Andai Kalian Tahu, Wahai Ummi dan Abi

“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra: 23)

Ketika Aku berada di bangku SLTA tepatnya di tingkat I semester akhir, sejak itulah aku mulai mengenal Islam yang hak, yaitu Islam yang murni yang mana selama aku menuntut ilmu tersebut belum ada satu pun kecacatan atau hal-hal yang menyimpang dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah yang shalih. Hingga pada suatu hari, Aku pun terus berusaha mendakwahkan dan menerapkan ilmu yang Aku peroleh mulai dari dalam hal pemahaman Aqidah, Fiqih, dan Ilmu-ilmu syar’i lainnya.

Kemudian tepatnya ketika Aku ber-ada di tingkat 3 SLTA dan hampir mena-matkan sekolah SLTA, keluarga ku pun mulai menyadari dan mencurigai Aku. Karena hampir 2 tahun belakangan ini, aku melaksanakan tata cara peribadahan yang berbeda dari yang dulu biasa Aku laksanakan sebelum Aku mengenal sun-nah. Akhirnya, pengawasan mereka, ter-utama kedua orang tuaku terhadapku semakin ketat karena mereka khawatir jika Aku terjerembab ke dalam pema-haman yang sesat.

Kendatipun demikian, aku tidak patah semangat untuk terus me-nyakinkan mereka bahwasanya ilmu syar’i yang selama ini Aku pelajari adalah ilmu yang haq beda dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah Aku pelajari sebelum aku mengenal sunnah yang mana sumber rujukannya itu tidak jelas.

Hingga suatu hari setelah aku tamat dari jenjang SLTA, aku pun memutuskan untuk melanjutkan studiku ke sebuah Ma’had sunnah yang sebelumnya aku pernah menimba ilmu dari Ma’had ter-sebut setiap akhir pekan setelah pulang sekolah, dan memang sebelumnya juga aku sudah sempat menyinggung sejak awal tentang rencanaku untuk menerus-kan studi ke Ma’had tersebut. Pada awalnya keluargaku mendukung tentang ke-putusanku, tapi ketika mereka mendengar isu-isu yang tidak benar tentang Ma’had itu yang dikatakan sesat/mengajarkan ke-pada kesesatan, akhirnya mereka pun mengubah keputusannya dengan tidak merestui aku untuk melanjutkan ke Ma’had, tetapi bukan hanya itu, Aku pun di-baikot oleh keluarga untuk tidak menimba ilmu syar’i lagi di sana dan dilarang untuk tidak lagi berhubungan dengan akhwat yang ada di sana. Mendengar keputusan keluarga itu, pada awalnya aku merasa sangat sedih dan kecewa, sedih karena mereka mengubah keputusannya dan sangat kecewanya lagi karena mereka mudah percaya kepada orang lain ke-timbang anaknya sendiri. Aku pun me-renung sejenak, dan mengambil tindakan untuk meng-sms salah seorang murobiyah.

Beliau memberiku tausiyah agar Aku te-rus bersabar dan senantiasa berusaha bersikap baik kepada keluarga dan ber-bakti kepada kedua orang tua. Beliau mengatakan, “Ukhti… cobalah berkhusnu zhon kepada mereka, mereka melarang ukhti untuk menimba ilmu di Ma’had semata-mata karena mereka khawatir ukhti terjerembab ke dalam ajaran-ajar-an sesat, dan cara untuk dapat mengambil kepercayaannya kembali adalah dengan terus bersabar, bersikap baik kepada ke-luarga dan berbakti kepada kedua orang tua. Buktikan bahwasanya setelah ukhti mengetahui dinul Islam yang haq ini, ukhti menjadi lebih baik dalam segala hal baik dalam hal ibadah, muamalah, birrut walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Sebagaimana Allah telah berfirman kepada hamba-hamba-Nya untuk senan-tiasa berbakti kepada kedua orang tua.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كُِلاَهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا
“Dan Rabbmu Telah memerintahkan su-paya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lan-jut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (QS. Al-Israa : 23)

Dan tidak mendurhakai mereka, salah satu diantaranya adalah mencaci ayah dan ibu orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah , “Termsuk dosa besar seorang lelaki mencaci kedua orang tuanya, yaitu seseorang mencaci ayah orang lain lalu orang tersebut balas mencaci ayah dan ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan kita pun jangan lupa untuk terus berdo’a kepada Allah
Yang Maha Membolak-balikan hati untuk memberikan hidayah dhilalah dan Taufik kepada keluarga dan terus berusaha men-dakwahkan mereka kepada ajaran Islam yang haq.

Alhamdulillah..bi’idznillah akhirnya me-reka pun kembali mendukung Aku untuk menimba ilmu di Ma’had, sedikit demi sedikit keluargaku pun mau menerima ilmu yang aku sampaikan walaupun sedikit, dan aku akan terus berusaha dan memohon kepada Allah semoga Dia memberikan hidayah dhilalah dan taufiq kepada keluar-gaku. Karena aku tidak mau hanya diriku saja yang terselamatkan dari api Neraka, sedangkan keluargaku merintih kesakitan akibat siksaan Allah yang pedih, wa ‘iyya dzu billah tsumma Na’udzubillah sebagaimana Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperin-tahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintah-kan. (QS. Tahriim:6)

Oleh karena itu wahai ikhwah wa akhwati fillah, bagi kalian yang baru saja mengenal Islam yang haq dan yang sedang berusaha pula untuk mengamalkannya akan tetapi masih ada cobaan dan ujian yang dihadapi, seperti perlakuan orang tua dan keluarga yang masih menentang dan belum mau menerima ajaran Islam yang haq, janganlah berputus asa dan tetaplah bersemangat, teruslah bersabar, berusaha dan berdo’a kepada Allah karena Dia-lah yang menguasai hati-hati para hamba-Nya, bermunajatlah kepada-Nya agar Dia memberikan hidayah dhi-lalah dan taufiq kepada keluargamu, dan keluarga kita semua. Yakinlah kepada-Nya, karena sesungguhnya Rasulullah bersabda dalam hadits qudsi, “Sesung-guhnya Aku (Allah ) tergantung persangkalan hamba-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim)

NJ (Ma’had Mu’alimat)

Dalam sebuah hadits shohih dari Nabi , beliau bersabda, “Pada hati kiamat akan diseret seseorang lalu dibuang ke dalam neraka, lalu memuncratlah semua isi perutnya. Lalu ia berpputar mengelilinginya seperti keledai mengelilingi penggilingannya. Kemudian penduduk neraka berkumpul melihatnya dan berkata kepadanya, ‘Hai fulan, ada apa denganmu? Bukankah dulu kamu menyeru kami berbuat yang nakruf dan melarang kami berbuat yang mungkar?’ Maka ia menjawab, ‘Ya dulu saya telah menyuruh kalian berbuat yang makruf tapi saya sendiri tidak melakukannya. Saya melarang kalian dari berbuat yang mungkar namun saya sendiri melakukkannya.'”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: