Memahat Komitmen (3)

”Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Alloh, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)


Percaya Diri Dengan Ahlak Islam
Sungguh sangat memprihatinkan, jika kita menyempatkan sedikit waktu kita untuk memperhatikan kebiasaan hidup kaum muslimin dewasa ini, baik dari kalangan tuanya maupun mudanya, wanitanya maupun prianya, kenapa di bilang memprihatinkan? Apa karena mereka sakit? Didera kemiskinan? Bisa juga dikatakan demikian, memprihatinkan karena mereka sakit hati dan jiwanya, lantaran mereka begitu jauh dari tuntunan Robb mereka Alloh swt, untuk senantiasa meneladani Rasululloh saw. Didera kemiskinan? Betul juga, karena mereka sangat miskin ilmu tentang dien (agama) nya, karena mereka selalu menyibukkan diri dengan urusan dunia, dari urusan cari nafkah sampai plesiran, jalan-jalan, shoping dan nongkrong di tempat-tempat hiburan sambil menghisap racun nikotin yang membunuh pelan-pelan jiwa dan ruh mereka. Belum lagi, tikah polah pribadi yang berubah beringas belingsatan terjangkit penyakit wahn (cinta dunia dan membenci kematian) maunya hidup terus selamanya, menjadi pongah, sok jagoan, menyepelekan orang lain atau tidak bisa menghargai selain dirinya sendiri, berkata kasar pada orang yang lebih tua, keras kepada yang lebih muda, maka timbulah budaya gengisasi (nge-geng ) sesuai dengan kelompok organisasi dan partai mereka, dengan selalu memarmerkan moto hidup dan slogan-slogan sampai kepada simbol-simbol kebanggaan geng atau kelompok mereka. Yang bikin merinding ketika mengenakan atribut pakaian mereka, sampai-samapi dari kalangan wanitanya rela menjual murah untuk mempertontonkan kemolekan tubuh mereka demi untuk menampakkan ciri khas geng wanita modern (kata mereka) mulai dari SekWilHa, SekWilPer, SekwilDa. Bodohnya, ternyata di balik tampilan tampang awut-awutan mereka yang telihat energik, spirit, sportif, seksi (alias penjaja maksiat) tersimpan karakter jiwa yang rapuh karena kebobrokan moral mereka sendiri, yaitu mudah putus asa, tidak memiliki sifat sabar dan stabilitas cara berfikir, tidak adanya jati diri disebabkan hobinya latah maunya meniru, istiqomah dan tawakkal dalam mengahadapi lika-liku kehidupan. Sehingga manusia semacam ini sering terkena penyakit kejiwaan, dari frustasi lalu menenggak khomer, suntikan narkotik, menghisap ganja, putau, heroin dan segudang barang haram lainnya, juga gaya hidup free sex, hingga bunuh diri.

Na’udzu billaah…, ya Alloh selamatkan kami dan keluaga, juga semua kaum muslimin dari serbuan tipu daya bala tentara iblis.

Saudaraku, saat kondisi kaum musli-min seperti gambaran diatas maka bisa disimpulkan tentang kenyataan yang sedang dan terus terjadi bagai mana kehidupan mereka kaum muslimin dan gayanya, mereka lebih mengagummi perihal pola prilaku keseharian orang-orang yang pada hakikatnya adalah orang yang tidak memiliki moral, siapa lagi kalau bukan kaum kaafiriin dari negri barat yang di jadikan kiblat oleh mayoritas manusia modern (kata mereka sendiri). Ini bukan berarti sedang memandang negatif pada komunitas tertentu, akan tetapi apa yang terlihat jelas di depan mata kita sehari-hari adalah bukti suatu gaya hidup yang tidak berdasar pada ahlak seorang muslim. Padahal Islam sebagai agama kita sangat memandang penting tentang ahlak bagi kehidupan kaum manusia secara umum dan muslimin secara khusus.

Islam sangat peduli dengan aspek akhlak yang baik. Seluruh perintah, larangan, ibadah, dan ketaatan Islam membuahkan hasil positif, bagi jiwa dan kehidupan manusia. Diantara hasil terbesar ahlak terkait dengan hak Alloh ta’ala, ialah takwa kepada-Nya, takut dan cinta kepada-Nya, serta senang dengan-Nya. Hasil positifnya terkait dengan hak manusia yakni berakh-lak baik ketika bergaul, dan berbuat baik antar sesama , karena dien agama Islam ini adalah muamalah atau cara dan jalan untuk beradaptasi yang lebih komunikatif (Tarbiyyah Dzatiyyah, Abdulloh bin Abdul Aziiz Al-Aidan). Alloh swt berfirman:

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushilat: 34-35)

Islam adalah kebaikan dalam mengapresiasikan pola kehidupan, dan apa saja yang datang dari selain Islam adalah suatu keburukan yang menjadikan hidup menjadi gelap gulita serta menyeret manusia menjadi berpola hidup lebih rendah dari binatang. Rosul saw bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan hamba mukmin pada hari kiamat selain ahlak yang baik. Dan, Alloh benci orang berkata jorok dan kotor.” (HR. At-Tirmidzi dan berkata hadist ini hasan shahih).

Pada hadist yang lain beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya orang mukmin pasti mendapatkan derajat orang yang berpuas dan qiyamullail, dengan ahlaknya yang baik.” (HR. Abu Daud)

Tidak mengherankan kalau ternyata ahlak dalam pandangan Islam menjadi salah satu sarana untuk memahat dan membina tabiat manusia dalam kehidupan. Maka seorang muslim sejati wajib untuk membina kepribadiannya , hingga ia dapat berahlak dengan ahlak yang mulia, bersumber dari Islam. Misalnya tahan bantingan, sabar, cinta, tawadlu’, dermawan, jujur, amanah, adil, sabar atas gangguan, berbakti pada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, hormat pada orang dewasa, menyayangi anak kecil, membantu orang yang membutuhkan, orang fakir, dan menolong orang yang terdzalimi, agar setiap orang yang hidup di tengah masyarakat muslim hidup dalam nuasa cinta, kasih sayang, hubungan yang diliputi kebahagiaan, dan keserasian, saling mempercayai dan menghormati, saling menyayangi dan sepenanggungan. Ketika menjelaskan hadist Rasululloh saw, “Dan pergauli manusia dengan ahlak yang baik” Ibnu Rajab rhm berkata: “Akhlak yang baik termasuk muatan takwa, dan takwa tidak sempurna kecuali dengannya. Akhlak mulia disebut secara tersendiri, karena ada kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya. Sebab sebagian manusia mengira takwa ialah menunaikan hak Alloh, tanpa menunaikan hak-hak manusia! Memadukan antara menunaikan antara hak-hak Alloh dengan hak-hak manusia itu sesuatu yang sulit dan hanya orang-orang yang kuat saja yang mampu melakukannya, yaitu para nabi dan orang-orang yang jujur berahlak mulia. (Jami’ul ulum wal hikam, Ibnu Rajab Al Khambali).
(Fityatun Aamanuu birabbihim)

File Gerimis Edisi 10 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: