Dia Merindukan Belaian Kasihmu (4)

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa:19)

4. Memukul Istri ?

Sifat Ar-Rujulah atau kejantanan seorang suami bukan dibuktikan dengan beraction keras hati, melampiaskan kekuatan otot tubuh dengan memukuli Istri. Memang gagah, seorang suami bertampang sangar seperti gatot kaca kumis mbaplang tebel kaya empal daging sapi, otot kawat bertulang besi, minumnya kopi setiap pagi. Tapi kan bukan jaminan dia suami penyayang dan romantis.

Karena yang jadi dambaan setiap istri bukan hanya suami bertubuh atletis bertampang macho, tapi yang terpenting sholih, dewasa, penyayang, nggak ketinggalan romantis sampe kekek-nenek, dan yang terahir bermanhaj Ahlussunnah wal Jama’aah.

Namun apa yang akan kita bincangkan pada kali ini adalah, ada saja karakter suami cenderung berkeras hati, bertabiat kasar, zalim dan tidak banyak memahami ajaran Dien (agama) Islam. Hingga acap kali tersulut emosinya ia memukuli istri seperti banteng liar ketaton. Ia menyiksa istrinya dengan sangat pedih, padahal hanya suatu sebab yang remeh. Ironinya kadang suami berhati bengis dan kasar itu berdalih dengan izin Al-Quran untuk memukul. Padahal sejatinya mereka keliru dan salah paham. Suami yang jahil dari aturan Islam dalam memandang keperkasaan berarti mendzalimi, menundukkan, menguasai dan bertindak otoriter. Kepemimpinan (Qawwamah) bagi mereka adalah belenggu yang diletakan di leher wanita untuk menhinakan dan menguasainya. Anehnya suami tipe ini dulunya, di awal sebelum pernikahan, yakni di saat masih dalam tahap perintisan berpura-pura berjiwa santun penug kelembutan dan kasih sayang. Akan tetapi setelah menikah, ia berbalik 180 derajat. Ketawadhu’an berganti jadi kedzaliman. Rendah hati berubah penguasaan dan keangkuhan. Bagaimana tidak? Ia biasa memukuli istri dengan tongkat dan tangannya karena sebab yang remeh. Kadang pula tanpa sebab yang jelas. Sering pula ia tambah dengan cacian dan fitnah. Allohul Musta’aan. Semoga kita dan suami anda tidak termasuk kategori suami yang seperti ini. Lantas bagaimanakah Islam memandang hal seperti ini?

Saudaraku…, Perempuan bukanlah barang yang tak berguna. Bukan pula bahan hinaan. Bukan pula binatang ternak yang diperjual- belikan, sehingga pemiliknya bisa seenaknya memperlakukannya semaunya. Wanita, dalam hal ini, mempunyai hak yang sempurna untuk mengadukan keadaannya pada wali atau orang tuanya, atau pada hakim (pengadilan). Perempuan juga manusia yang dimuliakan, dan yang termasuk yang dimaksud firman Alloh swt:

“Dan sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan (QS. Al-Isra: 70)

Mempergauli istri dengan baik bukan sebatas Ikhtiari atau kesadaran semata, di mana suami berhak untuk memilih. Jika ia berkenan, ia bergaul dengan santun. Jika tidak, ia bersikap buruk. Bukan begitu. Pergaulan yang baik terhadap istri justru merupakan kewajiban. Mengasihi wanita, tidak seperti mengasihi hewan. Ini merupakan haknya sekaligus kewajiban suaminya. Perempuan dimuliakan dengan penciptaan yang sempurna, rupa yang cantikdan bentuk tubuh yang sempurna. Ia dimuliakan juga dengan bayan (kemampuan berbicara), akal dan kemampuan mengemban amanah. Keistimewaan-keistimewaan ini diberikan kepada pria dan wanita. Orang yang memperlakukan istrinya tak ubahnya binatang atau barang dagangan, berarti telah mengingkari nikmat Alloh swt dan membawa dirinya pada siksa Alloh yang Maha Kuasa. Mungkinkah mereka tidak mempedulikan fiman-Nya:

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)

Dan Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya aku melarang terhadap kalian hak dua golongan yang lemah: anak yatim dan wanita.” (Diriwayatkan Ahmad, 2/439, dan yang lainya. Ia menilai shahih berdasarkan syarat Muslim).

Juga sabdanya saw:
“Wanita adalah saudara kandung laki-laki.” (Ahamad 6/256 Dishahihkan Ahmad Syakir dalam tahqiq At Tirmzi).

Sabdanya saw:
“Janganlah salah satu dari kalian mencambuk istrinya seperti mencambuk hamba sahaya, setelah itu ia tidur bersamanya.” (Al-Bukhari 5204 Muslim 2855)

Lihatlah begitu kerasnya Rasululloh saw menilai tercelanya memukuli wanita. Bagaimana mungkin seseorang pantas menjadikan istrinya, yang tak ubahnya nafas baginya, terhina tanpa harga diri. Ia memukulinya dengan cambuk atau tangannya, sedang ia tahu bahwa dirinya butuh bergaul dan berhubungan intim dengannya.

Namun demikian bukan berarti Islam melarang suami memukul istri dengan tujuan mendidik bukan semata-mata menyakiti. Dan kalau pun begitu, ada persyaratan tertentu yang membolehkan suami untuk memukul istri ketika berbuat kedurhakaan. Mari kita simak firman-Nya:

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya” (QS. An-Nisa: 34)

Juga sabda Rasul saw:
“Kalian mempunyai hak atas mereka (istri-istri kalian), yaitu mereka tidak memasukan seorang pun yang tidak kalian sukai ke ranjang kalian. Jika mereka melakukan demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitinya.” (Muslim no.1218).

Bersambung…

File Gerimis Edisi 10 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: