Sambutlah Dia dengan Hamdalah (3)

“Wanita sholehah ialah, jika dipandang ia menyenangkan suaminya, jika diperintah dia taat dan jika (suaminya) keluar dia menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no 1417)


3. Memberi Senyuman Terindah

Rumah tangga adalah merupakan bentuk pemerintahan terkecil di dalam komunitas masyarakat, namun begitu, peranannya pun teramat vital bagi masyarakat itu sendiri, bahkan boleh jadi, suatu negara atau bangsa dimana pun tidak akan dapat tegak berdiri bila tidak ada peranan yang baik dari lembaga keluarga tersebut. Sebab, negara merupakan suatu batas yang dihuni oleh kumpulan masyarakat. Sedangkan masyarakat tidak akan baik atau berdiri dengan aman dan harmonis bila tidak didukung oleh peranan keluarga-keluarga yang bertanggungjawab.

Begitu pun dengan lembaga keluarga tersebut, mustahil akan serasi, tanpa terbentuknya keharmonisan anggotanya sendiri, minimal ada kecocokan antara suami dan istri. Maka, menjadi agenda penting yang harus menjadi prioritas bagi seorang istri maupun seorang suami adalah menciptakan rumah tangga yang harmonis dengan jalan membina kerukunan rumah tangga, yang dibangun di atas pondasi yang kuat, yaitu pondasi Islam.

Perumpamaan hidup berkeluarga dalam suatu rumah tangga ibarat seekor burung yang sedang terbang dengan kedua sayapnya ke suatu tempat yang dituju. Kedua sayapnya menggambarkan sepasang insan suami dan istri yang tengah berpacu saling membahu dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sebagaimana burung yang tidak bisa terbang kalau salah satu sayapnya tak berfungsi, begitu pula halnya dengan kehidupan suami-istri. Tak akan pernah ditemui keharmonisan, hidup rukun, seiring-sejalan, kalau antar suami-istri tidak saling memahami unsur tabi’at dan kepribadian masing-masing.

Banyak ahli mengatakan, keharmonisan keluarga ditentukan jika banyak memiliki unsur persamaan. Seperti, kesamaan hobby, atau profesi. Ada pula yang beranggapan bahwa unsur kesamaan seperti itu bisa ditolerir, yang lebih penting lagi adalah saling pengertian.

Islam tentu memiliki konsep tersendiri yang tentunya lebih sempurna. Contoh konkrit adalah mengikuti jejak rumah tangga Rasululloh saw. Yang jelas, patokan rumah tangga muslim ideal tidak boleh melenceng dari program pokok hidup ini, yaitu saling melengkapi dalam beribadah kepada Alloh swt. Apa pun yang dilakukan, tetap dalam rangka itu, kesatuan langkah merealisasikan cita-cita hidup, bahu-membahu dalam mengemban amanah, demi meraih nilai tertinggi, yaitu ridha Alloh swt.

Wanita sebagai ibu rumah tangga yang baik, tidak terlalu banyak menuntut hal keduniaan di luar batas kemampuan suami. Sebaliknya jika keluarganya diberi karunia kelebihan rezeki, ia pemurah, bahkan mendorong suaminya untuk menyisihkan infaq khusus untuk kegiatan fi sabilillah, bukan malah mencegahnya.

Seorang istri mujahid atau mubaligh yang shalihah akan mengerti bila suaminya memiliki banyak jadwal kegiatan. Maka, dia dengan rela menerima dan menggembirakan tamu suaminya apabila suaminya itu dikunjungi oleh teman atau mad’unya. Ia pun harus maklum kalau suaminya sebagai pegawai Alloh swt itu (mubaligh) atau mujahid sering meninggalkannya, tak jarang pula terlambat pulang, karena memenuhi permintaan umat demi mencari muka kepada penguasa tertinggi, yaitu Alloh swt. Ia tak sempat berfirkir negatif, seperti ngomel, cemberut, mengeluh cemburu, jika suaminya pulang larut malam, karena dia telah pasrah sepenuhnya kepada Alloh swt.

Keberangkatan suami dilepas dengan senyum terindah, yaitu senyuman yang penuh dengan cinta dan keikhlasan, kedatangannya pun disambut dengan wajah ceria. Demikianlah gambaran wanita shalihah.

Memandangi suami dalam setiap siatuasi dan kondisi, menemaninya dalam riang dan gembira, menghibur dalam duka dan nestapa, menyenangkannya di saat sedih dan gelisah adalah merupakan kewajiban istri sebagai pendamping suami.

Jika seorang istri dapat berlaku terhadap suaminya seperti apa yang dipaparkan di atas, sehingga suaminya bertambah cinta dan sayang kepadanya dan merasa puas terhadap pelayanan istrinya, maka wajarlah dia memperoleh balasan yang setimpal.

Suatu hari, putra seorang sahabat Rasululloh saw, Abu Thalhah Ra terserang penyakit hingga meninggal dunia di pangkuan ibunya, yaitu Ummu Sulaim. Sementara Abu Thalhah sedang berada di luar rumah. Sang istri tidak segera memberi tahu Abu Thalhah tentang musibah yang baru dialaminya tersebut, karena dia tahu betul kalau suaminya tersebut amat sayangnya terhadap putranya itu dan mungkin akan merasakan kesedihan yang amat dalam bila mendengar putranya telah meninggal.

Ketika Abu Thalhah datang, Ummu Sulaim mendekatinya, kemudian menghidangkan makan malam buatannya. Abu Thalhah pun makan dan minum sepuasnya. Setelah itu Ummu Sulaim bersolek, hingga kelihatan lebih cantik dari hari-hari sebelumnya. Abu Thalhah sangat tertarik, lalu mengajaknya tidur bersama. Setelah selesai melakukannya, Ummu Sulaim mengajukan pertanyaan kepada Abu Thalhah, “Ya Aba Thalhah, bagaimana pendapatmu bila suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu kaum itu memintanya kembali pinjaman tersebut. Bolehkah keluarga tadi melarangnya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.”

“Kalau begitu, relakanlah anakmu yang telah diminta kembali oleh yang punya, Alloh swt.” Sambung istrinya.

Mendengar kata-kata istrinya Abu Thalhah sangat marah, lalu berkata, “Engkau biarkan aku kotor (junub) seperti ini, baru setelah itu engkau beritahu tentang keadaan anakku?”

Esok harinya Abu Thalhah Ra mendatangi Rasululloh saw dan mengabarkan tentang peristiwa malam itu.

Mendengar hal itu, Rasululloh saw bersabda, “Semoga Alloh swt memberkahi malam kamu berdua.” Benarlah, Alloh swt mengabulkan do’a penutup para nabi dan rasul ini. Alloh swt mengaruniakan putra sebagai pengganti putranya yang telah meninggal dunia itu. Ternyata, bukan Cuma seorang putra, tetapi Alloh swt telah mengaruniakan sembilan putra yang kesemuanya dapat menghafal Al-Qur’an Al-Karim.

Inilah saripati dari kesabaran. Kesabaran dari kesadaran akan kewajiban seorang istri shalihah untuk senantiasa memenuhi hak-hak suaminya, untuk selalu taat dan untuk selalu dapat memberikan kebahagian dan kesenangan kepada suaminya, baik di saat gembira maupun duka.

Rasululloh saw bersabda:
“Tiap-tiap istri yang meninggal dan diridhai suaminya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

File Gerimis Edisi 2 Th. Ke-2/2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s