Siap Adu Tantang?

Berkendaraan sepeda motor, terkadang suka ”nyenggol” adalah hal yang bukan istimewa. Terlebih ketika ada hajat yang membutuhkan waktu cepat. Ngebut, sleat-sleot, ciit… bruk! (pelan). Tak urung yang demikian itu menaikkan tekanan darah dengan sangat cepat lagi mengubah paras muka menjadi agak beringas. Di jalanan, syetan-syetan memang berkeliaraan. Memasang jaringnya, mencari mangsa, masuk ke sistem peredaran darah manusia. Sampai-sampai ada ungkapan, berkendaraan ngebut di jalanan, separuhanya keahlian sedang separuh lagi nafsu syetan. Terkadang benar demikian.

Peristiwa ciiit… bruk! (pelan) itu pun sampai juga pada kendaraan yang saya tunggangi. Spontan, mobil pribadi yang kena senggol marah besar, besar sekali. Berteriak kasar dan lantang, hoi…! Awas kau! Sambil menantang untuk berkelahi. Tantangan bengis seorang manusia yang keras hati. Aku pun berkata dalam diri, ”Ah… gak ada gunannya meladeni.” segera saja tancap gas, pergi, toh tak bekas apapun di mobil tadi.

Tapi, tetap saja jiwa ini tidak tenang dengan tantangan yang penuh kesombongan. Tantangan yang disertai ancaman. Ingin rasanya kembali, untuk membuktikan kejantanan. Tak rela dianggap tak berdaya di hadapannya.

Tapi, sejurus kemudian jadi teringat sebuat ayat. Ayat yang berisi tantangan dari musuh sejat. Musuh sebenarnya yang Allah swt perintahkan untuk kita jadikan musuh.

”Iblis berkata: ”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian syaa akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapai kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raaf: 14-17)

Ya…. Inilah tantangan paling keras sepanjang zaman. Tantangan sangat serius dan bukan sekedar permainan. Tantangan yang disertai ancaman gila-gilaan, berusaha memalingkan dan menyesatkan semua manusia termasuk kita dari jalan keselamatan. Tidak ada tantangan yang lebih dahsyat, melebihi ayat di atas.

Anehnya, kalau tantangan manusia saja sudah membuat darah kita begitu mudah dan cepat bergejolak. Tapi mengapa kita menghadapi tantangan syetan, darah kita tak segera bergerak? Bahkan tak jarang kita mengikuti langkah-langkah syetan. Seolah tak peduli dengan tantangan dahsyat syetan kepada Bani Adam.

Saudaraku…,
Sampai kapan kita ”dingin” menghadapi tantangan syetan? Darah tak bergejolak. Hati tak membara. Wajah tak segera memerah. Kaki tak segera beranjak melangkah melawan arah seruannya?

Saudaraku…,
Apakah kita menerima, syetan telah menantang kita dengan tantangan terbuka lagi memaksa?

Apakah kita rela digiring di belakangnya dalam keadaan tersesat dan memandang baik perbuatan buruk?

Apakah kita rela diri-diri ini menjadi tentara-tentara iblis, bergabung di bawah bendera dan kekuasaannya?

Jika jawabannya tidak, lalu mengapa kita mau melaksanakan rayuan gombalnya dan takluk pada penyesatannya?

Benar-benar aneh kita…?

File Gerimis Edisi 5 Tahun ke-2 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s