Real, Mayoritas Anak Memang Begitu

Tanggung Jawab Pendidikan

Mayoritas penyebab kerusakan anak-anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka. Benarkah? Ada yang ingin disalahkan? Tentunya tidak pada kita, jelas. Dan tentu tidak ada di antara orang tua mana pun yang ingin mendapatkan adzab dari Allah , bahkan dua adzab sekaligus. Ya, pertama adzab yang pedih karena mengotori mutiara yang mulia itu, dan kedua karena melakukan tindak kesalahan.

Anak, mutiara hati yang diamanatkan Allah , yang Rasulullah telah kabarkan sebenarnya anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, dalam keadaan Islam, menerima. Orang tuanyalah yang akan menjadikan mereka tetap dalam ke-Islaman, atau menjadikan Yahudi, Majusi, atau juga Nashrani. Jika kita menempatkan tanggung jawab anak ke tempat persemaian yang buruk, hendaknyalah sebelum itu berhati-hati. Konsekwensi amanat ini adalah terpeliharanya diri dan keluarga dari api neraka.

Islam telah menerangkan dengan gamblang tentang tanggung jawab orang tua terhadap anak. Dengan mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk meluruskan anak-anak kita, senantiasa memperbaiki kesalahan anak serta membiasakan mereka berbuat baik, merupakan tanggung jawab pendidikan orang tua muslim terhadap anaknya. Allah telah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong untuk itu dan memikulkan tanggung jawab ini kepada mereka.

Ibnul Qoyyim menjelaskan, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu ia membiarkannya begitu saja, berarti telah berbuat kesalahan besar.”

Setelah sebelumnya kita bicarakan pernikahan dengan semua tanggung jawabnya, alhamdulillah, saat ini kelahiran mutiara hati yang menjadi idaman bagi setiap pasutri (pasangan suami dan istri) yang tentunya tak lepas dari tanggung jawab yang juga cukup besar akan siap kita pikul, semoga Allah memberi kepercayaan itu kepada setiap keluarga muslim. Ya, tanggung jawab yang di mana seseorang akan ditanya mengenainya di hari kiamat kelak. Ada baiknya kita ingat sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, “Pada hari kiamat nanti setiap hamba akan dihadapkan kepada Allah lalu Allah berfirman, ‘Bukankah Aku telah menjadikan pendengaran, penglihatan, harta dan anak untukmu? Bukankah aku juga telah tundukkan binatang dan ladang untuk kamu gunakan? Dan bukankah Aku telah membiarkan kamu memiliki dan menikmati apa yang ada? Maka, yakinkah kamu ketika itu bahwa kamu pada hari ini akan berjumpa dengan-Ku?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Allah pun kemudian berfirman kepadanya, ‘Pada hari ini Aku akan melupakanmu sebagaimana kamu pun melupakan-Ku.'”

Pasangan muda, atau mereka yang baru selesai melakukan proses pernikahan sering membayangkan ingin sekali begini dan begitu setelah nanti sang buah hati lahir ke dunia. Bahkan mereka yang telah lama berkeluarga dan memiliki keturunan sangat menginginkan keuntungan yang banyak bagi anak keturunannya. Perhatikan kisah di bawah.

Nabi Khidhir , ketika beliau membangun sebuah tembok dan benteng secara sukarela, tanpa mengambil upah dari pekerjaannya, lalu bertanyalah Nabi Musa tentang alasannya, akhirnya Khidhir menjawab, “Karena kedua orang tuanya shalih,” bahkan para malaikat turut mendoakan anak-anak mereka.
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتٍ عَدْنٍ الَََّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak meraka, dan istri-istri mereka serta keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mukmin: 8) di surat yang lain Allah berfirman, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur: 21)

Begitu Allah berjanji, keshalihan orang tua bisa memberikan keuntungan bagi anak keturunannya. Keshalihan kedua orang tua merupakan teladan yang baik bagi anak, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kejiwaan anak. Jika anak dan cucu bisa tumbuh dalam nuansa ketaatan kepada Allah dan menyeru kepada agama-Nya, maka akan terjadi pertemuan di antara mereka kelak di surga yang kekal abadi. Inilah keuntungan yang sejati. Keuntungan dengan sebenar-benarnya keuntungan.

Mayoritas Memang Begitu

Pendidikan adalah hak anak yang menjadi kewajiban atas orang tua. Ia merupakan hibah atau hadiah dari Allah , karunia yang diberikan Allah kepada manusia, hati gembira menyaksikannya, jiwa menjadi tentram ketika bercanda ria bersamanya, anak, ia adalah perhiasaan dunia, terlebih di usia mereka ketika masih balita. Subhanallah.. pasti lucu.

Siapa yang tak menyukai hadiah dan perhiasan dunia? Kabar gembiranya adalah seperti yang Rasulullah sabdakan bahwa ‘Jika seseorang meninggal, amalnya sudah terputus, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.’ Terbayang bukan seorang anak yang digambarkan? Sebutannya jelas, anak shalih, yang menurut kepada orang tua. Untuk itu orang tua dituntut mengimplementasikan perintah-perintah Allah dan sunnah Rasulullah sebagai perilaku dan amalan serta terus menambah amalan-amalan sunnah tersebut semampunya. Sebab, anak yang baru tumbuh akan selalu mengawasi perilaku kedua orang tuanya.

Halnya akan lain ketika justru anak menjadi subjek rasa kesal yang menyesakkan dada kita. Rasanya, heeem…ingin cubit saja, ingin pukul, dan ingin-ingin yang lain sekiranya itu bisa terlampiaskan. Dari yang kerjanya tidak mau buat tugas sekolah, pergi keluar rumah tanpa pamit, berkelahi dengan teman, memecahkan perabot rumah tangga, bahkan sampai berbohong. Benar tidak? Hadiah pemberian ini akan seperti lusuh dengan bentuknya yang lain.

Tapi tunggu dulu, perlu memang memberi ‘punishment’ kepada anak. Setelah kita tentunya mengerahkan seluruh sarana metode pendidikan baik yang bersifat penalaran, pemikiran maupun kejiwaan. Memberi hukuman atau.. mari kita ganti dulu kata hukuman dengan ‘pelajaran’, karena anak adalah objek didikan, mereka adalah golongan yang masih perlu dididik dan bukan diberi sanksi, jadi saat ini kita ganti kata memberi hukuman dengan memberi pelajaran. Pelajaran tersebut hendaklah menjadikan anak merasa bahwa perkara mentaati orang tua yang dihadapinya adalah serius dan bukan main-main.

Masa anak-anak adalah masa bermain, bersenda-gurau dan aktif bergerak, mayoritas mereka begitu. Orang tua dan pendidiklah yang harus memahami betul karakteristik kejiwaan anak, sehingga mereka tidak menerapkan metode pendidikan yang mengekang, membelenggu dan meneror jiwa anak, yang menjadikan anak kehilangan keceriaan, merasa takut dan tertindas. Real, keceriaan dan kesedihan anak-anak adalah kejujuran, polos.

Ada anak-anak yang bisa menerima didikan dengan mudah, namun ada yang tak bisa menerimanya. Demikian juga ada anak-anak yang tidak punya rasa malu, namun ada pula yang sangat pemalu. Ada yang memperhatikan apa yang diajarkan kepadanya dan mau mempelajarinya dengan serius dan sungguh-sungguh, ada juga yang jenuh untuk belajar bahkan tidak suka belajar.

Di antara anak-anak yang punya perhatian dan punya ilmu itu jika diberi pujian lebih, ia akan belajar lebih banyak lagi, namun ada sebagian dari mereka yang baru mau belajar setelah dimaki dan dimarahi oleh pendidiknya. Ada juga di antara mereka yang tidak mau belajar kecuali untuk menghindari pukulan. Begitulah adanya perbedaan mencolok antara anak-anak yang bosan belajar dan yang teguh dalam belajar, yang suka dusta dan yang suka jujur.

Hingga saat ini para ahli kesehatan anak masih percaya bahwa perkembangan psikis dan emosional anak tercermin dari pada kemampuan belajarnya. Maksudnya, bagaimana respon anak untuk mengerti, mengingat dan mengkomunikasikan informasi adalah faktor utama yang menjadi indikator perkembangan seorang anak. Anak-anak yang tak mampu merespon dengan cepat informasi yang ada di sekitarnya, akan cendrung mengalami kesulitan belajar. Apabila orang tua meneladani anak dengan bekal kebaikan, menyuguhkan informasi atau ilmu-ilmu yang bermanfaat dengan jujur, niscaya anak akan meresponnya.

Kejujuran, Rasulullah telah memberi perhatian untuk menanamkan perangai ini pada diri anak. Beliau juga memberikan pengarahan kepada orang tua agar membiasakan diri berperilaku jujur. Ini dengan maksud agar mereka tidak terperosok ke dalam ketidakjujur-an yang tercela itu, lalu berbuat bohong kepada anak yang pada akhirnya nanti akan ditiru si anak tersebut. Beliau juga menempatkan ini sebagai kaidah umum bahwa anak juga manusia yang mempunyai hak-hak dalam hal muamalah kemanusian. Kedua orang tua tidak dibenarkan untuk menipu atau berbohong dengan cara apapun dan mengabaikan bermuamalah dengannya. Don’t lie your child!! (Jangan bohongi anakmu!!)

Arahan Yang Baik dan Benar

Ada anggapan anak kecil nakal itu ‘wajar, namanya juga anak-anak’, stop!! Ganti imej ini. Seorang pakar pendidikan yang bernama Abu Was mengatakan, “Perilaku buruk orang disebabkan oleh kebiasaan ketika kecil. Ini terjadi jika akhlak mereka tidak diarahkan secara baik.” Pendidikan sejak dini haruslah diberikan kepada anak agar ia terbiasa terdidik kepada hal-hal yang baik. Didikan yang baik akan bisa merubah perangai buruk menjadi terpuji. Karakter buruk anak itu bisa saja terjadi karena adanya pengabaian ketika kecil.

Sebagai orang tua harus bisa mendetek ‘kenakalan’ mereka sendiri, sadarkan diri kita. Oh ya..? kami pun nakal?? Kenakalan pada anak sangatlah berbeda dengan kenakalan orang tua dan ini jarang sekali disinggung. Padahal hampir dipastikan bahwa penyebab utama kenakalan anak dan remaja sering berawal dari kenakalan orang tuanya sendiri. Dari tinjauan psikologisnya, pikiran dan keinginan antara keduanya pun tentu sangat berbeda.

Kenakalan orang tua yang paling fatal adalah kebodohan mereka tentang pendidikan anak yang benar. Berawal dari sinilah lahirnya anak-anak tak berpendidikan dan salah asuhan. Beberapa faktor yang menggiring mereka kepada keadan seperti ini adalah lemahnya keinginan para orang tua untuk mengerti akan tugas dan tanggung jawab utama sebagai kepala rumah tangga, suami bagi istrinya dan orang tua bagi anaknya. Kemudian, ibarat bayangan, anak hanya akan mengikuti benda aslinya, orang tua yang sedikit uswahnya (teladan baik) siap-siap untuk ditaklidi secara membabi buta oleh anak-anaknya. Apa yang diperbuat orang tuanya disimpulkan sebagai kebaikan yang harus ditirunya, dan apa yang ditinggalkan orang tuanya maka tidak boleh dikerjakannya.

Oleh karena itu kami sarankan agar mendidik anak sejak usia dini. Sebab, ketika itu mereka bisa diarahkan dan dibentuk dengan perilaku yang baik dan perbuatan-perbuatan yang terpuji (asal berikutnya ia tidak dikuasai oleh kebiasaan buruk yang akan menggantikan anaknya dengan adab dan perbuatan-perbuatan yang terpuji ketika kecil). Orang tua pun akan mendapatkan keutamaan, kecintaan, kemuliaan dan akan mencapai puncak kebahagiaan. Jika tidak, maka ia akan mendapatkan yang sebaliknya. Jangan kita ikut samakan anak kita dengan kebanyakan anak yang orang tuanya sendiri menyebutnya ‘nakal’. Orang tua akan menyesal karena memetik buah dari kesalahannya sendiri yang ia lakukan jauh hari.

Allah telah memberi kesempatan kepada kita untuk mendidik anak-anak (pada periode kanak-kanak yang masih suci) sebelum setan laknatullah ‘alaih mendapat giliran untuk mempengaruhi-nya, ikut andil besar di dalamnya. Orang tua yang semestinya menjadi uswah perlu melakukan upaya yang jauh lebih keras lagi di masa mendatang untuk memperbaiki anak-anak mereka, jika mereka sedikit saja mengabaikan hal ini. Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka yang mudah dan tidak sedikitpun ragu bahwa Rasulullah adalah pendidik yang sukses dalam segalanya, sehingga kita dapat bermutaba’ah (mengikuti) terhadap semua kebaikan-kebaikan beliau, amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: