Mencari Tambatan

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)


Disaat bahtera dihempas badai dan gelombang maka sang nahkoda harus segera memutar haluan menuju dermaga untuk menambatkan, mengikat kuat tali talinya pada pasak-pasak yang kokoh. Ketika sang musafir di gurun sahara merasakan kehausan yang mengeringkan tenggorokan dan kerongkongannya dia segera mencari mata air yang bening dan menyegarkan sekalipun tipuan fatamorgana memenuhi pandangan matanya.

Lantas kemanakah orang-orang yang dilanda kegelisahan, kesempitan, kesulitan, dan kesedihan mencari tempat untuk mengadu? Kepada siapakah mereka harus menghiba pertolongan? Siapakah yang pantas dan layak menjadi tempat bergantung, memohon, meminta dan meratap semua mahluk? Siapakah yang menjadi gantungan hati dan selalu di sebut-sebut oleh lisan manusia? Tidak lain, dialah hanya Alloh swt yang tiada ilah (tuhan yang paling berhak untuk didibadahi) selain dia. Alloh swt berfirman:

“Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.” (QS. Al-Ikhlas: 2)

Juga seperti ucapan Ibrahim as
“(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 78-82)

Berapa banyak petani, nelayan, pedagang, pekerja umum ataupun pejabat instansi pemerintahan maupun swasta yang ketika ditimpa kesulitan , kesempitan masalah dalam ruang lingkup kerja mereka justeru menghiba, memohon pertolongan, kepada dewa dewi, tempat tempat dan benda-benda keramat yang dalam mitos di percaya sebagai penyubur tanah, pemberi panen melimpah, pemberi hasil tangkapan ikan yang banyak, penyelamat dari mara bahaya, pendukung mempermudah naiknya jabatan , pelaris dagangan hingga pelancar usaha ? Berapa banyak pula sebagian kita yang acap kali terhimpit permasalahan dalam hidup dari jenis terkena penyakit, membbangun rumah atau bangunan yang lainya ,tidak punya keturunan sampai permasalahan jodoh, sibuk mencari-cari dan mengunjungi dukun, paranormal atau yang sejenisnya? Kadang ironisnya para mediator kesesatan ini pun disebut sebagai kiyai ustadz yang notabene sebutan ini digunakan oleh mayoritas umat untuk penyebutan orang yang lebih banyak tahu tentang ilmu kaidah-kaidah agama. Lebih mengerikan lagi masih ada sebagian dari kalangan generasi bangsa ini dari kalangan pelajar dan mahasiswa, ada lagi yang bikin kita geleng-geleng kepala, para bakal calon wakil rakyat atau setelah menjabat jabatan itu, budaya kebiasaan pergi kedukun untuk membantu kelulusan ujian sekolah, perguruan tinggi, tembus UMPTN, terpilih menjadi wakil rakyat sampai kepada kelanggengan jabatannya. Allohul musta’aan (ya Alloh tunjukilah kami dan umat ini kepada jalan yang lurus).

Saudaraku, bagi kita semua, adalah merupakan suatu kewajiban untuk senantiasa memohon doa hanya kepada Alloh swt, dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan mudah maupun sulit. Sudah semestinya kita pun harus menumpahkan permasalahan keharibaan-Nya juga tetap bertawasul kepada-Nya dengan cara yang di tentukan Nabi saw, meski dalam keterjepitan seperti apapun. Kita harus bersimpuh di atas hamparan permadani-Nya sambil memohon, menghiba, menangis merendahkan diri tuk mereguk segar ampunan-Nya. Kemudian, tunggulah! Karena pada saatnya nanti akan datang uluran pertolongan (ma’unah), bantuan dan kemudahan yang bersumber dari-Nya. Firman-Nya:

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An-Naml: 62)

Telah jelas jawaban-jawaban pertanyaan di atas, bahwa Alloh swt-lah yang menyelamatkan orang yang tenggelam, memberi jalan keluar orang-orang yang mengalami kesulitan, menolong orang yang dizhalimi, memberi petunjuk orang yang tersesat, menyebuhkan orang yang sakit dan meringankan beban orang yang mendapat cobaan.

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut: 65)

“Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Maka mengaduhlah, merataplah, berdoa memohon kepada-Nya. Bila anda telah berhasil menemukan apa yang anda mohonkan berati anda telah menemukan segalanya.akan tetapi jika anda kehilangan iman kepada-Nya, niscaya anda telah kehilangan segalanya.

File Gerimis Edisi 7 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s