang bertandang, niat menjenguk dinda seorang”, jawab Baginda menggoda. Mustika Maya terkejut bukan kepalang lalu berucap, ”Ada apa gerangan Paduka datang, di pagi hari menjelang siang. Bukanlah adat lelaki sejati, ke rumah perempuan yang ditinggal suami. Hamba berlindung kepada Allah atas kunjungan ini. Hamba tak pikir ini kunjungan yang baik”. Mendengar kalimat pedas nan halus, sang Sulthan marah. ”Tidakkah engkau tahu, aku paduka rajamu yang bisa berbuat apa saja?”. “Hamba sangat paham wahai baginda yang mulia. Tapi baginda telah didahului oleh tutur kata orang tua-tua”

Akan kutinggalkan air milikku

tanpa bunga, karena banyak

orang yang mendambakannya.

Bila seekor lalat di atas hidangan, urung tangan menjamahnya,

walau hati sangat menginginkannya.

Singa-singa pun tak mau mendekat ke telaga,

jika anjing-anjing telah menjilat sari pati telaga.

“Wahai baginda, paduka telah datang ke tempat minum anjing, apakah baginda mau minum air bekasnya?”.

Mendengar tutur bijak Istri Hang Jebat, Sulthan malu bukan kepalang. Tiada kalimat sanggup menjawab, Baginda langsung beranjak pulang. Namun apa daya Istri Hang Jebat, malang tak dapat dihadang, maut tak dapat ditolak, tanpa sengaja Sulthan ketinggalan sepatunya.

Adapun Hang Jebat, takdir membawanya untuk kembali, karena surat perintah Sulthan ketinggalan di bawah bantal. Begitu sampai di depan pintu, terlihat olehnya sepatu Baginda, naluri laki-lakinya berkata: “Tidaklah Sulthan memberikan perintah kepadanya kecuali ada maksud tertentu yang hari ini terjawab.”

Disuruhnya Mustika Maya berkemas, seluruh pakaian di bawa serta, seakan hendak pergi lama. Dibawanya sang “Bidadari” tercinta ke rumah orang tuanya, lalu perwira perkasa ini pergi menunaikan tugas.

Selesai sudah tugas berat diemban, hadiah Sulthan pun dalam genggaman, kembalilah sang perwira ke rumah dalam keadaan merana, karena sang istri tak hendak dijemputnya.

Sebulan sudah waktu berjalan, tak ada gelagat Hang Jebat kan menjemput sang pujaan, melihat keadaan yang tak wajar ini, pahamlah saudara laki-laki Mustika Maya ada yang tak selesai, lalu bergegas dia datang menyambang hendak bertanya: “Katakanlah kepada kami penyebab kema-rahanmu. Atau kalau tidak kami akan adukan masalah ini kepada Sulthan”. Hang Jebat menjawab. ”Jika kalian ingin mengadukannya kepada Sulthan, maka lakukanlah, aku tidak mempunyai hak apa-apa lagi terhadap istriku”.

Maka mereka pun mengajukan permasalahan ini kepada Sulthan. Sulthan memerintahkan Hakim Kerajaan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ipar Hang Jebat berkata: ”Tuan Hakim yang bijak bestari. Aku telah mempekerjakan orang ini di kebun milikku yang berpagar kuat, mempunyai mata air yang jernih, penuh pepohonan yang berbuah lebat. Namun setelah menikmati buahnya, tanpa alasan yang jelas dia meninggalkannya”. Hakim kerajaan berpaling ke arah Hang Jebat, ”Apa komentarmu wahai Hang Jebat?”. Hang Jebat menjawab: ”Wahai tuan Hakim pagar negeri, sungguh benar aku telah menerima kebun tersebut, namun sekarang telah kuserahkan kembali dalam kondisi jauh lebih baik dari sebelumnya”. “Apakah ia menyerahkan kebun itu seperti semula?”, tanya Hakim. Saudara laki-laki Mustika Maya menjawab: ”Benar wahai tuan ha-kim, tapi aku ingin tahu penyebab mengapa dia mengembalikannya?”. Laksamana Hang Jebat menjawab: ”Demi Allah wahai tuan hakim, aku tidak mengembalikannya lantaran benci kepadanya. Suatu hari aku datang ke kebun itu dan melihat bekas jejak harimau (sepatu Sulthan), aku takut kalau harimau itu membunuhku. Aku menahan diri agar tidak masuk ke kebun itu sebagai penghormatanku terhadap harimau nan perkasa itu”.

Mendengar kalimat itu, sang Sulthan yang duduk disamping Hakim mafhum, mukanya merah padam lalu bertutur: ”Wahai Hang Jebat Laksamana bestari, kembalilah ke kebunmu dengan aman dan tenang. Demi Allah, harimau itu memang telah masuk ke kebunmu dan meninggalkan jejak. Namun yakinlah, ia tidak menyentuh sehelai daun atau mengambil satu butir buah pun darinya. Harimau itu hanya masuk sebentar dan keluar tanpa merusak apa pun yang ada di dalamnya. Demi Allah, harimau itu belum pernah melihat kebun yang sangat menjaga pagar dan pepohonannya lebih dari kebunmu”.

Mendengar jawaban Sulthan, Laksamana Hang Jebat pulang membawa istrinya. Sang Hakim maupun hadirin yang mengikuti sidang itu, tidak satu pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Bila lalat ada di atas hidangan, urung tangan menjamahnya.

Singa pun tak hendak mendekat ke telaga, bila anjing telah menjilatnya terlebih dahulu.

File Gerimis Edisi 1 Tahun ke-1 2005