Do’aku Untuk Dukun Bayiku

Berpetualang di berbagai kota itu mengasyikkan. Tetapi kembali ke kampung halaman kadang jauh lebih mengasyikkan. Bisa mengingat sederet kenangan yang tak mungkin terulang lagi. Tak kusangka sama sekali, dalam kepulanganku kali ini aku masih dapat menjumpai seorang dukun bayi. Dukun bayi yang dulu, kata ibuku, telah menolongku keluar dari perut ibu. Benar-benar manusia berjasa, di awal aku pertama kali menginjak dunia.

Dahulu, dukun bayi itu teramat baik kepadaku. Setiap kali ia lewat di depan rumahku, aku dan adik-adikku, selalu berseru, “Mbah…!” Sejurus kemudian, rupiah ada digenggaman. “Ini untuk beli es yaa…,” ia berpesan. Yang seperti itu hampir selalu menghiasi pertemuanku dengannya, bisa dikatakan sepanjang zaman, demikian itu.

Akan tetapi kini, kusaksikan ia tergeletak tak berdaya. Usianya telah lanjut, sudah hampir seratus. Tulangnya tak lagi berbalut daging, tetapi hanya berselimut kulit keriput. Tak sanggup lagi makan sesuap nasi, yang bisa hanya seteguk susu, kemudian sudah. Benar-benar hawa seolah terasa, bahwa hidup tak akan lama.

Ternyata walaupun sudah teramat tua, dengan izin Alloh swt, ia masih menyimpan banyak tenaga. Saat kusentuhkan jari-jariku, ia bertanya, “Siapa ini?.” Kujelaskan siapa diriku, dan ia masih mengingatnya, “Ohh…anaknya si fulan.” Karena dahulu kami begitu akrab, ia langsung memintaku untuk mendekat. Kupenuhi permintaan itu.

Tiba-tiba ia mulai bercerita kisah hidupnya bagaimana awal mula menjadi dukun bayi. Ia terbuka padaku, bahwa setiap kali menolong bayi, ia tidak sendiri. Ia mengaku punya semacam pasukan pendamping yang merupakan warisan nenek moyang. Usianya sudah tiga ratus tahun lebih.

Dahulu, ia sering mandi malam hari di sungai sebelah rumah. Ia berpuasa tiga hari tiga malam, tak berbuka walau rasa lapar mencakar-cakar perutnya. Ia sering keluyuran kemana-mana apabila malam tiba. Kemudian ia menunjukkan sebuah bungkusan yang ia simpan dibalik selendang. Ia bercerita bahwa di jembatan desa ada tiga penunggu, laki-laki semua, besar dan tinggi. Di pertigaan jalan sana ada sundel bolongnya. Di sungai itu, di bawah pohon bambu, ada sebuah keluarga hantu, yang sering menyapaku. Sedang di ujung jalan desa sana ada tuyul yang sering keluyuran…!!!?

Tersentak aku kaget luar biasa. “Ini kesyirikan…, ini kesyirikan…,” ucapku dalam hati berulang-ulang. Selanjutnya, ia mengajariku sebuah mantra berbahasa jawa. Aku tak bersedia namun ia memaksa. “Kamu harus mengikuti kata-kataku!” katanya.

Kemudian ia berucap, “Apabila kamu hendak keluar rumah, ucapkan: Bismillahirrohmannirrohim, (Aku setuju), lalu: Ibu slamet, bapak slamet, (aku mulai ragu), ikutlah sebelah kanan dan kiriku, (aku mulai tidak setuju).”

Terjadilah dialog dengan sedikit perdebatan antara aku dan dia. “Ini supaya kamu tidak diganggu oleh seorang pun, untuk jaga-jaga, katanya.”

Aku jelaskan bahwa kita tidak boleh minta kecuali hanya kepada Alloh swt, ia pun setuju, ia mengaku bahwa ia pun hanya minta kepada Alloh semata. Aku bimbing ia untuk bersyahadat, ia pun bisa, lancar bahkan. Aku ajarkan ia apa itu tauhid dan apa itu syirik, ia pun tahu. Tetapi acapkali ia berusaha agar aku mengikuti mengucapkan mantra itu. Aku tetap bersikeras tak mau. Selang beberapa waktu, ia minta segelas susu, ia pun minum hanya beberapa teguk, lalu berucap, “Selanjutnya jangan ganggu aku.” Sekejap kemudian ia lelap dalam tidurnya.

Spontan, mengalir air mataku, deras. Padahal aku tak lagi punya waktu. Aku harus pergi, kembali berpetualang ke kota. Jadwal kereta memaksaku pergi meninggalkannya dengan segera. Hanya lantunan do’a semata yang masih tersisa, di setiap kesempatan yang aku bisa. “Ya Alloh…, berilah petunjuk-Mu dan selamatkanlah ia.”

File Gerimis Edisi 1 Tahun Ke-2 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: