Bahaya Memanjakan Hawa Nafsu

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya."
(QS. Al-Furqaan: 43)

Bagaimana Menghadapinya

Maha Suci Dzat yang telah menjadikan manusia disibukkan dengan berbagai urusannya masing-masing. Dia pulalah yang mengajarkan doa agar setiap urusan itu rasyada (lurus, selesai). Tuntas sempurna seperti yang diharapkan. Yang tentu ini tak bisa lepas dari rahmat (belas kasih) Allah.

Alkisah di suatu kali, ada dua orang buruh yang memikul batangan besar pohon untuk kayu bakar. Keduanya mendendangkan nasyid-nasyid yang saling bersahutan. Mereka mengucap-kan kata-kata yang sangat menghibur. Yang satu mendengarkan apa yang didendangkan temannya, dan ia mengulanginya ataupun menyahut dengan kata-kata hiburan yang lain. Begitu sebaliknya dan terus, hingga mereka sampai di tempat tujuan, menyelesaikan pekerjaannya dengan tanpa membawa beban seperti lupa akan beban yang tengah mereka pikul.

Menangkap satu isyarat dan pelajaran yang menarik dari perilaku kedua orang ini, adalah bahwa jika mereka tidak mendendangkan nasyid, pasti mereka akan merasa bahwa beban yang mereka bawa sangatlah memberatkan. Dialog mereka lewat hal ini dan pengalihan perhatian mereka dari beratnya beban kepada sesuatu yang menyenangkan lagi menghibur, dapat membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan.

Setiap manusia, siapapun ia, orang yang di dekatnya, atau kita sendiri, yang telah Allah jadikan mudah bagi mereka jalan kepada kefujuran atau ketakwaan, jalan menuju kepada dosa atau pahala, selalu diberikan pilihan untuk menyelesaikan setiap urusannya. Inilah sebenarnya apa yang diemban manusia, berat terasa olehnya dalam memikulnya, melewati perjalanan panjang hidupnya, saat ini hingga nanti akhir hayatnya di dunia. Inilah beban manusia yang jika jernih hatinya, ia akan berhenti sejenak dan berpikir, ia akan memilih bagaimana bersabar menghadapi hawa nafsunya bahkan mampu menaklukkannya.

Bisyr Al-Hafi, suatu ketika ia melakukan perjalanan dengan seorang laki-laki dari kawannya yang merasa haus dan berkata kepadanya, “Mungkinkah kita minum dari air sumur ini?”
Bisyr berkata, “Bersabarlah kita minum di sumber air yang lain saja.”
Tatkala keduanya telah sampai pada sumur yang lain, temannya berkata, “Mungkinkah kita minum dari sumber air ini?”
Bisyr berkata, “Kita minum di sumber yang lain lagi.” Demikian ia terus menerus memberi alasan setiap bertemu dengan sumber air. “Bersabarlah.” Mereka pun kembali berjalan. Sambil menoleh kepada laki-laki itu Bisyr berkata, “Begitulah semestinya dunia ini kita lewati.”

Menjadikan diri kita sabar menghadapi ujian dunia untuk tetap berada dalam ketakwaan dan ketaatan ibadah, menghibur diri dalam rangka menenangkan jiwa dengan memperbanyak pendekatan Ilahiyah, adalah cara yang benar dalam menghadapi semua urusan dunia. Berani menekan kecenderungan diri terhadap hawa nafsu atau syahwat yang mungkin sering kali melampaui batas. Bertekad bulat tegakkan jihad melawan dunia dan syahwat. Cepat menyikapi kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan di hadapan, agar tidak dikalahkan. Karena sesungguhnya ini adalah perang, maka berpegang- teguhlah pada keyakinan, laksana berpegangan pada tali kekang saat kuda berlari kencang. Serta beristiqamah kepada kesungguhan agar menang dalam usaha pemurnian. Sehingga akal, hati dan pikiran kita tetap pada jalur yang lurus.

Lebih Dekat Mengenalnya

Hawa nafsu atau syahwat, salah satu unsur dalam jiwa manusia yang hendaknya setiap pemilik itu mengenalnya. Hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat terhadap apa yang sesuai dengannya. Dalam pengertian ini ia tidaklah tercela. Ibnu Qayyim berkata, “Kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu itu melahirkan yang haram atau mengarah kepada yang haram karena kadarnya yang melampaui batas.”

Sering kali memang, hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal jika mengingat sebuah syair yang berbunyi, ‘Banyak kelezatan yang membunuh kebahagian’, seseorang akan lebih berhati-hati dengannya. Ia tak kan rela merasakan hubungannya renggang dengan istrinya karena nikmatnya dada berdegup berbuat serong. Ia berharap melihat anaknya tumbuh dewasa, tanpa tahu anaknya melayang di atas lezatnya asap candu narkoba. Seseorang akan merenung dalam-dalam di belakang jeruji kurungan, setelah beberapa jam yang lalu ia puaskan mengutil perabot rumah tangga di sebuah swalayan.

Hawa nafsu seperti jaring-jaring yang menjerat. Situasi yang dijumpai memaksa untuk melakukannya, setelah itu akhir dari segala pilihan adalah tangisan dan penyesalan. Mulailah terhitung banyak orang yang terperangkap dalam dosa dan tidak bisa lagi keluar.
Ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, dia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu. Namun hawa nafsunya tetap berpaling dari berpikir mengenai kehinaan itu. Yang demikian ini adalah sifat daripada binatang, karena hawa nafsu tidak pernah berpikir tentang akibat, hanya saja binatang lebih bisa dimaklumi. Jadi, hawa nafsu itu tak lebih laksana binatang liar yang harus dirantai lehernya, karena ia akan menghancurkan tanaman takwa yang ada di dalam jiwa.

Tetapi perkara ini menjadi sungguh aneh. Ada banyak orang yang membiarkan hawa nafsunya melakukan apa-apa yang disenanginya, lalu menjatuhkan orang tersebut pada sesuatu yang ia sendiri pun tidak menyenanginya. Sedangkan ada pula orang yang mengekang nafsunya sekencang-kencangnya, hingga melarangnya dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan. Saat itulah seseorang disebut telah menzhalimi nafsunya sendiri. Padahal niatnya mencenderungkan tabiat kepada hal yang baik.

Akibat kezhalimannya terhadap nafsunya sendiri ini, ada orang yang ingin sampai pada tingkat zuhud namun makan tidak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan tubuhnya, sehingga mengakibatkan dirinya lemah untuk melakukan kewajiban-kewajiban ibadah. Ada juga yang terlalu menekan nafsunya dengan menyendiri dan menjauhkan diri dari lingkungan, sehingga terasingkan dari manusia dengan alasan menjauh dari kehinaan makhluk dan menyatu dengan Sang Khalik. Akibatnya, justru ia tersesat terlebih meninggalkan kewajiban-kewajiban sosialnya yang utama, seperti menjenguk orang sakit, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, ataupun berdakwah.

Jika terbuka bagi seseorang pintu-pintu menuju hal yang mubah, hal yang halal-halal saja, maka ia takkan berlebihan mempergunakanya. Berusaha terus memenuhi kewajiban-kewajiban ibadahnya dan menambah-nya dengan amalan-amalan sunnah. Demikian mereka yang mau mendidik hawa nafsunya, mengajarinya dengan kesungguhan dan memiliki semangat dan keyakinan dalam menjaga prinsip-prinsip agama. Berbeda dengan mereka yang senang membiarkan hawa nafsu memenuhi keinginannya dan memanjakannya. Maka akan tersingkaplah maksiat-maksiat yang sering dilakukan para pendosa.

Bahayanya

Bicara hawa nafsu, kita ingat sekali Allah mengisahkan Yusuf dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ketika masalahnya mengaitkan beliau dengan hawa nafsu seorang wanita yang hampir tak terbendung. Seorang pria dihadapkan wanita cantik jelita dengan gelora birahi menyala-nyala. Kekaguman siapa sampai suasana panas membara hampir menyeret ke dalam kelamnya jurang hitam?

Seseorang yang sekali tergoda hawa nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang diharamkan, dan ia tidak memikirkan akibatnya, ia akan ketagihan hingga diarahkan kepada satu kondisi di mana ia tidak lagi merasakan kenikmatan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, biasa dengan keburukan berarti biasa dengan kehinaan. Yusuf memilih kesabaran sesaat demi selamatnya ia dari dalamnya jurang kehinaan.

Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukannya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya seperti antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian akan didapati jika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya.
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.” (QS. Al-Furqaan: 43)

Sesungguhnya manusia lebih unggul daripada binatang, karena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu mengusainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya daripada makhluk tak berakal. Sungguh bahaya!
إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً
“Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.”

Unta itu makan lebih banyak daripada manusia, burung pipit lebih sering melakukan hubungan seksual daripada manusia, binatang itu bebas dalam melampiaskan keinganannya tanpa pernah merasakan kesedihan dan kesusahan akibat mengikuti hawa nafsunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: