Ujian Penjara Dunia

“Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan sebagai surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)

Dunia adalah penjara.. benarkah? Mari kita cermati. Gunakan cara pandang berbeda. Koleksi kreasi bangun percaya diri. Seperti kisah di bawah ini.

Laki-laki itu seorang ulama di zamannya. Pengarang kitab yang amat terkenal, Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari. Siapa dia? Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.

Suatu hari sebagai qadhi, ia berkendara dengan keledai yang bagus. Pakaiannya bagus. Performanya meyakinkan. Saat melintas di sebuah pasar, tiba-tiba seorang Yahudi pedagang minyak menghadang. Memegang tali kekang keledai sang Imam, seraya berkata, “Ya Syaikhul Islam, Anda menyatakan bahwa Nabimu bersabda, ‘Dunia itu penjara bagi orang-orang beriman, dan surganya orang kafir.’ Dengan penampilan Anda yang seperti ini, Anda dipenjara seperti apa? Dan dengan keadaan saya yang begini ini, saya berada surga seperti apa?”
Ibnu Hajar menjawab, dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan di akhirat, seolah dalam penjara. Engkau dengan kondisimu seperti itu, dibandingkan dengan siksa dan hukuman yang Allah ancamkan di akhirat nanti sekarang berada di dalam surga.

Luar biasa! Mendengar jawaban tersebut , Yahudi spontan menyatakan masuk Islam. Sehebat apapun orang mukmin di dunia, ia masih berada dalam ‘penjara keterbatasan’. Segembel apapun orang kafir, mereka masih di surga, sebab masih ada neraka menyala menanti mereka.

Berpikirlah merdeka. Jadikan pesona dunia sebagai inspirasi surga, seperti Imam Ibnu Hajar. Merdeka, jangan penjarakan dirimu dalam jeruji maksiat.

Wahai pengembara di penjara dunia, jadilah orang asing, pelancong. Nikmati wisata dunia sekedarnya. Kita pasti kembali.

“Jadilah engkau di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang dalam perjalanan.” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau berada di waktu sore, maka jangalah mengharapkan akan hidup di waktu pagi. Dan jika kamu pada waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Pergunakalah masa sehat itu untuk bekal masa sakit, dan masa hidup untuk bekal kematian.” (HR. Bukhari)

Waktu di dunia ini adalah sama dengan waktu di sekolah. Ia sama dengan kampus kehidupan, ‘University of life’. Afghanistan, Irak, Palestina, Chechnya adalah universitas jihad. Para alumninya kini berbahagia di surga, insyallah. Pasar adalah kampus kejujuran. Kantor sebagai kampus pelayanan. Jalanan kampus pengendalian diri.

Pemukiman kumuh kampus kepedulian. Di mana masing-masing tempat memiliki ujian-ujian, maka pekalah dengan waktu yang disediakan. Manfaatkan untuk investasi abadi, amal shalih.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Dan ujian itu bukan mustahil. Ia bisa ditempuh, asal sungguh-sungguh. Bila ujian itu mustahil tentu tidak berguna, tidak bisa untuk membedakan antara prestasi dan frustasi. Padahal Allah berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286)

Menurut Sayyid Quthub, ujian adalah tanggung jawab pribadi yang mesti diemban. Ujian adalah pembangkit himmah atau hasrat dan semangat untuk membentuk manusia menjadi pribadi utuh dan positif. Manusia adalah manusia, bukan malaikat, bukan pula hewan atau setan. Manusia adalah makhluk mulia, karena Allah memuliakan dan menyempurnakan ciptaanNya. Ia lebih mulia daripada malaikat, sebab diberi akal untuk bersyukur dengan menggunakan pendengaran, penglihatan, dan hatinya. Namun ia bisa jatuh terhina seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi, bisa menjadi setan durjana terlaknat karena akal pikirannya tak bermanfaat.

Bagi orang mukmin, telah dijadikan mudah penjara dunia ini untuk dilewatinya. Mereka yakin, mereka mengembalikan ujian-ujian yang dihadapi kepada yang memberikannya. Dan kelak hanya kepadaNyalah mereka dikembalikan. Mereka yakin akan kembali kepada Allah .

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepadaNyalah kalian (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)  wallahu a’lam

Sumber: The Way to Win (Solikhin Abu Izzuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: