Muamalah dengan kaum KUFFAR

Di dunia ini, manusia tidak dapat hidup sendiri. masing-masing membutuhkan orang lain. Dan orang yang kita butuhkan itu belum tentu orang yang seagama dengan kita. Islam sebagai agama yang universal telah memberikan tatanan yang universal pula, yang dalam beberapa kondisi tertentu bersinggungan dan bahkan mungkin “bermesraan” dengan sebagian dari mereka, semisal diperbolehkannya pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahli kitab.

dalam hal muamalat, hukum fiqih kita mengenal yang namanya jual beli (bay’), upah jasa (ijaarah), hadiah, sedekah, pajak perdagangan khusus untuk orang kafir (mukus), jizyah, kesaksian orang kafir, membesuk orang sakit, dan bab tolong menolong dalam kebaikan. Semua itu diatur dengan rapi hingga tak ada yang terlewatkan.

dalam hal jual beli dapat dilihat dari apa yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad dari Aisyah ra, bahwa Nabi saw telah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayaran sampai batas waktu tertentu dan beliau memberikan jaminan kepadanya berupa baju besi.

dan perihal kehalalan makanan ahli kitab (baca: sembelihan mereka terhadap binatang-binatang yang halal) pun telah ditetapkan dalam Al-Quran sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Maidah ayat 5 yang sekaligus menghalalkan wanita-wanita yang baik-baik dari mereka untuk dinikahi oleh lelaki Muslim.

dalam hal mempekerjakan orang kafir dengan memberi upah atau dengan istilah fiqihnya disebut ijaarah kita dapati contoh dari Rasulullah saw saat beliau hijrah bersama Abu Bakar ra. Seorang kafir diminta Rasululloh saw menunjukkan jalan (sebagai guide) dalam perjalanan menuju Yastrib / Madinnah dengan suatu upah. Umar bin Al Khaththab ra pun juga pernah mempekerjakan orang-orang Nasrani sebagai juru tulis kekhalifahan dan beliau saw membayar upah mereka. menerima hadian dari mereka ataupun memberikannya kepada mereka juga merupakan hal yang diperbolehkan. adalah Salman Al-Farisi ra, saat ia masih dalam agama Nasrani, menguji tanda kenabian beliau dengan memberikan sedeqah, karena sebagaimana ia dengar dari pendeta Nasrani, bahwa ciri nabi terakhir itu tidak mau makan dari sedeqah dan mau makan dari hadiah. Beliaupun menerima sedeqah dari Salman itu namun diberikan lagi oleh beliau saw kepada para sahabatnya. Beliau tidak mau makan darinya. Ketika Salman memberikannya atas nama hadiah beliaupun menerimanya dan ikut memakannya.

Seorang wanita Yahudi saat perang Khaibar memberikan hadiah berupa gulai kambing kepada beliau saw. Beliau pun memakannya. Seorang sahabat beliau saw, ikut juga makan namun ia menemui ajalnya karena gulai tersebut dicampuri racun . Rasulullah saw memaafkan atas apa yang dilakukannya atas diri beliau saw. Namun beliau saw meng-qishashnya karena kematian sahabat itu. Hukum qishash seperti ini berlaku atas mereka yang kafir sebagaimana berlaku atas sesama muslimin.

Rasulullah saw menawarkan hadiah kepada Suraqah yang mengejar dan hampir saja membunuh beliau saw di saat perjalanan hijrah. Hadiah ditawarkan apabila ia mau kembali dan menghalau para pengejar agar tidak mengejar lagi. Hadiah itu diterimanya pada masa Umar bin Al Khaththab ra dengan jatuhnya Persia berupa gelang-gelang kaisar.

Rasulullah saw memberikan makanan kepada seorang miskin yang buta di pasar Madinah. Makanan itu beliau saw kunyah hingga lembut, lantas beliau suapkan ke mulutnya. Padahal kebiasaan orang itu memaki-maki Rasulullah saw. Rasulullah saw membesuk orang kafir yang sakit, padahal setiap harinya ia mengganggu perjalanannya untuk beribadah di rumah Allah, lantas si kafir itu pun masuk Islam.

beliau juga membesuk seorang anak remaja Yahudi yang biasa melayani Rasululah saw. Beliau duduk di sisi kepadalnya lantas berkata, “Masuk Islamlah kamu!” Maka anak itu memandangi ayahnya yang juga ada di sisi kepalanya. Lantas sang ayah itupun berkata, “Taatilah Abul Qosim!” Maka anak itu pun memeluk agama Islam. Maka nabi saw bangkit dengan mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya melalui diriku dari sengatan api neraka.”

Beliau juga membesuk seorang kafir dari Bani Najjar. Beliau berkata, “Wahai Khal (paman dari jalur ibu), ucapkanlah Laa ilaaha illallah!” ia menjawab, “Ya khal lah…!” ia berkata, “Apakah ucapan laa ilaaha illallah itu baik bagiku?” Nabi menjawab, “Ya!”

Rasulullah saw memberikan jaminan kepada penduduk kafir Makkah ketika beliau sudah menguasai mereka. Beliau berpesan kepada Abu Sufyan saat hendak masuk Makkah, “Barangsiapa yang masuk Al-Masjidil Haram maka ia aman. Barangsiapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka ia aman. Dan barangsiapa yang masuk rumah mereka maka ia aman.” Beliaupun juga bersabda saat di hadapan mereka, “Pergilah kalian dalam keadaan bebas.” Tak ada pembalasan. Tak ada hukuman. Bahkan di antara yang beliau saw ucapkan adalah apa yang dikatakan Nabi Yusuf as kepada saudara-saudaranya, “Tak akan aku sebut lagi dosa-dosa kalian. Semoga hari ini Allah mengampuni kalian. Dia adalah Dzat yang Maha Kasih di antara para pengasih.” Maka merekapun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Benar-benar pesona kepribadian yang sangat ISTIMEWA!! LUAR BIASA!!

Rasulullah saw dalam sebuah perjalanan pulang dari peperangan mampir bersama shahabatnya berteduh di bawah pepohonan yang rimbun. Para shahabat mempersilahkan beliau saw berteduh di bawah pohon yang paling rindang. Semua istirahat dan tidur. Seorang badui datang dan mengambil pedang beliau saw yang tergantung di ranting pohon. Lantas ia berkata, “Muhammad, siapa yang akan menghalangimu dariku?” Beliau terbangun dan menjawab, “Allah!!” maka gemetaranlah tangan orang itu. Pedang pun jatuh dan ia pun roboh. Beliau ganti mengambil pedang itu dan berkata, “Sekarang siapakah yang akan menghalangimu dariku? Ia menjawab, “Maaf dan belas kasihmu.” Beliau menawarkan Islam namun ia menolaknya. Walau menolak ia berjanji untuk tidak memusuhinya lagi dan tidak akan bersama orang-orang yang memusuhinya. Maka Rasulullah saw melepaskannya. Ketika Badui itu bertemu dengan orang-orang kafir ia berkata, “Aku baru saja bertemu dengan manusia terbaik dari seluruh manusia.”

Islam juga tidak melarang orang-orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan negeri Islam, untuk mengadakan perdagangan di negeri Islam. Hanya saja negeri Islam membebani mereka dengan pajak 10% (mukus) dari dagangan mereka itu.¬† Sedangkan bagi mereka kafir dzimmi, yaitu kafir yang hidup di negeri Islam dan tunduk dengan tata aturan kependudukan di negeri Islam, ia membayar pajak dzimmah (jaminan perlindungan) yang disebut jizyah. Bagi mereka jaminan keamanan penuh. Tak ada paksaan untuk memeluk Islam. Baginya kebebasan dalam agama yang dipilihnya dan menjalankan aktifitas agama mereka di tempat-tempat ibadah mereka. Bahkan Rasulullah saw pun bersabda akan keharaman darah mereka, “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir dzimmi maka akulah yang akan menjadi lawannya di persidangan hari kiamat nanti.”

Di antara perkara yang dibolehkan dalam Islam adalah peristiwa kematian yang meninggalkan suatu wasiat, dan tak ada yang menjadi saksi selain orang-orang non Islam. Maka dalam hal ini bisa saja memakai kesaksian orang-orang kafir yang diambil setelah kita usai shalat, lantas kedua saksi kafir itu bersaksi dengan bersumpah seraya menyebut nama Allah, sebagaimana dalam surat Al-Maidah: 106.

Lebih dari itu semua. Dalam hal hukum munakahat (pernikahan), Islam membolehkan lelaki Muslim menikahi wanita ahli kitab yang tentunya harus tetap memegang rambu-rambu sebagaimana disebutkan di atas, harus dengan mengikuti aturan dan panduan-panduan yang diantaranya sebagai berikut,

* Qawamah (kepemimpinan) terhadap anggota keluarga yang sepenuhnya ada pada laki-laki (suami)

* Jaminan pendidikan anak dan agama mereka tetap dalam bimbingan Islam

* Mendakwahi dan mengajaknya kepada Islam

* Wanita ahli kitab itu wanita baik-baik

Menikahi wanita muslimah yang keluarganya masih kafir juga pernah diteladankan oleh Rasulullah saw. Seperti puterinya Abu Sufyan yang menjadi istri Nabi saw walaupun ayahnya masih kafir. Masih dalam hal munakahat juga. Rasulullah saw pun pernah mendapatkan hadiah untuk menikahi seorang wanita qibti bernama Mariyatul Qibthiyyah, sedang maharnya dibayarkan oleh raja Mesir

Ada juga kafir harbi, yaitu orang-orang kafir yang tinggal di negeri kafir, akan tetapi tidak mengikat perjanjian damai dengan negeri Islam. Tidak ada tukar-menukar duta besar dengan negeri Islam. Namun apabila ada seorang kafir harbi, yang ia datang ke negeri Islam, dan telah mendapatkan visa kunjungan atau visa lainnya, maka ia telah mendapatkan jaminan keamanan juga. Tidak boleh dibunuh atau disakiti. Kecuali jika ia melanggar aturan yang menyebabkan ia pantas untuk dihukum. Maka jika begitu ia dihukum sesuai perbuatannya.

orang-orang kafir harbi, di saat negeri Islam mengadakan ekspansi pembebasan (jihad) ke negeri mereka, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah mendakwahi mereka. Menegakkan hujjah akan kebenaran Islam dan keuntungan memeluk Islam serta mengajak mereka untuk memeluknya. Jika mereka menerima maka mereka sama dengan kita. Tak ada perbedaan lagi kecuali dengan kacamata takwa saja. Apabila mereka menolak maka tidak boleh langsung diperangi. Ditawarkan kepada mereka syariat jizyah. Mereka tunduk dalam wilayah kekuasaan Islam, membayar upeti (jizyah) dan mereka mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan penuh. Mereka bebas menjalankan agama mereka di tempat-tempat peribadatan mereka. Jika keduanya ditolak maka baru perang dimulai. Namun tidak dengan membunuh wanita dan anak-anak serta orang tua yang tidak memerangi kita. Tidak pula orang-orang yang hanya beribadah di tempat-tempat ibadah mereka, juga tidak dengan menghancurkan tempat-tempat ibadah mereka. Kecuali jika mereka jadikan markas/benteng perang. Tidak dengan menebangi pohon atau membunuh ternak. Tidak merusak pertanian dan perkebunan mereka.

Jikapun harus membunuh tawanan perang, maka tidak dengan cara-cara kotor. Tidak ada mutilasi. Tidak dengan menyayat-nyayat, mengelupas kulit atau menggergajinya mili demi mili. Dan kapanpun si kafir mengucapkan laa ilaaha illallah, maka pedang wajib disarungkan kembali. Secara lahir ia tunduk, ia mengakui keesaan Allah, mau masuk Islam. Adapun soal hatinya maka hanya Allah saja yang tahu. Dan jauh sebelum itu, jika di sebuah negeri kafir telah berkumandang adzan, maka pasukan perang wajib mundur karena dakwah dengan damai telah mulai berjalan di negeri itu. Wallahu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: