Siapa yang Salah?

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59)


Di belahan bumi sana, seorang ikhwan bercerita. Setelah beberapa lama menikah-alhamadulillah- istri bersedia, rela melaksanakan Islam secara kaffah (sempurna). Hingga cadar pun dengan penuh keikhlasan dipancangkan kuat-kuat untuk menangkis serangan-serangan mata jelalatan pria yang hatinya berpenyakitan. Pengaman sekaligus kemuliaan bahwa dirinya seorang muslimah tangguh memegang prinsip diennya.

Tiba saatnya mertua minta dijenguk, rindu katanya. ”Ongkos gampang, nanti ada gantinya” Rayu sang mertua. Semgangat pun membara menjenguk mertua.

Tak disangka sesampainya di sana. Para tetangga menyambut dengan cibiran mulut dan kedipan mata. ”Kok isterinya sudah kayak ninja, aliran apa ya?” mulanya datar. Waktu berlalu, ternyata banyak orang yang tak mampu menyembunyikan kebencian. Syetan pun mulai menyuntikkan racunnya kepada ular-ular peliharaannya yang berbentuk manusia.

Mertua mendapat desakan agar putrinya melepas cadarnya, syi’ar Islam yang harus dijaga. Sang putri yang hatinya telah tersinari cahaya Ilahi jelas tak bersedia. Namun terus dipaksa, selanjutnya air mata yang bicara, dan begitulah wanita.

Sang ikhwan tiba di rumah, terkejut melihat cuaca yang telah berbuah. Awan mendung menyelimuti mata isterinya. Ada apa? Dalam tangis panjang, sang isteri menceritakan kepiluannya. Terkejut bukan main sang ikhwan. Perdebatan sengit tak lagi tertahankan, antara menantu dan mertua. Ia dituduh memiliki agama yang berbeda, ajaran yang tidak sama, Al-Qur’annya pun dianggap juga. Ia divonis sesat oleh sang mertua, dengan alasan tidak ada orang ”pribumi” yang melakukannya. Lebih baik mengikuti kebanyakan orang, pintanya.

Sang ikhwan jelas tak bisa meneken kontrak keinginan mertua. Karena sudah perintah dari Robb yang Maha Kuasa. Akhirnya, debat panjang yang tak berselesaian berujung pada ancaman. Tak berhak mendapat ganti uang perjalanan, tak berhak dapat warisan, dan sederet ancaman mengerikan lainnya. ”Karena kamu sesat” Kata mertua.

Sang ikhwan menggelengkan kepala, hanya bisa pasrah kepada yang Maha Kuasa. Hanya, ia selalu merasa heran dengan unek-unek yang tak tertahankan, ”Kenapa mereka tidak mau membaca catatan kaki (QS. Al-Ahzab (33): 59) terbitan DEPAG. Padahal, mereka semua mengakui, bila para penerjemah dari Departeman Agama itu sebagai para ulama yang selalu menjadi dalil bagi mereka.”

Di sana tertulis dengan sangat jelas: ”Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.”

Adakah orang-orang yang menghendaki kebenaran akan menutupi kejujuran hatinya?

File Gerimis edisi 4 Tahun ke-2 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: