Surat dari Ukhti

Hari Senin 15 Desember 2003, aku melakukan hal yang paling benar yang pernah aku lakukan dalam hidupku, aku mulai berhijab.

Tak terkira rasa senangnya hatiku ketika akhirnya kukenakan juga hijab itu setelah melalui berbagai rintangan dan tentangan dari sana sini. Keesokan harinya, setelah upacara sekolah aku mendapatkan sepucuk surat dari salah seorang ukhti yang saat itu adalah kakak kelasku. Hatiku berdebar-debar apa yang ditulis ukhti Hanif ini untukku, namun aku tidak begitu cemas karena ia salah satu yang memotivasiku untuk berhijab.

Lalu kubuka surat itu, isinya…

“Bismillah Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah karena sampai saat ini kita masih dan semoga tetap diberikan nikmat iman dan kesehatan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswah kita Rasulullah , keluarga, para sahabat, dan kita semua selaku pengikutnya hingga yaumul akhir.
Amien…………..

Adikku…, Alhamdulillah sekarang anti telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, yaitu mengenakan hijab. Secara dzahir anti telah berhijab, tinggal sekarang apakah hati dan sikap anti juga berhijab sebagaimana dzahir anti. Semoga jawabannya “InsyaAllah, menuju ke sana mbak!”. Bahwasanya seorang muslimah itu tidak dikenal karena dia berhijab, tanpa mengetahui untuk apa dia berhijab? Untuk siapa dia berhijab? Dan bagaimana hakikatnya hijab yang ia pakai?

Dik, ana terkejut saat upacara tadi, untuk pertama kalinya ana lihat anti pakai hijab lebar. Setelah ana terkejut, ana mulai senang, bangga, terharu dan berubah menjadi takut. Ana senang karena ada adik ana yang lain. Ana berharap semua perubahan ini didukung dengan sikap, tingkah laku dan tutur kata yang senantiasa cocok mendampingi eksistensi keberadaan hijab lebar itu.

Ana bangga, karena di zaman yang serba Hedonis, zaman yang menganggap bahwa orang yang benar-benar menjalankan syari’at Allah malah dituduh sesatlah, ekstrimlah, eksklusiflah, dan masih banyak lah-lah yang lain.

Ana terharu, karena masih ada orang yang berani tampil beda yaitu berhijab lebar.

Dan ana juga takut, apakah kita mampu mempertahankan hijab kita ini, karena seseorang memutuskan untuk berhijab maka dia harus mempertahankan hijab itu baik kesucian maupun keeksistensiannya melekat pada tubuh kita. Tapi ana yakin Allah akan menolong hamba-Nya yang menegakkan dan menjalankan agama-Nya.

Adikku…, ana punya cerita, semoga dengan deskripsi cerita ini semakin memberikan kekuatan kepada kita untuk menetapi kebenaran.
Dia seorang muslimah yang berhijab lebar. Dia mempunyai semangat untuk menegakkan agama Allah bahkan cita-cita menjadi seorang da’iyah dan istri yang shalehah. Di sekolah maupun di rumah dia senantiasa berhijab jika bertemu dengan yang bukan mahramnya. Dia berusaha menundukkan pandangan dan menolak berjabat tangan, tatkala bertemu dengan yang bukan mahramnya. Walaupun begitu, banyak teman-temannya, orang tuanya, saudaranya, dan tetangganya, menganggap dia ninja, teroris, Islam garis keras dan masih banyak tuduhan yang tidak layak untuknya.

Alhamdulillah sampai saat ini dia masih tetap istiqomah dengan keputusan dan keyakinannya itu.
Katanya dia mempunyai trik-trik khusus untuk menguatkan imannya itu, katanya sebagai berikut:
Akrab dengan Al-Qur’an (tilawah, tadabur dan hafalan). Menjalankan shalat sunnah (dhuha, rawatib dan shalat lail (tahajud, witir, dll)) serta berusaha menjalankan puasa sunnah. Berteman dan berdampingan dengan orang-orang yang sepaham dan sepemikiran dengannya. Membaca buku-buku keislaman. Aktif ikut Majelis Ta’lim (kajian).

Itulah sekelumit cerita tentang akhwat itu, kita doakan dia semoga tetap istiqomah sampai akhir hayat dalam meniti jalan kebenaran. Dan semoga kita bisa meniru sikap dengan segala kelebihannya, amin…

Saudariku…, jadilah seorang muslimah dambaan umat yang dicintai Allah, paling tidak menjadi muslimah yang hanya dicintai Allah, walaupun dibenci dan dicaci oleh umat manusia lain, yang mempunyai keterbatasan ilmu untuk memahami Islam secara kaffah. Marilah kita sama-sama mendekatkan diri kepada Allah, selangkah kita mendekat pada-Nya maka seribu langkah Allah akan mendekati kita. Insya Allah,
Ini dulu yang dapat ana sampaikan. Bila ada kebenaran datangnya dari Allah bila ada kesalahan datangnya dari ana sendiri. Afwan jiddan (maaf yang sebesar-besarnya) bila ada salah kata dan jazakillah atas semuanya.

Your ikhwah

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”

Jazakillah khairan ya ukhti, sudah sejak 5 tahun yang lalu aku tetap menyimpan surat ukhti, dan surat ini selalu bisa mengingatkanku. I miss you ukhti, ana uhibbuki fillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: