Dunia Mimpi, Impian Dunia

Dunia Mimpi, Impian Dunia

Apakah ada orang yang hidup di dunia ini yang tidak pernah mengalami mimpi? Tentunya pertanyaan ini belum jelas esensinya, karena kita akan bertanya, “Apakah penting untuk bertanya tentang mimpi?” Juga pertanyaan, “Apakah mimpi sebagai bunga tidur atau mimpi sebagai hasrat terpendam yang belum terlaksana, atau mimpi sebagai suatu nilai yang mempengaruhi kehidupan seseorang?” Siapa saja yang terjangkiti mimpi ini? Anak-anak, remaja, orang dewasa, semua mengalaminya. Namun, samakah impian mereka tersebut?

Tampaknya, impian seorang anak akan berbeda dengan impian orang dewasa. Demikian pula, jenis impian sebagian orang berbeda dengan orang lainnya. Jadi apa yang perlu dibahas? Ya, sekadar mengenal dunia mimpi dan impian kita di dunia, ada baiknya bila kita tidak sembarangan merealisasikan mimpi yang mungkin merupakan agenda kehidupan kita.

Sekian banyak agenda impian yang singgah di benak kita. Secara positif, impian ini pun diterjemahkan sebagai cita-cita oleh para organisatoris, pebisnis, dan ilmuwan. Tak terkecuali para pelajar, mahasiswa, politisi dan kalangan lainnya, semuanya menamakan impian ini sebagai visi. Memang, menurut mereka visi haruslah dianggap sebagai impian, karena di dalamnya terkandung harapan yang optimal sebagaimana cita-cita yang setinggi langit. Walaupun hampir sama dengan utopia, impian bagi orang-orang di atas bukanlah sekadar isapan jempol. Mereka menyadari, tanpa merancang misi, impian tersebut tidaklah mungkin menjadi kenyataan. Artinya, misi merupakan impian-impian kecil untuk mencapai impian besar. Mungkin, uraian di atas tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak mempunyai cita-cita alias “ikut mengalir jika ada arus, dan diam jika tak ada yang menggerakkan”. Jika demikian, pada posisi mana kita sekarang? Tentunya bukanlah posisi yang kedua, yaitu posisi pasrah tanpa memposisikan diri dalam suatu cita-cita yang mulia.

Pernahkah kita mengetahui adanya orang yang tidak mampu membedakan antara dunia nyata dan dunia mimpi? Kenyataannya memang ada. Orang seperti ini merasa bingung dengan eksistensinya. Ia ada, tetapi masih ragu dengan keberadaannya. Ia bingung dengan peran yang dimainkan dalam pentas dunia. Dalam hal ini, orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam dunia imajinasi bukan dunia realisasi. Atau baginya, mimpi merupakan penentu keberadaannya. Ia ada karena ia mampu bermimpi, sehingga ia menyadari keberadaannya lantaran ia mampu bermimpi. Sungguh aneh!

Tentang mimpi, ada tinjauan ilmiahnya. Kabarnya, seseorang yang sedang bermimpi menunjukkan aktivitas otak dengan gelombang tertentu di dalam otak yang berbeda dibandingkan ketika tersadar atau ketika tertidur lelap. Atau dengan penjelasan ‘Rapid Eye Movement’ (pergerakan mata), seseorang dapat diketahui apakah sedang bermimpi atau tidak.

Terlepas dari rasa ingin tahu yang besar para “ilmuwan mimpi”, kebanyakan orang memang mengalami fenomena mimpi ini.
Di antara jenis mimpi yang kita kenal seperti mimpi sebagai bunga tidur, mimpi sebagai keinginan yang dicita-citakan, maupun mimpi yang mempengaruhi kehidupan seseorang, kita harus waspada terhadap pemahaman orang-orang sesat yang menjadikan mimpi sebagai norma (hukum). Padahal menurut syari’at, selain mimpi para nabi sama sekali tidak bisa diambil sebagai hukum. Artinya, mimpi-mimpi tersebut harus dikembalikan kepada hukum-hukum syari’at yang ada. Atau pada batas tertentu, mimpi hanya bisa dipakai sebagai bentuk kabar gembira dan peringatan saja, tidak sampai menjangkau aspek hukum.

Tentang tafsir mimpi, pada umumnya dikenal kondisi-kondisi berikut,

1. Peristiwa yang menggembirakan yang benar yang terjadi setelah bermimpi, dan ini tidak memerlukan penafsiran.

2. Mimpi yang batil atau permainan syaitan, yaitu mimpi yang tidak dapat diperincikan oleh orang yang bermimpi. Artinya orang yang bermimpi itu tidak sanggup mengingat tertib atau jalan cerita mimpi itu. Mimpi seperti ini dianggap batil dan tidak mempunyai sembarang makna atau takwil.

3. Keinginan jiwa. Mimpi seperti ini terjadi karena pengaruh pikiran seseorang. Sesuatu yang seseorang lakukan atau khayalkan siang hari atau menjelang tidurnya terkadang menjelma ketika tidurnya.

Dari hal di atas, sebaiknya kita tidak berkutat dengan tafsir mimpi ini karena dikhawatirkan kita melintasi hal-hal yang kita tidak tahu ilmunya. Sedangkan untuk suatu kondisi mimpi, Rasulullah telah mengajarkannya kepada kita.

Dari Abu Qatadah , ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Mimpi baik itu datang dari Allah dan mimpi buruk datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Muslim)

Impian Dunia

Dari cuplikan pembahasan di atas, satu yang tidak luput dari perhatian kebanyakan orang adalah tentang impian dunia. Kesuksesan, popularitas, dan ‘seabreg’ cita-cita lainnya awalnya hadir sebagai impian. Walaupun bagi orang tertentu hal ini dianggap khayalan, tetapi sebagian besar manusia tetap mengharap kesenangan dunia.

Tentang kesenangan dunia, Allah telah menghiasi manusia dengan kesenangan (syahwat) sebagaimana Allah berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingin, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Jadi, meraih kesenangan hidup di dunia memang diperbolehkan, namun bukanlah kita bebas mengikuti syahwat lalu melupakan kesenangan hakiki di akhirat (surga). Dalam hal ini sesungguhnya kita tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan keinginan kita apabila tidak dirahmati oleh Allah . Artinya, tetaplah memandang dunia sebagai sarana mencapai kebahagiaan hakiki di surga kelak, menjadikan dunia sebagai ladang pahala bukan tujuan amal.

Arus Impian Dunia

‘Sukses Dimulai dari Impian Besar’, begitu judul yang sering ditawarkan kepada kita jika menghadiri seminar manajemen dan pengembangan diri. Motivasi tersebut setidaknya dimaknai oleh dua tipe orang. Bagi orang yang berkarakter inferior (merasa diri kurang mampu) boleh jadi berbagai slogan motivasi tidak cukup menjadi penyemangat dirinya untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka mungkin ‘kapok’ dengan sejumlah “kegagalan” yang diderita. Jika bercita-cita, impiannya pun tidak muluk-muluk.

Berbeda dengan kalangan superior, impiannya sangat tinggi. Terkadang, ia tidak peduli dengan tertawaan orang-orang di sekitarnya. Cita-citanya mungkin dianggap mustahil tercapai dengan potensi yang melekat pada dirinya.

Jika kita serahkan permasalahan ini kepada ahli manajemen, mereka akan menjawab, “Bagi mereka yang ditertawakan karena berbekal cita-cita yang tinggi, janganlah merasa kecil hati dan putus asa. Sebaliknya, kita harus bangga dan berbahagia karena kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikan? Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian.” Lebih lanjut mereka akan menjawab, “Membangun impian dapat diibaratkan seseorang yang sedang membangun sebuah rumah. Awalnya kita harus membangun pondasi yang kokoh agar bila terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, atau lainnya yang mengakibatkan rumah yang kita bangun retak dan rusak, kita dapat membangunnya kembali. Begitu pula halnya bila kita sedang berusaha mewujudkan impian yang kita miliki. Jika impian yang kita tanamkan sudah melekat sedemikian kuatnya dalam diri kita, kita akan siap untuk bangkit kembali jika seandainya kita mengalami kegagalan. Tugas kita adalah memperlihatkan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang berhasil mengubah impian menjadi kenyataan.”

Impian Remaja

Bagi sebagian remaja, menjadi terkenal seperti para selebritis merupakan cita-cita yang didamba. Bagi remaja yang gemar berorganisasi, menjadi politikus handal bisa jadi adalah cita-citanya. Atau menjadi ilmuwan dan praktisi bisnis pun tidak mustahil merupakan harapan para remaja lainnya. Dalam hal ini, setiap remaja layak dikatakan memiliki cita-cita bila ia menjajaki jalan menuju cita-cita tersebut.

Secara tegas kita katakan, remaja yang tidak menempuh syarat dan menjalani langkah ke arah suatu cita-cita, tidaklah layak disebut sebagai remaja yang bercita-cita.

Sebenarnya, fenomena remaja menempuh cita-cita mudah kita saksikan bersama. Atau kita pun pernah mengalaminya. Sebagiannya berhasil, sebagian yang lain belum (tidak) berhasil. Ada satu alasan objektif, mereka yang berhasil telah menempuh syarat keberhasilan tersebut, dan sebaliknya, mereka yang tidak berhasil kurang menempuh syarat-syarat yang dibutuhkan.

Kalau begitu, hal di atas adalah sunatullah sekaligus takdir-Nya kepada setiap orang. Namun, di balik ketentuan tadi, kita pun perlu mengetahui jenis cita-cita dan jalan yang ditempuh untuk menggapai cita-cita tersebut.

Kita perlu mengingatkan para remaja yang berebut jatah untuk audisi selebritis. Mereka yang mengikuti audisi tarik suara, atau seni akting perlu diingatkan bahwa cita-cita tersebut bukanlah impian yang perlu diwujudkan. Profesi tersebut memang telah diekspos oleh media massa melebihi ekspos terhadap profesi keilmuan dan religi. Padahal, bukankah lebih baik kita mengikuti audisi penghuni surga dengan menempuh syarat keilmuan, iman, dan amal yang benar ketimbang mengikuti berbagai ajang kemaksiatan.

Inilah pilihan. Tetapi jangan salah pilih. Di sinilah iman kita diuji. Di sini pula ilmu tentang kehidupan akhirat perlu senantiasa kita upgrade. Bukankah kita perlu mengetahui informasi tentang surga dan neraka? Juga jalan untuk memasukinya? Setidaknya hadits berikut patut kita renungkan.

Dalam Shahih Muslim, Sunan, dan Musnad disebutkan hadits dari Abu Hurairah . Ia berkata “Rasulullah bersabda : “Ketika Allah telah menciptakan Surga, Dia berfirman kepada Jibril : ‘Pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pergi dan melihat ke sana. Lalu kembali dan berkata : ‘Wahai Rabb-ku, demi ‘izzah-Mu tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya melainkan ia ingin masuk ke dalamnya.’ Kemudian Allah menutupi Surga itu dengan hal-hal yang tidak disukai, lalu Allah berfirman : ‘Hai, Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat ke sana, lalu kembali dan berkata : ‘Wahai Rabb-ku demi ‘izzah-Mu aku khawatir tak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalamnya.’ Ketika Allah telah menciptakan Neraka, Dia berfirman : ‘Hai Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihat ke sana, lalu kembali seraya berkata : ‘Demi ‘izzah-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya ingin memasukinya.’ Kemudian Allah meliputinya dengan hal-hal yang disukai (syahwat). Kemudian Dia berfirman : ‘Hai Jibril, pergilah dan lihatlah ke sana.’ Maka Jibril pun pergi dan melihatnya seraya berkata : ‘Wahai Rabb-ku, demi ‘izzah-Mu aku khawatir tidak akan ada seorang pun yang tertinggal kecuali akan masuk ke dalamnya.’ “

Mewujudkan Impian yang Hakiki

Dalam realitas kehidupan, kita harus memiliki cita-cita agar tujuan hidup kita terarah dan jelas. Kita pun “bebas” merancang impian. Namun, impian yang sesungguhnya adalah menuju surga yang kekal abadi di akhirat kelak.

Dari sini kita perlu mengoreksi ulang cita-cita sekaligus jalan meraih cita-cita tersebut. Inilah identitas muslim, meraih keridhoan Allah dalam setiap keyakinan dan amal.
Oleh karena itu, seorang muslim harus melandaskan cita-citanya pada prinsip kebenaran Islam. Pada ketentuan Allah dan Rasulullah . Bukankah niat ikhlas mengharap ridho Allah , dan ittiba’ (mengikuti) petunjuk Rasulullah saja yang pasti mendapat ganjaran pahala? Bukankah kenikmatan hidup di dunia ini hanya sementara? Apa yang hendak dipertaruhkan bila kita melepas keyakinan akan kehidupan abadi di surga? Apakah sekadar membuktikan keberhasilan diri dan mengharap pujian manusia? Mampukah kesuksesan dunia menggantikan kesuksesan akhirat?

Tantangan Mewujudkan Impian

Semua orang sepakat, mereka yang berhasil mewujudkan impiannya adalah orang yang dapat menyelaraskan antara impian dan tindakan. Suatu impian tidak akan tercapai jika kita terlena dengan impian-impian dan selalu hidup dalam dunia mimpi tanpa bertindak nyata.

Segala yang kita lakukan sekarang adalah sarana menuju cita-cita hakiki. Terlepas dari kondisi dan keadaan kita yang masih jauh dari sempurna, yang jelas kita harus mempersiapkan segala sesuatu menuju cita-cita tersebut.

Sebagaimana pengorbanan calon ilmuwan yang harus keluar dari zona kenyamanan (comfort zone), tidaklah mungkin ia mempertahankan sikap malas tanpa mengerahkan semua langkah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Atau bagi orang yang terbiasa hidup mewah, manja dan selalu difasilitasi oleh orang tuanya, mungkin ia merasa berat untuk keluar dari zona kenyamanannya. Sebenarnya, mengalami “kepahitan hidup” bukanlah suatu kemestian, namun, bersikap dewasa dan siap hidup dalam kondisi sulitlah yang harus mampu ditempuh oleh orang-orang yang ingin sukses. Di samping itu, kita pun harus mampu melawan segala tantangan yang ada, baik internal maupun eksternal.

Secara umum, tantangan internal lebih berat dibanding tantangan eksternal. Bukankah kita merasa berat untuk menyaring dan membuat prioritas impian kita? Bukankah dominasi nafsu seringkali mengalahkan idealisme kita? Selain itu, bukankah kerapkali kita jenuh dengan proses pencapaian cita-cita tahap demi tahap yang melulu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan?

Selanjutnya, sebuah anekdot mengatakan, “Orang-orang dari suatu daerah mampu berhasil di tanah rantau, tetapi orang-orang dari daerah lainnya tidak kuasa apabila harus pergi jauh meninggalkan kampung halamannya.”

Anekdot tersebut terbukti benarnya secara generalisasi, namun yang terpenting bukanlah kita melekatkan identitas kesukuan dengan kesuksesan seseorang, karena pada dasarnya setiap orang akan mampu mengatasi tantangan apabila berilmu dan berjiwa lurus.
Seseorang yang bekerja haruslah mengetahui norma Islam yang terkait dengan seluk beluk pekerjaan tersebut. Seseorang yang harus meninggalkan keluarga akan tetap merantau bila cita-cita yang ingin diraihnya memang mulia. Pengorbanan harta juga telah ditempuh oleh para penuntut ilmu. Semuanya akan menuai kesuksesan apabila kita mampu meningkatkan semangat dan tidak berputus asa bila yang dihadapi di pertengahan jalan adalah “kegagalan”.

Pada umumnya, berhentinya seseorang mencapai cita-cita disebabkan oleh kesulitan yang tak mampu diatasi. Padahal, kesabaran dan kegigihan harus dimiliki oleh mereka yang ingin sukses.

Impian Orang Shalih

Sekarang, sekilas kita simak impian Abdurrahman bin ‘Auf, seorang shabahat Rasulullah yang sukses mencapai fasilitas dunia dan kekayaan jiwa, namun tetap memimpikan kesuksesan hakiki di akhirat kelak.

Suatu hari ia dibawakan makanan untuk berbuka, karena ia berpuasa. Ketika kedua matanya melihat makanan itu dan mengundang seleranya, ia menangis seraya berkata, “Mush’ab bin Umair gugur syahid dan ia lebih baik daripada aku, lalu ia dikafani dengan selimut. Jika kepalanya ditutupi, maka kedua kakinya kelihatan dan jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya kelihatan. Hamzah gugur sebagai syahid dan ia lebih baik daripada aku. Ia tidak mendapatkan kain untuk mengkafaninya selain selimut. Kemudian dunia dibentangkan kepada kami, dan dunia diberikan kepada kami sedemikian rupa. Aku khawatir bila pahala kami telah disegerakan kepada kami di dunia.”

Pada suatu hari sebagian sahabatnya berkumpul untuk menyantap makanan di kediamannya. Ketika makanan dihidangkan di hadapan mereka, maka ia menangis. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Muhammad?” Ia menjawab, “Rasulullah telah meninggal dalam keadaan beliau berikut ahli baitnya belum pernah kenyang makan roti gandum…. Aku tidak melihat kita diakhirkan, karena suatu yang lebih baik bagi kita.”

Demikianlah Abdurrahman bin Auf , sampai-sampai dikatakan tentang dia, seandainya orang asing yang tidak mengenalnya melihatnya sedang duduk bersama para pelayannya, maka ia tidak bisa membedakan di antara mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: