Haruskah Menjadi “Wanita Modern”?

Haruskah Menjadi “Wanita Modern”?
Apa yang sesungguhnya terjadi di balik fenomena modernitas? Ternyata, tuntutan penampilan, pergaulan, dan pola beradaptasi menggeser jati diri kebanyakan para wanita.

Awalnya, para wanita modern memandang bahwa aktualisasi diri merupakan pencarian yang tidak bisa dihindari. Mereka ingin berbeda dengan wanita biasa, apalagi mereka memiliki fasilitas berupa kekayaan dan relasi untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam berbagai bentuk aktivitas. Tetapi kenyataannya, pilihan beraktivitas lebih banyak porsinya pada sesuatu yang bersifat materil duniawi. Padahal jika mereka menyadari, seharusnya aktualisasi tersebut ditujukan pada pencarian makna hidup, bukan menikmati kehidupan menurut selera belaka.

Kita bisa menyebutkan contoh secara materil. Berapa banyak koleksi sepatu, tas, busana, perhiasan dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Sementara keinginan untuk mengoleksi buku-buku dan media ke-Islaman yang bermanfaat relatif sedikit. Hal ini otomatis menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu untuk mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat sedikit ketimbang jadwal untuk menonton, jalan-jalan, ataupun berbelanja.

Dari sisi lain, kita pun bisa menemukan keadaan yang tidak selalu selaras dengan asumsi semula. Bila awalnya, gaya metropolitan dirasa sangat menyenangkan, namun seiring dengan pertarungan antara iman dan kufur, antara taat dan maksiat, terungkaplah bahwa dunia glamor dan hingar bingar tidak mampu diterima oleh nilai-nilai ilahiyah yang masih tertanam di dalam hati para muslimah. Buktinya, dalam berbagai keadaan, mereka seolah terpaksa tampil sebagai wanita yang kosmopolitan lantaran gaya dan pergaulannya menuntut seperti itu. Atau karena tidak ada orang terdekat yang mengingatkan tentang ketakwaan, ia pun cenderung terombang-ambing tak tahu arah. Kenyataan inilah yang tak bisa dipungkiri. Perasaan tertekan, gundah-gulana, stres, dan teralienasi (terasing) terus menggelayuti hati dan pikiran mereka yang masih menyisakan iman yang benar. Namun, keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Bila ia tidak mau kembali ke dalam naungan Islam, lambat laun keimanannya menipis bahkan mungkin lenyap, na’udzubillahi min dzalika.

Solusi Fatamorgana

Apa yang sekarang sedang marak di dunia jati diri mungkin saja dianggap solusi oleh wanita modern ini. Seminar-seminar motivasi, manajemen diri, tempat-tempat “pencerahan”, bahkan media meditasi tidak jarang dipilih sebagai solusi terampuh bila para modernis sedang menghadapi masalah. Benarkah ini solusinya?

Sebagian di antara mereka tidak mempedulikan asal-muasal, aliran, bahkan keyakinan dari para pengelola fasilitas atau kegiatan tersebut. Padahal, sudah cukup bukti, banyak kesesatan yang tidak disadari lantaran tidak mementingkan nilai-nilai akidah ketika seseorang mencoba keluar dari problem yang sedang dihadapinya. Dengan perkataan lain, sesungguhnya mereka hanya menambah daftar penyimpangan yang menyebabkannya jauh dari keridhoan Alloh.

Secara identitas, kadangkala sang wanita modern seolah-olah merasa asing dengan nilai-nilai Islam, sehingga bila menghadiri seminar atau majelis ta’lim tertentu, mereka seolah-olah baru saja menemukan kembali jati diri mereka yang hilang. Kalau begitu, apa tujuan mereka menghadiri majelis ta’lim? Apakah sebagai pertobatan sesaat, dan merasakan kembali penderitaan hati ketika berada dalam lingkungan modern?

Sungguh ironis bukan! Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai wanita yang “all out” (habis-habisan). Yakni ingin menunjukan kepiawaian mereka di publik dan sanggup menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Namun di sisi lain, mereka justru merasa kesepian saat berada di puncak kemandiriannya. Beruntunglah para wanita yang dapat merasakan perbedaan itu, sehingga tanpa letih, mereka berupaya untuk menemukan kembali jati diri mereka yang hilang, yakni dengan cara mendalami sisi spiritual pada diri mereka sendiri.

Akan tetapi, banyak juga di antara mereka yang sekedar “latah” sehingga upaya-upaya itu malah membuat mereka semakin terbingungkan dan berakhir tanpa mengetahui siapakah diri mereka yang sebenarnya.

Dalam hal ini, perlu disadari bahwa kita adalah makhluk, dan perlu mengenal Alloh swt sebagai Ilah. Inilah jalan untuk menemukan ketenangan batin yang dapat menuntun kepada perilaku yang lebih ’smart’ di dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab, siapapun yang telah mencapai tahap-tahap dari pengenalan diri sendiri, maka dia pun akan mengetahui “how to deal with self“ (cara berurusan dengan diri sendiri), agar seseorang bisa memahami berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga tidak akan mengambil tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.

Mungkin saja bahwa yang dicapainya saat ini, masih belum sesuai dengan seluruh harapan atau cita-citanya. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa seluruh kehendak dirinya bukan hal yang sempurna, sehingga boleh jadi sebagian dari kehendaknya itu malah akan memberikan dampak buruk atas kehidupannya di kemudian hari.
Hidup kita menjadi lebih sederhana dan indah bila sudah memahami tahap pengenalan diri sendiri. Alasannya, kita dengan mudah akan mampu mengukur kemampuan masing-masing. Dan pada saat yang sama, kita tahu bagaimana cara menempatkan diri agar sesuai dengan posisi yang semestinya di dalam kehidupan.

Namun kebanyakan dari kita sering keliru di dalam memaknai hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Bahkan terkadang, kita sering memposisikan Tuhan agar Dia mematuhi segala kehendak dan harapan-harapan kita. Tidakkah kita menyadari bahwa kitalah yang seharusnya menjadi hamba-Nya, dan bukan malah sebaliknya.
Di sini, jelas bahwa yang sebenarnya ingin dicari adalah diri mereka sendiri yang sudah lama mereka lupakan dan hampir-hampir mereka tidak mengenalinya lagi, karena mereka sibuk mencari sesuatu yang fatamargona yang terpental jauh dari ajaran Nabi .

Ingatlah, wanita adalah makhluk yang dimuliakan Alloh , sehingga segala perilakunya haruslah terjaga. Sebenarnya, kedudukan kaum wanita dengan kaum pria itu sejajar. Sebab, wanita adalah partner kaum pria, dan mereka harus saling bermitra dan bukan malah bersaing seperti yang sering disalahartikan oleh kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari umat Muhammad .

Dengan penjelasan ini, sudah selayaknya kita menyadari bahwa mereka sebenarnya “going nowhere” (tidak pergi ke mana-mana) dan dijamin, akan berakhir dengan “uncertainty” alias ketidakpastian, rasa hampa dan tidak memahami tujuan hidup.

Aneh memang! Apabila barang mereka hilang, maka mereka akan sibuk untuk mencarinya, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi, apabila jati dirinya yang hilang, maka mereka seolah-olah tidak peduli.
Apa yang dianjurkan Islam dari seorang wanita sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar kaum wanita menjaga kehormatan diri dengan sebaik-baiknya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan salah satu cara itu adalah dengan berpakaian sesuai panduan Al-Qur’an, dan bukan ala Barat atau Timur.

Sadarkah bahwa cara kita berpakaian, berdandan dan bertingkah laku saat ini telah dipengaruhi oleh budaya bangsa Barat alias westernize yang sebenarnya tidak berhubungan dengan modernitas. Singkatnya, smart woman adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir, merenungi makna dan nilai kehidupan, dan bukan yang semata-mata meniru serta berpenampilan ala wanita barat.

Untuk itu, wanita yang berpendidikan dan mampu mengikuti perkembangan zaman (modern woman) adalah para wanita yang patuh dan taat kepada Perintah-Nya.

Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa di dalam Al-Qur’an, Alloh swt telah mengatur tata cara manusia berperilaku, termasuk berpakaian? Dan secara tegas, Al-Qur’an mewajibkan kaum Muslimah untuk berpakaian sesuai yang dijelaskan Alloh .

Di sinilah keyakinan terhadap Al-Qur’an harus dipupuk sehingga kita mampu mematuhi rambu-rambu dan norma-norma agama, bahkan melebihi kepatuhan kita terhadap aturan kantor tempat kita bekerja. Namun anehnya, kita lebih takut terkena skors di kantor apabila kita melanggar salah satu aturannya, dan kurang peduli bahkan mengabaikan perintah Alloh swt yang memberikan kehidupan dan rezeki-Nya kepada kita secara tidak terbatas. Bahkan sesungguhnya rezeki kantor kita pun bergantung kepada Karunia dan Rahmat Alloh.

Apa gerangan yang terjadi dengan para wanita muslimah saat ini? Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa selama ini, kita mendapatkan limpahan nikmat dari Tuhan semesta alam? Akan tetapi, pernahkah kita mensyukuri hal itu?

Cobalah bandingkan bila kita diberi hadiah dari seseorang, maka kita akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih dengan berbagai cara, bahkan sering kali para “wanita modern” mengucapkan terima kasih dengan memberikan pujian setinggi langit. Rasionalkah cara berpikir dan tindakan kita selama ini? Sudahkah kita berterima kasih dan mensyukuri segala nikmat Alloh swt yang diberikan-Nya setiap saat?

Sebagai penutup, selayaknya setiap muslimah mengharap surga yang hakiki, bukan sekadar kesenangan sesaat. Hanya satu caranya, yaitu meraih predikat wanita taat dan takwa kepada Alloh dan Rasul-Nya. Memang, apabila kondisi ini yang diinginkan, maka banyak hal yang perlu dikorbankan, karena jati diri wanita seperti ini dituntut untuk tidak tergoda oleh gemerlapnya perhiasan dunia sementara banyak wanita lain yang tergoda. Akan tetapi tidak sembarang wanita di dunia ini bisa menggapainya. Hanya wanita yang mempunyai ciri-ciri tertentulah yang mampu meraihnya. Ciri-ciri tersebut adalah: (1) Beriman kepada Alloh. (2) Berdiam di rumah dan tidak bertabarruj. (3) Menundukkan pandangan dan menjaga dirinya. (4) Menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). (5) Menjaga pendengarannya dari nyanyian-nyanyian, ucapan kotor, dan yang sejenisnya. (6) Menghormati suami, menunaikan haknya, berusaha membuatnya tentram, dan mentaatinya dalam ketaatan kepada Alloh. (7) Hemat dalam kehidupan. (8) Tidak menyerupai laki-laki. (9) Berusaha menjaga shalat-shalat, puasa-puasa, dan sedekah sunnahnya. (10) Hendaknya dia menjadi seorang da’iyah di kalangan para wanita, menyeru pada kebaikan, dan melarang dari kemunkaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: