Sejenak Bergaul dengan Anak

Sejenak bergaul dengan anak-anak seketika itu juga hilang beban di pundak. Anak-anak, mereka adalah pemeran sandiwara tanpa skenario sebelumnya. Dalam diri anak-anak ada keluguan, kepolosan, kejernihan, sepertinya belum ada kotoran yang hingga di benak. Ternyata mereka mampu memberikan pelakaran yang banyak. Tentunya bagi yang bersedia mengubah sudut pandangnya.

Sore itu aku pun bertamu ke rumah ”Umi” angkatku. Umi yang ditemani dua orang anak, lucu-lucu. Selalu ceria, tapi terkadang cemberut ketika ”petir” Umi menyambar mereka. Lari-lari. Tawa riang menghiasi perbincanganku dengan Umi. Di tengah-tengah bincang-bincang itu, tiba-tiba ”si kecil” berdiri dengan penuh kepolosan di hadapan Umi. Seolah ia telah melakukan perbuatan dosa. Wajahnya sedih, air matanya mengalir, pasrah atas apa yang akan dilakukan Umi. Dengan takut-takut ia lantas berucap, ”Umi… Buku diktat agamaku ilaaang…”, dengan khas logat anak-anak. Air matanya tambah deras, kepasrahannya tambah berlipat.

Umi yang susah payah membelikannya. Umi yang selalu menjaganya, merawatnya, mendidiknya. Umi…, terlalu besar jasanya. Bukan saatnya membahasnya. Umi dengan lembut membelai ”si kecil”, meminta mengingat-ngingat kembali, di mana buku itu diletakannya. Belaian lembut itu ternyata berhasil mengurangi tangis ”si kecil”. Subhanallah! Ucapku dalam hati.

Aku pun teringat, betapa sekarang ini, susah sekali untuk bisa meneteskan air mata di hadapan Dzat yang telah berjasa pada diri kita. Sementara terlalu banyak nikmat yang hilang sia-sia. Tak jarang nikmat-nikmat itu kita ”hilang”kan dengan sengaja. Bahkan tanpa merasa berdosa.

Sungguh manusia dewasa telah kebablasan dalam kedewasaannya. Barangkali karena terlalu banyak noda yang telah dikoleksi. Noda itu berhasil menutupi sisi fitrah untuk mengaku berdosa, meneteskan air mata, pasrah atas apa yang akan dilakukan-Nya. Fitrah itu terpendam dalam oleh tumpukan dosa-dosa.

Saudaraku…,
Saatnya kita kembali menggali fitrah itu. Dulu kita adalah anak-anak, tak ada salahnya kalau kita kembali menjadi anak-anak di hadapan-Nya, di sepertiga malam yang hening, seolah hanya berdua. Rasulullah saw memberi kita berita mengagumkan dalam sabdanya:

”Rabb kita setiap malam turun ke langit dunia ketika menjelang sepertiga malam yang akhir, lantas berfirman, ”Siapa yang berdo’a kepada-Ku, pasti Aku ijabah do’anya. Siapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni.” (HR. Al-Bukhari)

Subhanallah! Setiap malam Rabb kita memberi kesempatan. Sayang kalau waktu istimewa itu begitu saja terlewatkan. Itulah saat tepat bagi kita untuk mengakui dosa-dosa agar Dia berkenan memberikan ampunan. Pasrahkan diri atas semua apa yang terjadi, pasti akan diberi aneka kebaikan. Merengek-rengek meminta semua apa yang sangat kita butuhkan. Mengadukan semua permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan. Kalau perlu, paksa agar air mata jatuh berserakan. Sesudah itu semua pasti belaian lembut-Nya akan kita terima. Lebih lembut dari belaian Umi kepada anaknya. Karena Allah swt Maha Lembut, kelembutan-Nya sesuai dengan keagungan-Nya.

Selamat mencoba… Apabila belum beruntung, coba lagi…!

File Gerimis Edisi 6 Tahun Ke-2 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: