Pahlawan dan Perubahan (1)

“Jangan cepat puas, bangga atau bahagia saat nama kita disebut oleh jutaan orang, terukir dengan tinta sejarah atau mungkin dalam kalam Allah sekalipun. Serta jangan cepat pula kecewa, rendah diri atau merana saat nama kita tak pernah disebut oleh lisan-lisan manusia, tak tersebut dalam berita sejarah atau mungkin oleh kalamullah sekalipun”

Persoalannya memang bukan sekedar nama yang disebut atau diukir, tetapi persoalannya adalah dalam konteks apa nama kita itu disebut dan diukir dalam sejarah? Dengan kebaikan dan kemuliaan atau keburukan dan kehinaan ? Bukankah ada Iblis yang namanya terukir di Lauhul Mahfudz, akan tetapi dalam kerangka la’natullah ? Bukankah Fir’aun yang gelar kebesarannya terukir dalam Kalamullah akan tetapi dalam kerangka tagha dan kafaro ? Padahal di sisi berseberangan terdapat beberapa tokoh yang namanya tidak disebut secara langsung oleh Allah, akan tetapi sejarah hidup mereka terukir dalam tinta emas Al-Quran yang mulia. Ada Ahlul Ilmi yang mengukir sejarah di zaman Sulaiman as, ada Rojulun Yas’a yang menoreh kepahlawanan di kisah Yasin, ada Ashhabul Kahfi yang istiqomah ratusan tahun dalam tauhid dan ada pula Ashhabul Ukhdud yang meregang nyawa karena kebesaran jiwa dalam iman di zaman Bani Israel.

Intinya, mereka telah mengukir sejarah kepahlawanan dan perubahan di alam fana ini, walaupun masing-masing berada pada posisi kontradiktif dengan yang lainnya. Kemasyhuran, kemuliaan dan kehormatan telah menjadi ajang perlombaan mereka yang berjiwa besar dengan segala tantangan dan rintangannya.

Ada satu kata kunci yang dapat terlihat dalam perlombaan meraih kemasyhuran, kemuliaan dan kehormatan, yaitu “Merubah sejarah dan menjadi pahlawan di masanya”.

Saudaraku !

Perubahan dan kepahlawanan adalah 2 fenomena yang tidak dapat berpisah, selalu bersatu dalam satu kata dan fakta. Tidak ada satu perubahan pun yang terjadi tidak ada pahlwan di balik peristiwa tersebut. Di mana ada perubahan di situ ada pahlawan. Di saat muncul pahlawan, sinar perubahan tampak berbinar. Pahlawan di mulai dari perubahan dan akan melahirkan perubahan. Hanya orang yang bersedia menjadi pahlawan, yang dapat berjiwa besar dan orang yang berjiwa besarlah yang akan menjadi pahlawan perubahan. Di mulai dari perubahan, lalu menjadi pahlawan, hingga terjadi perubahan dan tergapailah kemasyhuran, kemuliaan dan kehormatan. Inilah rahasia firman Allah SWT dalam membangkitkan semangat kepahlawanan :

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka” (Qs. 13:11)

Akan tetapi, saudaraku ! Untuk merubah diri menjadi pahlawan, kita membutuhkan seperangkat bekal yang harus kita miliki. Apa saja bekal itu ? Kita dapat menyimak rahasia-rahasia Al-Quran ketika mengungkapkan kisah kepahlawanan. Dalam Al-Quran yang menceritakan kisah-kisah kepahlawanan, setidaknya dapat diambil 3 karakteristik utama yang harus dimiliki seorang pahlawan, yaitu :

1. Ilmu dan Keikhlasan

Tahukah kita, apa yang menyebabkan terjadinya perubahan besar di awal penciptaan manusia pertama ? Malaikat yang tak pernah lelah bertaqdis kepada Allah SWT itu pun harus patuh menundukkan diri dengan bersujud kepada Adam ? Walaupun secara kasat mata – seperti yang dilansir Iblis – Adam hanylah sosok makhluk yang diciptakan dari tanah yang tidak lebih mulia dibandingkan dirinya yang tercipta dari api ? 2 makhluk-Nya telah mengukir sejarah mulia, yaitu Adam dan Malaikat, sedangkan satu makhluk-Nya, yaitu Iblis telah mengukir sejarah hina, bahkan la’nat hingga hari kiamat. Ada 2 rahasia yang membuat mulia kedua pahlawan perubahan besar dalam sejarah hidup dan kehidupan sepanjang zaman itu.

Adam yang dimuliakan dengan ilmu

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab “Al-Fawid” (Hal. 162) memberikan ulasan:

“ Allah SWT berkehendak menampakkan kemuliaan dan keutamaan Adam terhadap seluruh makhluk-Nya. Lalu, Allah pun menciptakan makhluk-makhluk itu lebih dahulu daripada Adam. Karena itu, Malaikat berkata : “Sesungguhnya Rabb kita menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya. Dia tidak menciptakan satu makhluk pun yang lebih mulia daripada kami”. Maka, ketika Allah menciptakan Adam dan memerintahkan untuk sujud kepadanya, mulailah jelas keutamaan dan kemuliaan Adam dibandingkan mereka disebabkan ilmu pengetahuan

“Ingatlah ketika Rabb berfirman kepada pada para Malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi’. Mereka berkata : ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau’. Rabb berfirman : ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para Malaikat lalu berfirman : ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kalian orang yang benar!’. Mereka menjawab : ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman : ‘Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini’. Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman : ‘Bukankah sudah Kukatakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan akan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan’. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang kafir. (Qs. 2:30-34)

Malaikat yang berkhidmat penuh keikhlasan

Dr. Abdul Karim Zaidan dalam kitab “Al Mustafad Min Qashash Al Quran Ad Da’wah wa Ad Du’at” (1/27) menyimpulkan :

“Allah SWT memerintahkan Malaikat untuk sujud kepada Adam, lalu mereka sujud sebagai wujud penghormatan, pemuliaan, dan pengakuan terhadap kelebihan yang dimilikinya serta dalam rangka taat kepada Allah, Rabbul ‘alamin tanpa ragu dan kaku. Padahal, di Malaul A’ala mereka selalu dalam keadaan bertasbih, takdis dan peribadatan kepada Allah Rabbul ‘alamin yang berkesinambungan. Kesegeraan para Malaikat sujud kepada Adam, padahal kondisi mereka seperti yang telah kita gambarkan, dikarenakan perintah sujud kepada Adam itu muncul dari Allah, Rabbul ‘alamin. Apa saja yang diperintahkan Allah wajib untuk segera ditunaikan saat itu juga tanpa ragu dan kaku serta tanpa menunggu ilmu pengetahuannya menggapai hikmah perintah tersebut. Inilah inti keislaman dan inilah sikap seorang muslim : Bersegera mentaati Rabbnya dan menjunjung tinggi perintah-Nya tanpa ragu dan kaku serta tidak dikaitkan dengan pertimbangan lain seperti mengetahui sebabnya, hikmahnya atau disesuaikan dengan akal atau hawa nafsunya. Dalam konteks inilah Al-Quran berbicara yang didalamnya Allah berfirman :

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. 33:36)

Tahukah kita, siapakah yang berhasil membuat sejarah baru dalam mengalahkan ‘Ifrit memindahkan singgasana ratu Balqis dalam waktu di luar kenormalan ? Para ulama telah berbeda pendapat tentang namanya, walaupun sebagian besar mengarah kepada Ashif bin Barkhiya. Akan tetapi, ada satu sifat yang diberikan Allah kepada sosok pahlawan di zaman Sulaiman as ini, yaitu

” Berkata Sulaiman : “Hai pembesar-pembesar, siapakah diantara sekalian yang sanggup membawa singgasanya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin : “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-bernr kuat membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: ”Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia. ” (Qs. 27:38-40).

Dr. Abdul Karim Zaidan kembali mengulas peristiwa tersebut dalam kitab yang sama (1/444) :

“Al-Quran tidak menyebutkan siapa nama seorang yang mempunyai ilmu Al-Kitab itu, kitab apa atau ilmu apa yang diberikan kepadanya. Atas dasar itu, sangat mungkin kita katakan : dialah jin ataupun manusia yang diberikan ilmu oleh Allah yang membuatnya dapat memindahkan singgasana itu dengan izin Allah Ta’ala dan dengan cara yang diluar kenormalan…”

Ada apa dengan ilmu dengan konteks kepahlawanan atau perubahan ?

Ibnu Qayyim dalam kitab “Tahdzib Madarij as Salikin” (2/769) memberikan uraian :

“Ilmu adalah rambu-rambu hidayah, sedangkan sikap benar (termasuk sikap kepahlawanan, pen) adalah yang mendapat petunjuk darinya. Ilmu adalah peninggalan dan warisan para nabi (yang merupakan sosok-sosok pahlawan tanpa tanding dalam sejarah, pen) dan pemiliknya adalah penerima dan pewarisnya. Ilmulah penghidup kalbu, cahaya, bashiroh, pengobat jiwa, taman-taman penghias akal, pelezat ruh, shahabat para insan saat mencekam dan petunjuk manusia saat bingung. Dialah mizan penyeimbang kata, karya dan sikap. Dialah hakim pemutus keraguan dan keyakinan, penyimpangan dan kelurusan, hidayah dan kesesatan.

Ilmu adalah imam sedangkan amal adalah ma’mum. Dia adalah komandan, sedangkan amal adalah pasukannya. Dialah teman di pengasingan, shahabat kita di saat sunyi, pelipur lara di saat duka, dan pembuka tirai syubhat. Kekayaan yang tidak akan fakir, jika diraih pembendaharannya serta pelindung yang tidak akan menghinakan orang yang bernaung dalam payungnya”

Saudaraku !

Memang ilmu adalah bekal dasar menjadi pahlawan dan membuat perubahan, akan tetapi semata-mata ilmu belum tentu akan menjadikannya pahlawan kemuliaan atau kebajikan. Akan tetapi ilmu yang membawa kepada keikhlasanlah yang membawa pada terciptanya pahlawan mulia dan perubahan bijak, yaitu keikhlasan untuk selalu mengesakan Allah dalam segala konteks pengabdian, termasuk konteks tujuan serta membuang jauh-jauh penyekutuan konteks-konteks tersebut dengan unsur selain Allah SWT, inilah hakekat Islam dan tauhid. Bahkan, inilah hakekat tujuan mencari ilmu yang sesungguhnya. Karena, kita bukan hanya ingin menjadi pahlawan yang suci di mata manusia atau pahlawan apa saja, tetapi kita ingin menjadi pahlawan yang diridhai Allah, Zat satu-satu-Nya dan penentu sejarah atau perubahan serta menjadi pahlawan kebajikan dan kemuliaan.

Karena itu, saat Allah SWT para Rasul yang merupakan tokoh-tokoh pahlawan mulia dan agung, Allah SWT menyebutkan mereka dengan 2 sifat utama kesuksesan mereka :

Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya’kub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. (Qs. 38:45)

Walaupun para ulama salaf seperti yang dinukil oleh Syeikh Abdul ‘Aziz bin Nashir Al Julail dalam kitab “Waqafat Tarbawiyyah fii Dhaui Al Qur’an Al Karim” (1/490-490) yang terlukiskan di bawah ini berbeda pendapat tentang kedua itu, akan tetapi hal tersebut hanya bersifat redaksionil yang intinya kembali kepada 3 hal : ilmu, keikhlasan dan amal.

Ibnu ‘Abbas ra berkata : adalah (yang mempunyai kekuatan dalam taat kepada Allah dan Ma’rifah tentang Allah)

Al Kulabi berkata : (yang mempunyai kekuatan dalam ibadah dan ilmu tentangnya)

Mujahid berkata : (Al Aydi artinya kekuatan dalam taat kepada Allah dan Al-Abshar adalah pengetahuan tentang kebenaran)

Sedangkan Sa’ied bin Jubair berkata : (Al Aydi adalah kekuatan dalam beramal dan Al Abshar adalah pengetahuan mereka tentang dien yang harus mereka miliki)

Ilmu yang melahirkan keikhlasan telah, sedang dan akan melahirkan para pahlawan dalam sejarah perubahan manusia dan kemanusiaan di dunia. Bahkan Allah SWT menjadi saksi bahwa ilmu yang melahirkan keikhlasanlah yang menjadi saksi perubahan sejarah kebenaran yang amat besar dan gemilang, itulah ilmu yang membawa persaksian tauhid dan kebenaran Dien Islam.

Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (Qs. 3:18-19)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: