Siapa yang Gila?

Kongkow-kongkow di sebuah halaqoh pecinta alam terkadang ada faedahnya. Dianjarkan betapa kita harus cinta terhadap lingkungan, bertanggungjawab sekaligus harus rajin memberi perhatian. Sebab alam adalah teman hidup, anugerah yang harus disyukurkan. Kita butuh alam, sudah sunnah kauniyyah, maka alam telah menyediakan semua apa yang kita butuhkan. Serasi dengan alam adalah wajibul kudu, atau keharusan yang tak terbantahkan. Pasti.

Tibalah suatu ketika acara rihlah, menjenguk puncak. Bermesraan dengan alam yang begitu indah dan mempesona, begitu teman-teman menyebutnya. Gunung-gunungnya yang menjulang, hijau ranau sedap dipandang. Udaranya membelai romantis, terasa sejuk di dada. Airnya jernih, gemercik, lucu, indah seperti tawa adik bayiku yang di rumah. Iiiih… asyik deh pokoknya.

Di sebuah pojok, tepatnya di selokan, terlihat ada seorang berpakaian lusuh mengumpulkan sampah. Keringat plus sedikit bau yang menyengat. Beberapa meter darinya, orang-orang borju dan sok kaya memandangnya sinis sedang tangannya melempar sebungkus sampah sambil mengucapkan sebuah kalimat yang bikin telingaku memanas, ”Dasar orang gila!”

Aku jadi bingung. Siapa sebenarnya yang gila?! Orang yang berusaha mengumpulkan sampah di selokan agar air mudah mengalir ataukah orang yang membuang sampah sambil merasa tak bersalah? Orang yang rela keringatnya bercucuran meski campur bau kotoran untuk mempertahankan keserasian alam atau orang yang berpenampilan wah namun sejatinya perusak lingkungan? Sejak kapan otak mereka berbolak-balik. Yakin. Kita semua tahu siapa yang sebenarnya gila.

Saudaraku…,
Inilah sebuah fenomena kecil di masyarakat kita. Tak kecil sebenarnya, kalau kita mau meneliti lebih dalam lagi tentang fenomena ”Siapa yang gila?” di masyarakat kita. Hutan-hutan gundul gara-gara ulah seoran gyang dianggap ”pahlawan” oleh sebagian orang. Menyisakan banjir hingga Aceh tenggelam. Gunung emas dikeruk terus-terusan oleh seorang yang dianggap ”pembawa devisa negara” oleh sebagian manusia. Menyisakan limbah yang mengancam kehidupan penduduk Papua. Pelacuran yang ”diizinkan” oleh sebagian oknum, terkadang hobi sebagian tokoh masyarakat. Menyisakan sejarah kelam sosok yang seharusnya menjadi panutan ummat. Kesyirikan yang sengaja ”dibiarkan” atau bahkan diperjuangkan. Menyisakan adzab yang sudah siap menghantam manusia, kalau kita diam saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: