Ayah –Sang Mentari Pagiku-

“Teteh, coba lihat jari kita, berbeda bukan? Di setiap jari kita sendiri saja sudah beda nak, apalagi dengan jemari orang lain? Garisnya pun berbeda, kau lihat?

Setiap orang itu, punya garis nasib masing-masing, jangan sama ratakan diri kita dengan orang lain, yang penting bagaimana kita bisa memaksimalkan diri dengan potensi yang telah ada pada kita. Kamu boleh mengagumi orang lain, tapi tidak untuk menirunya, karna dirimu adalah diri kamu sendiri nak, bukan orang itu.”

Lamunanku terpecah, ketika ayah –sang mentari pagiku- , berpetuah sesingkat mungkin, namun amat dalam. Mataku pun menerawang jauh ke depan. Melihat pundaknya dari belakang jok mobil, sedikit terlihat pula gurat usia dari pelipis kirinya yang kian nampak, ah, ayah.. mentari pagiku. Selama ini, kadang aku jarang bersua denganmu. Rentang dari aktivitasmu telah habiskan jutaan detik yang seharusnya bisa kau habiskan tuk berdiskusi denganku.

Dan malam ini, sungguh kau telah buatku bahagia. Itulah sebabnya mengapa petuah itu ‘kan teringat lekat, bahkan amat lekat dalam fikirku.

Ayah adalah sosok yang tangguh dan pantang menyerah. Ayah dilahirkan di sebuah kota kecil, kota yang terkenal dengan makanan khasnya –dodol- di kota itulah beliau tumbuh menjadi pemuda yang mengerti kerasnya hidup, karena di usia 16 tahun, orang tuanya bercerai, mengharuskan ayah tuk bisa mandiri dan bertanggung jawab. Jatuh bangun beliau melewati deretan nasib yang telah digariskan. Mulai dari perjuangan untuk kuliah di STT Telkom hingga mendapat beasiswa 3 bulan ke Paris. Semua itu ayah dapatkan bukan dengan mudah, bahkan beliau pun pernah menjadi “tukang bersih-bersih kolam renang” untuk membiayai kuliahnya sendiri, dan kau tahu? Ayah tidak gengsi dengan hal itu! Ya, begitulah -sang mentari pagiku- melewati bukit terjal dalam hidupnya , menjadi tegar tuk dapat terbit dengan indah di ufuk barat. Itulah sebabnnya , mengapa ayah menjadi satu sosok yang amat berpengaruh dalam hidupku. Di balik keras raut wajahnya, tersimpan jutaan awan lembut yang siap mendekap siapa saja yang rapuh. Mengembalikan semangat siapa saja yang berputus asa, dan membuat tersenyum siapa saja yang dirundung galau. Tempaan yang kini ia terapkan padaku, tak sebanding dengan tempaan hidup yang dijalaninya, bahkan lembar yang kutulis kini, takkan cukup tuk gambarkan semua hal tentangnya.
Siapapun, ayah tetap menjadi mentari pagiku, mentari yang sanggup menyinari bahkan menghidupi sekitarnya untuk berusaha, sekalipun rentang waktunya tak bisa selalu untukku. Tapi ku yakin, dalam doa dan harapnya, beliau tetap jadikanku sebagai salah satu bintang harapannya. Bintang yang kan lanjutkan perjuangannya dalam menyinari kehidupan ini. Ya, bintang yang merefleksikan kebaikan, dalam setiap jengkal hidupnya.
“Love U Dad.. CAUSE ALLAH..”
(bintangbiru yang akan selalu menyayangi mentari paginya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: