Memahat Komitmen (1)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)


Dalam menggenggam aqidah

Sosok mukmin dan mukminah sejati seharusnya menyadari bahwasanya dirinya adalah seorang yang sedang mengemban sebuah risalah (ajaran) dan prinsip yang teramat sangat mahal. Dia senantiasa memahami bahwa kelak akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Alloh swt, tentang tugas dalam mengemban aqidah Islam sepanjang hidupnya. Hendaknya, ia bersungguh-sungguh untuk mempersiapkan jawaban apa yang akan ia ungkapkan di hadapan Robb semesta alam Alloh swt.

Maksud kesungguhan dalam beraqidah adalah bahwa kita di tengah menjalani hidup ini merupakan bukti pengejawantahan penuh dengan aqidah Islam. Aqidah itu benar-benar menyatu kedalam jiwa, menjadi nafasnya, mengalir bersama darah yang terpompa oleh jantung keseluruh bagian jasad, sehingga aqidah tersebut secara nyata menjadi pola gerak tubuh, memantul menjadi kepribadian muslim yang memiliki harga diri.

Maka seyogyanya aqidah ini bagi kita lebih mahal harganya dibandingkan seluruh kepentingan pribadi, sekalipun sangat membutuhkanya setiap saat. Kita harus rela membeli sebuah barang dagangan langka dari Robbul ‘Izzah berupa Jannah yang tinggi mulia,para penghuninya pun adalah orang-orang yang mengenakan mahkota kemuliaan dari-Nya. Melalui akad jual beli yang berpijak diatas cinta yang murni penuh keihlasan kepada-Nya. Sebagai mana yang tersirat pada ayat diatas.

Pada kondisi lain, terpastikan menjadi suatu hal yang tidak mungkin terjadi manakala seorang yang beraqidah seperti yang digambarkan di atas, memberikan kompromi cinta kasih yang menghapus guratan prinsip aqidah yang termahal. Mari kita simak firman-Nya:

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujaadilah: 22)

Saudaraku, mengapa harus demikian? Hal itu dikarenakan seorang mukmin atau mukminah adalah ia sebagai manusia yang hidup dengan aqidah yang suci, mati karena aqidah, mengekspresikan benci dan marahnya juga karena aqidah. Ia tidak pernah melakukan tawar menawar terhadap aqidahnya. Meskipun dengan yang paling mahal sekalipun. Sehingga mereka tidak akan menjual aqidah dengan sesuatu apapun.

Kadang kala, ada seorang mukmin atau mukminah mau melepas sebagian dari nilai aqidahnya atau sesuatu dari akar aqidahnya, karena takut atau hendak memenuhi keinginan manusia. Hal ini merupakan sebuah kesalahan besar.

Mari kita coba perhatikan Abdulloh bin Hudzafah ra, yang pergi menjumpai raja Persia (ada yang mengatakan mengadap raja Romawi). Kepadanya diperlihatkan jasad-jasad kaum muslimin yang di rebus di dalam kuali-kuali besar. Kemudian sang raja berkata kepadanya, “maukah kamu kembali dari agamamu? (murtad dari Islam) dan kamu akan mendapatkan setengah kerajaanku?” dengan tegar Abdulloh mengatakan, “demi Dzat yang tidak ada Dzat yang yang berhak didibadahi selain Alloh, aku tidak sudi melakukan hal itu, sekalipun kamu memberikan seluruh kerajaanmu, kerajaan bapak dan nenek moyangmu.” Bahkan lebih dari itu lagi sebagian kaum muslimin di bakar dengan api, namun mereka tetap tegar mempertahankan kalimat “Laa Ilaaha Illallooh” hingga mereka menemui ajal.

Sekali lagi kita hayati kisah Khubaib bin Adhi ra, yang di bawa menuju tiang gantungan. Tetapi dia dengan penuh keyakinan dan iman yang membaja mendendangkan beberapa bait syair:

“Aku takkan peduli, bagaimanapun bentuk kematianku, ketika menghadap Alloh, selagi kematianku sebagai seorang muslim karena Alloh semata, kalau sang pencipta menghendaki, Dia akan memberkahi tiap sayatan tubuhku dan percikan darahku yang tercincang berserakan”.
Hingga ahirnya Khubaib ra menemui kesyahidannya dalam keadaan iman yang tegar, tidak murtad dari agamanya. Ketika Khubaib ra berada di tiang gantungan, Abu sufyan bin Harb berkata kepadanya: “Wahai Khubaib, relakah kamu sekiranya Mukhammad berada disini, menggantikan posisimu ini?” Khubaib ra menjawab, “Demi Alloh yang jiwaku dalam kekuasaa-Nya, aku tidak akan rela berada di tengah-tengah harta dan keluargaku, sementara Mukhammad saw terkena duri sekalipun.”

Bersambung…

File Gerimis Edisi 8 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s