Dia Merindukan Belaian Kasihmu (5)

“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit tidak akan mensyukuri yang banyak. Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak akan berterima kasih kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mengungkapkan rasa terima kasih atas nikmat Allah adalah bentuk kesyukuran dan meninggalkannya adalah kekufuran.” (HR. Ahmad)

“Pandai berterima kasih adalah pertanda budi pekerti.
Orang yang pertama kali berhak mendapatkannya dari suami adalah sang isteri.”


Gambaran sebuah setrikaan/gosokan baju yang hilir mudik dan bolak-balik kesana kemari tiada henti.
Keumuman kesholehahan seorang isteri, jika kita perhatikan secara seksama mulai dari ba’da shubuh mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu tempat kerjanya (dapur), memasak air untuk ngopi suami dan mandi putera atau puterinya yang akan berangkat sekolah, menanak nasi untuk sarapan suami dan anak-anaknya.

Tidak sampai di situ…

Setelah aktivitas memasak, bai yang memiliki buah hati yang belum bisa mandiri, sang ibu harus memandikannya dan memakaikan baju untuk berangkat sekolah, pun suami yang siap untuk berangkat kerja tidak luput dari perhatiannya. Setelah mereka (suami dan anak-anaknya) pergi berangkat ke tempat tujuan masing-masing, tidak serta merta tugas seorang isteri berhenti sampai di situ.

Belum lagi yang masih mempunyai bayi mungil dengan kerewelannya membuat perhatian ibu menjadi terbagi. Menetekan dulu agar sang bayi tidak menangis, supaya sang ibu bisa melanjutkan tugas selanjutnya, mencuci, belanja makanan untuk hari tersebut dan setelahnya membersihkan tempat tinggalnya.

Mendidik anak-anak, memberikan service (pelayanan) terbaik dan menjaga harta suaminya pun merupakan bagian tugas sang isteri sholehah. Huh…, terbayang begitu sibuk dan capeknya ya… Kaki dan tangannya tidak terhenti untuk melangkah dan terus untuk berkarya.

Wahai para suami, apakah engkau menyaksikan akan besarnya jasa isteri-isterimu? Yang darinya akan menggerakan lisanmu untuk mengucapkan, “Dinda, ‘jazakillah’ terima kasih atas semuanya, semoga Allah swt meridhaimu.”

Ya, “terima kasih”, dua potong kata yang sulit untuk dikeluarkan lisan. Hanya dua potong kata, “terima kasih”, tetapi jarang sekali kita dengar. Adakah kata-kata tersebuh keluar dari seorang suami yang ditujukan untuk isteri yang disayanginya? Sangat disayangkan terhadap sebagian para suami yang lemah rasa empati (kepeduliaan) terhadap sang isteri. Sangat berbeda ketika dulu bagaimana cara ia untuk mendapatkan si ‘dia’.

Ketika menghadap calon mertua, kata-kata indah pun dirangkai untuk sekedar menarik simpati. Akan tetapi setelah terjalin rajutan tali pernikahan dan setelah beberapa waktu terlewati, kata-kata mesra dengan penuh kelembutan itu hilang, sirna entah kemana, walaupun hanya sekedar mengucapkan kata, “terima kasih”. Na’udzubillah.

Prototipe seorang isteri sholehah adalah bukan yang memelas dan merengek untuk minta di’terima kasihi’ oleh suami. Walaupun sang isteri tak pernah minta berbalas terima kasih dari suami, pada kenyataannya dan faktanya, terlalu banyak alasan bagi suami untuk tidak menyatakan terima kasih kepada isterinya.

Berterima kasih mungkin menurut para suami adalah hal yang sepele. Namun, jika diucapkan sebagai rasa syukurnya dan penghargaan, apalagi kepada isteri kita, akan memberikan dampak yang luar biasa pada perkembangan kejiwaan yang akan melahirkan budi pekerti yang luar biasa. Jika isteri mendapatkan perlakuan yang baik dari suaminya, aia akan bahagia dan bertambah rajin. Sang isteri shalehah akan semakin terdorong untuk melayani suami dan mendidik dengan baik anak-anaknya.

Jika pujian senantiasa mengalir kepada isteri kita, maka akan menambah kebahagiaan keluarga, penuh dengan kedamaian dan ketentraman hidup bersama suaminya. Pepatah mengatakan, “Siapa yang menanam sesuatu yang baik, maka buah yang akan dituainya pun adalah kebaikan pula”. Manfaatnya akan kembali pada suami dengan membawa cinta dan kegembiraan.

Lagi-lagi karena kearogansian dan keangkuhan atas kepemimpinannyalah, suami jarang untuk berterima kasih kepada isteri dalam kehidupan keluarganya. Bagaimana mungkin untuk bisa mengungkapkan kata-kata yang penuh dengan kelembutan seperti ungkapan rasa saya, ‘I love U’, bahkan hanya sekedar mengucapkan terima kasih pun tidak bisa.

Begitupun sebaliknya untuk para isteri harus pandai bersyukur kepada Allah swt yang telah mengaruniakan kepada dirinya seorang suami sebagai pendamping dalam kehidupannya. Cucuran keringat dan banting tulang serta kerja keras suami ketika dalam mencari nafkah untuk diri, anak-anak dan keluarganya. Ketika suami baru datang dari medan dakwah atau dari tempat kerjanya dengan wajah penuh kecapaian dan kelelahan, sambutlah dengan senyuman tulus dan manis seraya mendo’akannya sebagai ungkapan rasa cinta, sayang dan terima kasih atas jasa serta kebaikan suami selama ini kepada dirinya.

Di dalam Islam kekuatan kata-kata begitu luar biasa pengaruh dan dan dampaknya. Karena ucapan terima kasih adalah perkataan baik yang termasuk dalam thibbul kalam. Orang yang melakukannya adalah termasuk diantara kelompok yang disediakan ruangan istimewa di surga kelak. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga ada sejumlah ruangan di mana orang yang berada di dalamnya bisa melihat orang yang berada di luarnya. Dan orang yang berada di luarnya bisa melihat orang yang ada di dalamnya. Ruangan-ruangan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang baik perkataannya, memberi makan, dan melakukan shalat malam ketika manusia tertidur.” (Al-Jami’us Shagir: 2314)

Sudahkah kita berterima kasih kepada isteri dan orang-orang yang berjasa selama ini kepada kita?

File Gerimis Edisi 11 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: