Nilai Sebuah Kebanggaan

Nilai Sebuah Kebanggaan

“…Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. Al Qashash : 76)

Saudaraku…

Kadangkala, seseorang mengenal kebenaran dan ingin mengikutinya, akan tetapi dia terpedaya oleh dirinya, sehingga tetap dalam kemaksiatan dan kekafirannya! Ya, terpedaya oleh jabatan, harta, dan kedudukan, se-hingga ia tidak dapat istiqamah di atas dien dan lebih membanggakan itu se-mua, sombong terhadap kebenaran dan merasa dirinya tercukupi, pada-hal akhirat jauh lebih baik dan kekal.

Di dalam Al-Qur’an, kita menda-pati keterangan, bahwa umur kesom-bongan itu ternyata hampir setua per-adaban manusia. Yaitu, “dia” lahir se-menjak iblis menolak perintah Alloh untuk sujud kepada Adam. Alasan Iblis sederhana, “Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia (Adam) dari tanah!” Apa hebatnya api dibanding-kan tanah?, begitu pemikiran seder-hana Iblis.

Sederhana memang, tapi itulah kesombongan yang kemudian mem-buat Iblis terhina, diusir dari surga dan kelak akan dibenamkan di dalam Ja-hannam selamanya bila kiamat tiba.

Oleh karena itu, wajarlah kemu-dian jika Rasululloh mewanti-wanti agar sifat yang dimiliki iblis itu jangan sampai melekat di dalam prilaku kita. Beliau bersabda:
“Tidak akan masuk surga sese-orang yang di hatinya ada kesombo-ngan walaupun sebesar biji dzarrah…” Kemudian Beliau menjelaskan, bahwa yang dimaksud kesombongan di sini adalah, “Menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Sebagaimana perilaku moyang-nya, Iblis, para pelaku kesombongan senantiasa merasa bangga dengan di-rinya, sehingga meremehkan orang lain, dan fatalnya, apabila yang diba-wa oleh orang lain itu adalah suatu kebenaran yang disampaikan kepa-danya, maka dipastikan, ketika dia meremehkan orang itu, dia pun akan menolak kebenaran yang dibawanya. Wal’iyadzubillah.

Kita berlindung kapada Alloh dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk Jannah.

Berhati-hatilah kita, karena sifat, sikap, dan perilaku membanggakan diri atas kebenaran bisa menimpa siapa saja. Seorang tokoh yang me-miliki pengikut banyak, reputasi yang luas juga berpotensi untuk menyom-bongkan diri lantaran ketokohannya dan pengikutnya yang banyak. Kita bisa mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu, bagaimana para pe-nguasa yang zhalim telah Alloh bi-nasakan karena penolakan mereka terhadap para utusan-Nya.

Memperebutkan atau memperta-hankan kursi kekuasaan seringkali menghalangi manusia dari kebenaran. Lihatlah bagaimana pimpinan-pim-pinan Quraisy semasa Nabi Muham-mad yang enggan menerima Al-Qur’an, namun setiap kali dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan an-caman, kepala mereka tertunduk dan air mata berderai mengiringi pende-ngaran mereka.

“Kami tidak mendustakanmu tapi kami mendustakan dengan apa yang kamu bawa.” Begitulah Abu Jahl, se-orang pemimpin Quraisy mendeskrip-sikan perasaan sebenarnya terhadap Nabi .
Selain kedudukan, prilaku ini juga terkadang menghinggapi para ‘ubadu dunya (penyembah harta).

Keadaan ini pernah menimpa se-orang penyair tua yang bernama A’sya bin Qais. Suatu hari, ia berangkat dari Nejed menuju Madinah untuk mene-mui Rasululloh dan bersyahadat di hadapannya. Di masa kehidupannya yang sudah tua itu, ia hampir saja mencapai kedudukan yang mulia ji-ka saja ia mampu menolak tawaran kaum musyrikin yang mencegatnya di tengah perjalanan. Padahal awal-nya A’sya tidak memperdulikan semua syubhat yang dilontarkan tentang Is-lam dan juga ancaman dari mereka jika bersikukuh untuk tetap melanjut-kan perjalanannya menuju Madinah. Namun ketika mereka menjanjikan-nya dengan 100 ekor onta, dia tidak kuasa menolaknya.

Begitulah A’sya. Ia melihat bah-wa kepenyairan, kedudukan dan har-ta telah terhimpun pada dirinya. Akan tetapi, ia lupa, bahwa Alloh senan-tiasa mengawasinya, bagaimana ia sampai maksiat kepada Alloh ha-nya karena dunia, sedangkan di sisi Alloh terdapat perbendaharaan la-ngit dan bumi.

Maka ketika ia sudah hampir sam-pai di perkampungannya, ia terjatuh dari untanya hingga tulang lehernya patah dan mati. Dia telah rugi dunia dan akhirat, dan itulah kerugian yang nyata akibat kebanggaannya.

Saudaraku…,

Begitupun dengan sikap dan sifat yang merasa lebih baik dan mulia da-ripada orang lain haruslah tidak men-jadi bagian dari diri kita sebagai se-orang muslim. Muslim yang tidak ha-nya berarti selamat dari kesyirikan dan kekufuran, namun juga selamat dari mencela dan meremehkan orang lain. “Mencela seorang muslim adalah ke-fasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.” Begitulah Rasululloh bersabda.
Seorang yang memiliki tubuh kuat, atletis, jawara, kadang tergoda memamerkan bentuk tubuhya, disam-ping tidak jarang gampang terpancing perkelahian, dalam urusan kecil seka-lipun, hanya lantaran merasa dirinya pendekar.

Seorang rupawan juga kadang tergoda untuk membanggakan kecan-tikannya dan meremehkan yang tidak seganteng dan secantik dirinya, bah-kan sampai mencacat bentuk fisik o-rang lain.
Seorang hartawan sering tergoda membanggakan pakainnya yang ba-gus, kendaraannya yang mewah, ru-mahnya yang mentereng dengan me-lihat sebelah mata pada kaum miskin yang kumal, kotor, kolot dan pinggi-ran.

Seorang bangsawan, karena me-rasa berasal dari keturunan yang mu-lia, aristokrat, darah biru, kadang me-rasa tidak sepadan jika harus bersan-ding, bergaul dengan yang bukan bangsawan.
Bahkan sifat sombong juga dapat menggerogoti jiwa seorang ahli iba-dah atau ulama. Sosok yang secara kasat mata (zhahir) terlihat wara’ (sa-ngat hati-hati bersikap), zuhud (se-derhana), bertahajud setiap hari, ber-puasa senin-kamis, sholat rawatibnya tidak pernah tertinggal. Karena shalat-nya rajin sekali hingga jidatnya hitam. Namun, ternyata ia tergoda untuk me-nganggap dirinya orang yang paling suci, paling baik, paling takwa. Orang lain dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dia. Wal’iyadzubilah.

Saudaraku…,

Senantiasalah kita bersyukur dan beristighfar kepada Alloh , karena keduanya adalah senjata ampuh yang Alloh ajarkan untuk melawan dua penyakit kesombongan.

“Apabila telah datang pertolongan Alloh dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bon-dong masuk agama Alloh. Maka ber-tasbihlah dengan memuji nama Tu-han-mu dan mohon ampunlah kepa-da-Nya. Sungguh, Dia Maha Peneri-ma taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Lihatlah…! Di sini Alloh meng-arahkan kita agar menghindari dari membanggakan diri ketika meraih kemenangan atau ketika mendapat-kan sesuatu yang membanggakan. Padahal ketika itu, konteks ayat itu turun berkenaan dengan penaklukan kota Makkah, sebuah kemenangan besar atas kaum kafir, namun Alloh tidak membiarkan kaum muslimin la-rut dalam kegembiraan, dan meng-ingatkan mereka untuk tidak mem-banggakan diri atas kemenangan ter-sebut, padahal untuk mencapai ke-menangan itu, tidak cukup dengan keringat dan harta yang mereka ke-luarkan sebagai maharnya, tapi juga darah.

Maka dari itu: Bertasbihlah kepa-da Alloh, bertahmidlah kepada Alloh, beristighfarlah kepada Alloh, berto-batlah kepada Alloh. Ingatlah! Semua-nya kita kembalikan kepada Alloh . Semua yang kita miliki berupa kedu-dukan, kemenangan, ide-ide, sampai tampang yang rupawan sekalipun adalah karena karunia Alloh . Mo-honlah kekuatan agar kita bisa me-manfaatkan semua itu dalam perjua-ngan di jalan-Nya.

Wallahu A’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: