MEROKOK DIANGGAP SYIRIK, SEMINAR NYARIS RICUH

Antaranews Jombang, Jawa Timur, Seminar tentang bahaya Rokok yang digelar oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, nyaris ricuh, hal itu dipicu oleh salah satu nara sumber yang mengatakan bahwa merokok adalah perbuatan syirik.

Kericuhan seminar tersebut dipicu oleh pemaparan dari Nara Sumber yaitu Salim Said Basawad, dari Departemen Agama (Depag) Jombang. Dalam pemaparan makalah seminarnya, Salim mengatakan, bahwa seseorang yang merokok sama saja menggantungkan hidupnya kepada rokok. “Orang yang menggantung kepada selain Tuhan adalah syirik,” kata Salim di depan peserta yang memang diundang adalah para pelaku dalam industri rokok, Sabtu.

Selain itu, dia juga menilai bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang menuhankan rokok. Dia mengatakan, berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) atau Organisasi kesehatan Dunia, pernah memperkirakan 59 persen pria Indonesia yang berumur 10 tahun sudah aktif merokok.

Dari data 2001 saja, katanya, 70 persen penduduk Indonesia perokok aktif. “Berarti sebagian besar bangsa kita telah menuhankan rokok,” katanya.

Kontan, paparan dari Nara Sumber tersebut mengundang protes dari peserta. Salah satu peserta, Nur Kholis, pengusaha rokok, mengatakan, bahwa yang dikatakan nara sumber itu tidak masuk akal. Sebab, merokok tidak ada hubungannya dengan asas ketuhanan.

Terlebih lagi, jika dinalar secara logika, pemaparan nara sumber sangat tidak masuk akal. Dia mencontohkan, misalnya orang yang lapar adalah memiliki ketergantungan kepada nasi agar bisa kenyang. “Berarti orang tersebut telah berbuat syirik karena bergantung bukan kepada Tuhan tetapi kepada nasi,” katanya di sambut dengan tepuk tangan oleh hadirin yang hadir.

Selain itu, dia juga keberatan dengan paparan nara sumber yang mengatakan bahwa bangsa ini telah menuhankan rokok. Menurutnya, nara sumber sengaja mendramatisir masalah dengan membawa asas ketuhanan.

“Kita tahu bahwa negara ini telah sepakat berdasarkan atas asas ketuhanan Yang Maha Esa, menurut saya omongan dari pak Salim adalah tidak dapat dipertanggung jawabkan,” katanya seraya mengatakan Jika memang itu adalah pendapat pribadi, seharusnya tidak perlu dilontarkan kedalam seminar ini.

Seharusnya, dipertimbangkan berapa petani tembakau yang hidup karena Rokok. Dan juga penghasil pajak terbesar adalah Cukai Rokok. “Rokok harus dipertimbangkan segi manfaat dan segi mudhorotnya (Bahaya),” katanya.

Beruntung panitia dari Dinkes Jombang, dapat menengahi debat antara nara sumber dengan peserta. Sehingga kericuhan dapat di hindari dan seminar dapat dilanjutkan. “Kita disini adalah saling mencari ilmu dan kita sama-sama belajar,” kata dr Rustam Efendi, SP.P.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: