Dia Merindukan Belaian Kasihmu (3)

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa: 19)

3. Keringnya Mata Air Penghargaan

Panji kebahagiaan suami istri akan selalu berkibar di atas sebuah rumah tangga, yang masing-masing berasal dari suami dan istri yang saling menghormati, menghargai, memuji dan memuliakan, serta tak saling menyakiti. Ya…, ibarat tanaman bunga di taman halaman rumah, jika selalu disirami maka akan tumbuh dengan suburnya dan menumbuhkan bunga-bunga penuh semerbak dan berwarna-warni bermekaran.

Namun barang siapa merendahkan dan acuh tak acuh kepada istri, maka ia akan mengalami kehidupan yang diwarnai kesedihan. Sayangnya ia tidak sadar bahwa perilaku buruk inilah penyebabnya. Seorang suami dapat dianggap bersalah ketika menyangka bahwa dirinya akan dapat hidup bahagia dan harmonis dengan istrinya, apabila ia merendahkan dan tidak menghargai istrinya, karena merasa dirinya adalah laki-laki, kepemimpinan ada ditangannya, sementara wanita itu berkarakter “kurang akal dan agamanya” serta diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga sudah selayaknya istrinya tak perlu dihiraukan ucapanya, tidak mengajaknya bermusyawarah dan berdialog dalam urusan apapun. Jika sang istri mengajukan suatu pendapat, ia mengabaikannya.

Sebagian suami sering meremehkan istri, di matanya sang istri tak ubahnya seonggok barang yang tak bernilai. Dalam pandangannya, istrinya tak lebih dari debu yang tak berharga yang diterbangkan angin. Salah satu bentuk sikap meremehkan istri adalah menghinanya atau menyebutkan kekurangan-kekurangannya di hadapan anak-anaknya. Hinaan yang biasa meluncur dari mulutnya adalah tidak becus mengurus rumah tangga, suami, anak-anak, lemah akal, dan tidak mengerti metode pendidikan. Sikap meremehkan istri lainnya adalah mencela keluarganya dihadapanya, baik kedua orang tuanya, saudaranya, pamannya, maupun kerabatnya yang lain. Sang suami tak segan meremehkan dan mencela mereka karena kesalahan yang dilakukan sebagian kerabat istrinya, menuduh mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan dan lain sebagainya.

Perilaku ini adalah kekeliruan besar. Wanita adalah manusia yang dimuliakan. Ia mempunyai akal, pendapat dan kedudukan. Tidak sedikit cendikiawan dari kalangan perempuan yang mengungguli kaum pria. Mereka memiliki pendapat bijak dan pola pemikiran yang baik.

Barang kali kita masih mengingat peran Ummu Salamah dalam peristiwa Hudaibiyyah. Ketika itu Rasululloh saw bersabda kepada para sahabatnya, “Berdirilah, lalu sembelilah, kemudian bercukurlah”, tetapi kala itu, tak seorang sahabat pun yang berdiri. Beliau memerintahkan hal itu sebanyak tiga kali. Ketika tak ada seorang pun dari mereka yang berdiri, beliau bersegera menemui istrinya Ummu Salamah dan menceritakan peristiwa itu kepadanya. Mendengar hal itu, Ummu Salamah mengatakan, “Wahai Nabi Alloh, apakah engkau menginginkan hal itu? Keluarlah dan jangan bicara sepatah kata pun pada mereka. Sembelilah hewan kurbanmu dan panggilah tukang cukur untuk mencukurmu.”

Beliau pun melakukan hal itu. Beliau keluar menemui para sahabat, tanpa berbicara dengan seorang pun dari mereka. Beliau menyembelih hewan kurban dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukurnya. Menyaksikan hal itu para sahabat pun berdiri untuk menyembelih. Satu sama lain saling mencukur. Sebagian mereka nyaris membunuh sahabat yang lain karena cuaca berawan (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, shahih bukhari no. 2731-2732).

Saudaraku, renungkanlah kebijaksa-naan yang ditunjukkan oleh pendapat istri Rasululloh saw, Ummu Salamah. Perhatikanlah sikap Nabi yang mengikuti nasihat istrinya.

Suami yang cerdas dan murah hati akan selalu memperhatikan dan memuliakan harkat istrinya. Ia selalu meminta pendapatnya dalam beberapa urusan, baik menyangkut kehidupan secara umum maupun berkenaan dengan masalah rumah tangga secara khusus, misalnya tentang perabotan rumah. Walau begitu, ia tidak harus mengikuti pendapat istrinya. Sebab kehormatan diri dan Dien (agama) mengharuskan suami tidak mencela istri dan keluarganya. Karena hal itu akan menyakitkannya. Selain itu, memuliakan istri mengharuskan suami memuliakan keluarganya.

Bukankah meremehkan istri, berarti meremehkan diri sendiri? Memandang enteng teman dekat dalam kehidupan, ibu dari anak-anak sendiri. Tegakah?

Sehingga kalau pun terdapat aib atau kekurangan pada sebagian anggota keluarga, seharusnya kita segera menasehati dan meluruskanya, bukan malah mencelanya. Nabi saw bersabda:

“Berbuat baiklah pada kaum wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan yang paling bengkok pada tulang rusuk ialah bagian atasnya. Jika kamu meluruskanya dengan paksa, maka kamu akan mematahkannya, dan jika kamu biarkan bengkok, maka akan tetap bengkok selamanya. Karena itu, berbuat baiklah kepada kaum wanita.” (Al-Bukhari no. 3331, Muslim no. 1468)

Bersambung…

File Gerimis Edisi 9 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: