Jangan Terlalu Alim laah…!

“Jangan terlalu alim laah..!”

Kalimat permintaan yang menyesatkan kepada sebagian orang yang sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pertanyaannya, siapa mereka berani begitu? Mengapa mereka melakukannya?

Alim, secara bahasa berarti seseorang yang mengetahui. Seorang yang mengetahui suatu pengetahuan, baik itu perkara remeh ataupun hal besar, maka secara bahasa ia bisa disebut alim. Adapun kata serapan ini berasal dari bahasa Arab yang juga banyak tersebut dalamt ayat-ayat al-Quran al-Karim. Persepsi yang terbentuk di Indonesia, kata ini berkesan dipredikati kepada merekayang rajin ke masjid, sering terlihat berpakaian peci, baju koko, gamis juga sarungnya, bahkan terlalu sering mengucapkan salam, masuk kategorinya. Jangan terlalu alim laaah..!

Sekarang ini banyak didapati orang-orang muda ataupun tua seringkali kongkow-kongkow di simpang-simpang gang, pinggir-pinggir jalan, warung-warung, bahkan teras-teras rumah mereka. Sementara para tetangga mereka bergegas siap berangkat menuju masjid. Seringkali?? Ya, seringkali karena dalam sehari adzan diserukan sebanyak lima kali, kemudian berapa hari dalam seminggu atau sebulan yang dilalui begitu sering seperti itu?

Sebutlah Hasan, seperti namanya pemuda separuh baya ini ingin terus memperbaiki amalan-amalannya dengan cara banyak berbuat kebaikan. Sepulang dari tempat bekerja pukul lima sore, Hasan biasa mengajak keponakannya yang berusia 10 bulan itu berjalan-jalan sekitar blok rumahnya. Bersosialisasi dengan para tetangga dengan lontaran pertanyaan mereka yang selalu saja sama setiap sorenya, “Shobiy..asyik..jalan-jalan sama om ya. Udah mandi belum niih?”

Setiap sore itu juga jawaban sang Om mewakili keponakannya yang belum juga bisa berjalan itu berucap, “Iya..tante aku sudah mandi nih. Sudah  wangi nih..” Kemudian meihat senja yang makin memerah hati Hasan terbetik untuk segera pulang, bersiap untuk shalat Maghrib berjamaah.

Dalam perjalanan menuju masjid, di persimpangan jalan, Hasan mendapati pemuda-pemuda sebayanya kongkow asyik menikmati senja yang lama-kelamaan menggelap. Merokok, berbincang tanpa arah kepada manfaat, bahkan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Merekalah orang-orang yang mengerti banyak bahasa terutama bahasa Inggris yang paling digemari, mereka lebih senang mencenderungkan diri kepada materi dunia lalu mengaku-ngaku modernis, dan sedikit sekali kepada mengingat akhirat yang perjalanannya lebih panjang dan melelahkan.

“Hei Hasan, apa kabar nih, makin alim aja sekarang!” Seru salah seorang pemuda. “Dilihat dari kopiahnya makin mirip pak Haji Alim aja sekarang!” timpal yang lain diikuti tawa-tawa kecil.

Hasan hanya bisa tersenyum dan mengangkat tangannya sambil berucap, “Assalaamualaikum.” Kemudian berlalu berharap segera sampai ke masjid. Sungguh pemandangan yang menyedihkan, padahal tempat pemuda itu kongkow sangat dekat dengan masjid.

Bahkan telah dikisahkan, ada seorang Ibu muda yang selalu menyuruh anaknya yang berusia 10 tahun pergi ke masjid untuk shalat. Sampai beberapa tahun kemudian, ibunya masih merasa heran, betapa menjadi rajin anaknya pergi ke masjid. Sedang ia telah sering mengikuti kajian rutin setelah shalat yang diadakan di masjid itu. Hingga tahulah ia sekarang tentang hukum shalat bagi pria dan wanita.

Suatu hari, dengan polosnya seorang anak yang sedang menjelang remaja itu berkata kepada sang ayah yang nampak melalaikan shalat berjamaah, “Yah, kita shalat jamaah di masjid yuk?” Tanpa jawaban, panutan dalam keluarga itu masuk ke kamar, tak lama justru sang Ibu yang keluar dan berkata, “Siapa yang mengajari kamu untuk menasehati orang tua?!” Ibu mau mulai sekarang kamu shalat di rumah saja! Jadi anak itu jangan terlalu alim, mengerti?!!”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: