Mengumbar Rahasia Pasutri

Ada suami yang tak punya rasa malu. Tabir tebal keburukannya tersingkap di hadapannya. Tanpa malu dan sungkan, Anda mendengarnya membicarakan rahasia ranjangnya, tentang hubungan intim antara dirinya dengan istrinya. Ia merasa bangga, dan menilainya sebagai kesempurnaan kejantanannya. Demi Allah, itu bukanlah simbol kebanggaan maupun kejantanan. Itu adalah kehinaan dan keburukan.

Kebanggaan apa yang diperoleh degan menyingkap keburukan? seperti perkataan orang, keburukan disebut dengan keburukan karena tersingkapnya keburukan tersebut membuat orang lain terganggu. Orang yang berakal tak mungkin mau membuka keburukannya, berdasarkan fitrah dan nalar. Apalagi syariat Islam menegaskan larangan tentang hal itu. Bagaimana mungkin seseorang diperbolehkan membeberkan keburukan, seolah orang yang mendengarnya, melihatnya langsung?

Perbuatan ini , sungguh merusak tirai dari Allah. Mencampakkan kerudung malu dan membuka pintu keburukan yang besar. Allah bersifat Hayyir Sattir (Maha Malu lagi Maha Menutupi Kesalahan hamba-Nya) yang mencintai tirai dan rasa malu. Ranjang itu memiliki rahasia-rahasia yang harus dibentengi. Salah satu hak suami-istri atas pasangannya, adalah masing-masing tidak membicarakan rahasia-rahasia ranjang yang terjadi di antara mereka berdua. Melakukannya, tak seperti mengubah diri mereka menjadi setan betina yang bertemu di suatu jalan, lalu mereka bersetubuh di depan khalayak ramai.

perumpamaan ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi saw. Asma’ binti Yazid tengah berada di sisi Rasulullah saw. Kaum pria dan wanita duduk di sekitar beliau. Beliau bersabda, “Mungkin seorang pria mengatakan apa yang dilakukannya bersama istrinya, dan mungkin seorang wanita mengatakan apa yang dilakukannya bersama suaminya.” (Musnad Ahmad No. 1259)

Mereka semua diam tidak menjawab. Maka aku, Asma’ binti Yazid) menjawab, “Ya, demi Allah, wahai Rasulullah! Kaum wanita melakukannya. Kaum laki-laki juga melakukannya.” Beliau bersabda, “Janganlah lakukan setan jantan bertemu setan betina di suatu jalan, lalu ia menyetubuhinya sedang orang-orang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Hadits ini melarang dengan keras dan tegas membuka rahasia ranjang, membuka dan menyiarkan hal ini seolah-olah adegan persetubuhan tersebut dipertontonkan di sebuah ruas jalan. Godaan setan yang tersaji di jalan umum membuat jiwa-jiwa pendosa menginginkannya. Mereka tak segan merogoh kocek banyak untuk meraihnya. Tindakan ini juga sejenis bentuk membeberkan keburukan, memotivasi orang-orang sesat, dan mencampakkan tirai rasa malu.

Ada juga mudharat lain terhadap istri. Istri memiliki perasaan malu lebih daripada suaminya. Sifat suami menyebarkan rahasianya membuat perasaannya tertekan ketika berhubungan intim dengan suaminya. Maksudnya, agar suaminya tak punya bahan untuk disebarkan kepada orang lain.

Inilah salah satu hikmah, mengapa Islam mengajarkan agar suami menjadi pakaian dan tirai penutup bagi istrinya. Demikian pula sebalinya. Dengan begitu, masing-masing dapat melakukannya secara alami, tanpa merasa khawatir atau malu. Dengan begitu, ketentraman dan kasih sayang dapat direguk bersama. Lain halnya, jika salah satu pasangan merasa khawatir rahasia ranjangnya akan diketahui oleh orang lain.

Orang yang menyebarkan rahasia hubungan intim bersama pasangannya diancam keras. Nabi saw menggolongkannya sebagai manusia terburuk. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah saw bersabda: “Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat ialah orang yang mendatangi (menyetubuhi) istrinya, atau istri mendatangi suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya (atau sebaliknya).”

An Nawawi menjelaskan, “Hadits ini menegaskan, diharamkannya suami menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya, berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut persetubuhan, membeberkannya secara terperinci, dan apapun yang terjadi bersama istrinya berupa ucapan, perbuatan dan sejenisnya.”

Sekedar  menyebut Jima’ tanpa ada manfaat dan keperluannya, maka hukumnya adalah makruh. Sebab, ini menyalahi kehormatan pribadi (muru’ah). Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau lebih baik diam.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Namun, jika diperlukan untuk menyebut kata Jima’, misalnya karena sang istri suka menghindar, atau ia ditimpa lemah syahwat, maka tidak makruh baginya menyebut kata tersebut. Terdapat keringanan untuk membeberkan rahasia ranjang, jika seseorang perlu mendapatkan fatwa atau pengobatan. Ia boleh menceritakan tentang masalah ranjang, hanya sesuai dengan keperluan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: