Antara Tahun Baru, dan Topeng-Topeng Harapan

Diiringi teriakan-teriakan terompet yang entah apa maknanya, gempita tahuna baru kembali membahana. Kini, ritual penyembahan yang telah menjadi trend orang-orang kafir itu, juga telah menjadi trend kebanyakan kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, termasuk negeri kita.

Kebanyakan orang menganggap tahun baru adalah momen penting yang diharapkan akan datangnya perubahan. Perubahan nasib, perubahan peruntungan, perubahan keadilan, perubahan keamanan, dan perubahan-perubahan positif lainnya. Maka tak heran di tengah harapan-harapan besar itu, di negeri ini, ketika memasuki awal tahun baru, para pemimpinnya atau orang-orang “besar”nya berlomba-lomba memberi ucapan selamat tahun baru di berbagai media massa dengan iring-iringan do’a agar bangsa atau masyarakat di negeri ini mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Berdo’a? Tentu itu adalah hal yang baik, apalagi do’a itu ditujukan bukan untuk diri sendiri. Namun apa jadinya jika do’a-do’a itu hanyalah “lipstik” belaka yang jauh dari keikhlasan. Kepalsuan dibalik harapan. Atau topeng yang menutupi kebusukan-kebusukan? Lihat saja, dari tahun ke tahun harapan tinggallah harapan. Memang betul terjadi perubahan, tapi perubahan yang negatif. Rakyat semakin miskin dengan kenaikan harga BBM dan sembako. Stabilitas keamanan seringkali tergoncang dengan semakin maraknya kerusuhan. Selain itu, belumlah selesai perbaikan infrastruktur negara karena bencana, sudah disambut dengan bencana lainnya. Dan anehnya, para pemimpin yang biasa menampilkan wajahnya di layar kaca tersebut, ternyata, adalah orang-orang yang biasa menebar segudang janji untuk memperbaiki keadaan rakyatnya, tetapi tanpa diiringi bukti nyata.

Sejujurnya, bagi kita seorang muslim, bukan hanya soal perbaikan pangan atau keamanan yang menjadi masalah. Masalah yang lebih kritis adalah rakyat ini banyak yang tidak memahami tujuan hidup sebenarnya. Musibah kehilangan akhirat lebih bahaya ketimbang musibah kehilangan dunia. Tren-tren kaum kafir yang banyak digandrungi masyarakat kita, jauh lebih berbahaya ketimbang banyaknya rakyat yang jatuh dalam kemiskinan. Kemiskinan juga memang persoalan. Tetapi, kaya atau miskin itu biasa. Tidak akan seseorang itu dipendamkan ke dalam api neraka hanya karena persoalan kemiskinan, dia akan dipendamkan di sana, manakala arah tujuan hidupnya menyimpang jauh dari jalur yang Allah SWT tetapkan.

Begitulah… Bagi kita seorang muslim hidup ini haruslah dibangun di atas keyakinan yang orisinil. Berdasarkan pijakan-pijakan yang asli. Semacam sandaran yang sangat kuat atas segala ucapan-ucapan atau langkah-langkah hidup kita sehari-hari. Sandaran itu berpulang kepada riwayat asal mula kita ada. Bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT, menyembah, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab hidup ini begitu penuh tanggung jawab. Menuju akhir yang gelap di hari perhitungan. Sementara amal kita hanya sedikit dan tak jelas apa akan sampai dikadar keridhaan.

Itulah ikatan tauhid yang menginspirasi segala macam kesemangatan, perilaku, kejujuran bahkan, dalam soal trend gaya. Bahwa kita harus menyembah-Nya, mengikuti aturan-Nya, dan mengerti juga apa intisari dari tujuan Ia menciptakan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: