Lidah…

Ketika kita menyantap sebuah hidangan, biasanya kita sudah bisa membayangkan rasa makanan yang ada di hadapan kita. Hal itu karena manusia diciptakan Allah SWT dengan kelebihan dimana ia bisa mengingat berbagai macam rasa, bentuk ataupun bau.

Lidah adalah bagian tubuh yang memiliki banyak syaraf, itulah kenapa lidah bisa membedakan berbagai macam rasa dan keadaan suatu benda yang ada di mulut. Adapun fungsi lidah ini sangat banyak, bisa menjadi indera perasa aneka rasa seperti: manis, asam, pahit, panas, dingin, kasar, halus, nyeri dan lainnya dan ia juga bisa menjadi alat komunikasi seperti berbicara yang dengan sebab ini manusia bisa berinteraksi sosial dengan lingkungannya dan apa yang diucapkannya adalah mencerminkan pribadinya. Bahkan masih banyak lagi kegunaan dan manfaat lainnya dari lidah.

Dalam keseharian, kita temukan diri kita dikelilingi ribuan aneka rasa dan aroma yang menambah keindahan yang tak terkira dalam hidup kita. Bayangkanlah rasa khas setiap makanan yang kita nikmati. Kini, marilah kita berpikir sejenak. akan seperti apa jika semua rasa dan aroma bau tersebut sirna, atau tak pernah ada. Bahkan membayangkan ketiadaan semua itu untuk sesaat saja sudah cukup membuat kita mengakui betapa berharganya nikmat rasa tersebut bagi kita. Yang menyediakan segala kenikmatan ini adalah Allah SWT, Pencipta semua makhluk hidup. Allah SWT berfirman, “Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl, 18)

Meskipun rasa dan bau terdapat dalam ragam dan jumlah yang berlimpah, kita mampu membedakannya dengan mudah satu sama lain. Ini terjadi karena Allah SWT menciptakan seluruh aneka kenikmatan ini beserta perangkat (alat) yang memungkinkan kita mengenali perbedaannya masing-masing. Perangkat pengindera rasa ini bekerja dengan sempurna sepanjang hidup kita.

Ketika rasa dari makanan yang kita santap ini berkurang kita pun bisa mendeteksinya padahal ini baru berkurangnya aroma dan rasa, bagaimana jika tiba-tiba saja, entah karena peristiwa tertentu jika Allah SWT kehendaki semua ribuan aneka rasa dan aroma hilang sama sekali dalam kehidupan kita. Apa yang akan terjadi? atau, jika secara mendadak beragam rasa dan bau saling tertukar satu sama lain, akankah hidup anda menjadi nikmat? Misalnya, rasa buah jeruk berubah menjadi rasa sop ayam, air selokan kotor berganti rasa dan aroma selezat coklat, air minum yang biasanya tawar berubah sehingga berasa asam cuka, bau badan manusia yang telah ataupun belum mandi berubah menjadi semerbak bau ikan ami, dan sebagainya. Yang pasti, semua ini akan memunculkan masalah besar dalam kehidupan kita, kita tidak akan menikmati hidup ini.

dengan berpikir sebagaimana di atas, kini jelaslah bahwa aroma dan rasa bukanlah persoalan sederhana. karenanya, tidak sepatutnya kita hanya memandang sebelah mata terhadap masalah ini tanpa sedikitpun keinginan untuk merenungkannya. Yang jelas, tak seorang manusiapun pernah mengaku sebagai pihak yang telah memunculkan aneka rasa dan aroma di dunia ini. Tak satupun manusia yang mampu menciptakan indera perasa yang dimilikinya. Dan tak seorangpun mampu menjelaskan asal usul keberadaan rasa, bau dan mekanisme yang menjadikannya ada, tanpa mengacu kepada kecerdasan Maha hebat di balik ini semua. Dialah Allah, Pencipta segala sesuatu secara sempurna. Semua ciptaan Allah dari yang terbesar hingga yang terkecil, dari yang tampak hingga yang tidak terlihat, memiliki rancangan yang rumit dan sempurna. Kesempurnaan ini hanya akan dipahami oleh mereka yang menggunakan akal nuraninya, yang berpikir dan bekerja keras meneliti alam ciptaan-Nya ini.

Dan termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemampuan tersebut seseorang bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar. orang yang tidak diberi nikmat mampu berbicara, jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa mengutarakan sesuatu dan memahami orang dengan isyarat atau dengan cara manulis, jika dia mampu menulis. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang lurus?” (QS. An Nahl:76)

Namun sebagian manusia yang berlebih-lebihan justru berpaling dari nikmat Allah SWT, mereka menyianyiakan semua itu dan tidaklah nikmat itu sedikitpun menjadikannya ingat kepada Allah SWT. Sebagian mereka merusaknya dengan menindik lidah, bibir, hidung, dan lain-lain. Mereka melakukan hal ini untuk berbuat sombong di hadapan manusia dan tak sedikitpun ada manfaat pada apa yang mereka kerjakan, bahkan hanya akan mendatangkan adzab baginya di dunia dan akhirat.

Lidah memiliki banyak syaraf namun dengan adanya benda asing di dalam rongga mulut akan memunculkan gangguan bicara, kesulitan mengunyah dan menelan, produksi air liur yang berlebih dan kebiasaan bruksisme (menggertakan gigi tanpa sadar). Selain itu perbenturan antara perhiasan dengan gigi yang terus menerus akan mengakibatkan patahnya gigi. Sedangkan benturan dengan jaringan penyanggah gigi akan mengakibatkan kerusakan gusi dan tulang penyanggah gigi.

Lidah mengandung banyak pembuluh darah, sehingga proses menindik akan menyebabkan pendarahan berlarut-larut. Bila penindikan dilakukan tanpa memperhatikan sterilisasi alat, akan menyebabkan infeksi yang mudah menyebar ke tempat lain. Pembengkakan lidah yang merupakan reaksi normal setelah proses penindikan akan menjadi berbahaya jika pembengkakan tersebut berlebihan yang akhirnya akan mempersempit saluran pernafasan. Bila penindikan menyebabkan putusnya urat syaraf, lidah akan mengalami kelumpuhan sebagian maupun total. Bila higienis mulut tidak diperhatikan, perhiasan dalam mulut akan menjadi tempat yang sangat baik bagi perkembangan bakteri yang mengakibatkan infeksi di gusi dan pipi bagian dalam. Bila ukuran perhiasan tidak cukup besar mengisi lubang tindik, perhiasannya bisa lepas dan tertelan atau bahkan masuk ke saluran pernafasan.

Bagian tubuh manusia ini begitu sederhana, lunak dan tak bertulang. Namun tersimpan kekuatan yang sangat besar. Yang bisa dengan mudah mengendalikan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang. Kekuatannya bisa melebihi pedang yang ukurannya lebih besar. Maka hati-hatilah dengan lidah, pergunakanlah ia sebagai sarana kemaslahatan. Jangan biarkan lidahmu menyeretmu ke jurang kesesatan, karena setiap kata yang terucap, maka malaikat akan senantiasa mencatatnya. Kita sering tidak sadar dengan kata-kata yang sering terucap dari mulut kita. Kata-kata itu bisa menyakiti lawan bicara kita, dan bahkan bisa menumbuhkan rasa permusuhan, dan adu fisik.

Itulah realita yang sering kita saksikan. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia mengucapkan yang baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Lidah… organ kecil dari tubuh tapi merupakan nahkoda yang mengendalikan hidup kita. Tergantung bagaimana kita memegang kemudi itu. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, hancurlah seluruh hidup kita. Orang yang benar-benar beriman akan takut dengan adzab Allah SWT dan akan senantiasa mengharapkan pahala dari-Nya, serta selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Oleh karena itu, selagi Allah masih memberikan nikmat dapat berbicara kepada kita maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya, gunakanlah lidah itu untuk menyerukan kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Jangan gunakan lidahmu untuk sesuatu yang tidak memiliki kemaslahatan. Seseorang yang berakal dan memiliki iman hendaklah ia diam kecuali jika dibutuhkan untuk berbicara. Banyak orang yang menyesal karena berbicara namun sedikit sekali orang yang menyesal karena diam.

Ketahuilah wahai saudaraku bahwasanya manusia yang paling lama penderitaannya dan sengsara adalah yang disiksa karena kesalahan lisan dan dukungan hatinya. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahu, karena pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan dipintai pertanggung jawabanya.” (QS. Al Isro:36)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: