Aku dan Putri kecilku…

Anak adalah suatu anugerah yang terindah yang diberi-kan Alloh sebagai titipan yang harus kita jaga, merawatnya, mendidiknya, dan memberikan yang terbaik untuknya adalah kewajiban yang diberikan oleh setiap orang tua.

Seandainya Aku mengetahuinya sejak dulu, mungkin kepergiannya ti-dak akan secepat ini. Tapi siapa tahu akan rahasia Alloh, dan telah menga-turnya, semoga aku teribrohkan dari cobaan ini…

Setiap Ibu pasti mendambakan seorang anak. Menurutku hal ini sudah menjadi sunnatulloh yang di ilhamkan bagi setiap wanita. Apa yang kuinginkan akhirnya terkabul juga, setelah aku menikah, Alloh meng-anugerahkan kami seorang anak perempuan yang lucu, mungil, dan imut…

Aku sangat gembira sekali karena kehadirannya memang menjadi pe-nantian kami siang dan malam. Kami
memberikan nama hima…

Seperti ibu yang lain aku merawat bayi kecilku… Setiap hari aku sibuk menyusuinya dan menggendongnya, tingkahnya yang lucu, setiap hari aku sibuk membayangkan tentang masa depan si mungil hima! Walaupun pendidikan agamaku kurang, tetapi menginginkan anakku kelak besar nanti menjadi anak yang baik dan sholehah…

Ya, memang sudah menjadi stan-darisasi keinginan setiap orang tua menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya.

Hari pun berlalu mengiringi tum-buhnya si mungil… cobaan mulai datang menghujani rumah tangga kami! Saat krisis “moneter” dan musim PHK suamiku termasuk yang kena imbasnya.

Aku,…aku…, mulai mengeluh!!! Dan si kecil Hima pun perlahan aku abaikan dan menjadi pelampiasanku… sehingga tangisannya selalu terdengar, bahkan tidak sedikit diantara kerabat-ku yang merasa kasihan melihat Hima menangis.

Beberapa saudaraku memberani-kan diri untuk menegurku…! Agar tidak keras terhadap putriku. Walau-pun sudah aku coba, tetapi perasaan kesal terhadap putriku tetap saja mun-cul. Aku akui memang waktu itu aku kosong dari ilmu mendidik anak yang pernah dicontohkan Rasululloh.

Yang aku tahu…, Islam hanya masalah sholat, zakat, puasa, selebih-nya aku sama dengan yang lain, ter-masuk sekulerisme.
Normal Kembali!!

Setelah beberapa waktu seiring dengan terbiasanya hidup dalam kon-disi yang masih kritis, aku coba untuk menenangkan diri. Aku perlahan-lahan mendengarkan saran keluarga-keluargaku untuk bersikap tenang dan tabah menghadapi kenyataan hidup ini. Aku mulai belajar lebih banyak tentang ilmu-ilmu Islam, walaupun aku pikir itu masih sangat jauh bagiku untuk bisa mengatasi hidupku.

Suamiku mulai bekerja kembali walaupun tidak sebagus yang dulu. Beberapa saat aku merasa hidupku normal kembali hingga anak keduaku lahir.

Kesal itu Kembali!

Setelah Hima putri pertamaku mempunyai adik, rasa sayang yang seharusnya tercurahkan kepada kedua anakku… entah mengapa lebih aku curahkan pada anakku yang kedua, malas rasanya aku memperhatikan putri pertamaku.

Hima semakin besar. Umur tiga tahun ia sering menangis, bukan ka-rena jatuh, atau diejek oleh temannya. Tetapi karena aku sering memarahi-nya, bahkan aku terkadang memukul-nya.

Hari pun berlalu… seiring dengan kehidupanku yang acapkali membuat gundah siang dan malam, aku mulai haus dengan adanya ketenangan!

Badai rumah tanggaku hadir kem-bali saat Hima beranjak dewasa…, kini di usianya yang menginjak 10 tahun membuat amuk segala amarah, kulontarkan kepadanya…!!! Seringkali ia kuperintahkan memberi kebutuhan sehari-hari secara berkesinambungan. Entah mengapa aku berbuat demi-kian.

Namun demikian, ia tetaplah anak yang berbakti, mungkin itu karena ia kumasukkan ke sekolah plus Islam.
Walaupun masih kecil, tetapi Hima sudah seperti berpikir dewasa, sehari-hari ia selalu menutup tubuh kecilnya dengan pakaian dan kerudung yang sesuai Syar’i! Ia selalu menurut. Pikirku, ia akan kesal karena aku menyuruhnya secara terus menerus… tapi ia selalu mentaati apa yang kuperintahkan…

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, aku tak juga menyadari betapa besar, dan sepantasnyalah aku ber-syukur telah dikaruniai seorang putri seperti Hima! Bahkan aku semakin tak peduli kepadanya!
Sungguh kala itu yang kupikirkan hanyalah perubahan dalam hidupku…

Waktu Pun Terhenti!

Waktu pun masih saja kulewati seperti biasanya… Lambat laun, ku-sadari ada kejanggalan pada putri pertamaku itu…! Namun kala itu aku tak merasa ada kekhawatiran, aku tak pernah terbesit untuk menanyakan keadaan putriku “Hima” !! Pancaran wajahnya tak seperti biasanya yang penuh senyuman…

Meskipun kusadari ada keganjalan dalam putriku itu, aku masih tetap memperlakukan dirinya seperti biasa! Memperlakukannya tanpa kasih sa-yang yang seharusnya kuberikan se-bagai seorang ibu, membuatnya men-derita, dan ooh… sampai masih ter-rekam detik-detik terakhir waktu itu…, detik terakhir dari hidupnya, detik terakhir senyuman yang dapat ku-rasakan.

Kala itu…, kumemanggil putri per-tamaku,”Hima” tuk bisa temani aku di dapur. Tapi, terlihat wajahnya ber-muka pucat. Ia yang kala itu baru se-lepas pulang sekolah meminta izin untuk makan terlebih dahulu… Ku-berikan izin dengan nada kesal. Selesai makan, kegundahan pun semakin menyelimuti. Putriku “Hima” muntah-muntah, tapi tak sedikit pun aku kha-watir kepadanya, kukira ia masuk angin biasa! Dan ternyata setelah se-lesai ia tetap membantuku di rumah.
Ia meminta izin untuk mengerjakan tugas sekolahnya, walaupun dalam keadaan yang mengkhawatirkan se-perti itu, aku masih saja membiarkan dia mengerjakannya. Hingga akhirnya, tiba-tiba Hima tertunduk di meja bela-jar… Kulihat…?? Pikirku ia tertidur?! Kubiarkan dan setelah kulihat kembali ia masih tertunduk kaku. Kubiarkan dan setelah beberapa lama kulihat kembali ia masih seperti itu… Kucoba memarahinya karena kukira ia ber-malas-malasan! Kucoba membentak-nya, ia tetap tertunduk kaku… Dan ternyata…! Saat kuperiksa…, sungguh aku tak percaya…, ia, Hima putriku sudah dingin dan tidak bernafas lagi!

Tiba-tiba kecemasan, kesedihan, merasuk dalam hatiku! Yang muncul saat itu hanyalah keguncangan yang tiada terkira…, Mengapa aku selalu melontarkan kemarahanku kepadanya, yang hanya seorang anak dari per-nikahanku dengan suami sekaligus amanah dari Alloh , yang seharus-nya aku jaga, kurawat, dengan penuh kasih sayang. Tapi…, aku malah me-nyia-nyiakannya!

Kini yang ada tinggallah kenangan, penyesalan pun hanya kuarahkan untuk bertaubat kepada Alloh yang telah menitipkan amanah-Nya, namun kusia-siakan. Terlebih, dia adalah anak yang hatinya seputih kapas, akhlak sebening embun… seharum mawar, seluas samudra… setinggi langit…

Semoga kisah ini menjadikan kita sebagai ibu sekaligus pemegang ama-nah dari Alloh , agar dapat benar-benar memperlakukan anak-anak ki-ta dengan sepenuh hati dan kasih sayang, jangan memperlakukannya semena-mena. Bisa jadi suatu saat nanti, bila saatnya pertanggungjawa-ban tiba, sang anak akan bertanya, “Ibu…, apa dosaku…!”

R … di kota B…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: