Dia Merindukan Belaian Kasihmu (1)

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisa:19)

Untaian bunga perlakuan dan perhatian yang semerbak mewangi kebaikanya, sangatlah urgen (penting) bagi seorang raja kepada rakyat yang di pimpinya, begitu pula yang harus dipersembahkan oleh sang suami pada belahan hati dan jiwanya yaitu istri tercinta

Banyak sekali didapati di dalam kitab suci Al qur’an firman Alloh swt maupun pada sabda nabi mulia saw yang memerintahkan agar senantiasa suami memperlakukan istri dengan baik serta memaafkan jika ia mendapati kekurangannya, supaya ia memberi kesan lembut, kasih sayang, perhatian, dan penjagaan suami terhadap istri.

Semestinya hal itu cukup dipahami dari firman Alloh swt yang menyatakan bahwa wanita merupakan salah satu tanda kekuasaan dan karunia Alloh swt kepada kaum laki-laki serta yang menetapkan cinta dan kasih sayang sebagai ikatan penghubung antara suami dan istri. Firman Alloh swt:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. 30:22)

Surat An Nisa pada ayat ke 19 diatas cukuplah satu ayat ini mengadung makna yang luas, yang memuat wahyu Ilahi yang dibaca di mihrob-mihrob dan dijadikan sarana bertaqorub oleh para hamba yang beribadah kepada All0h. Lantas masihkah para suami akan terus menyakiti dan membenci istrinya?

Marilah kita (para suami) arahkan pandangan mata kita ke seluruh seluk beluk ayat ini, isilah penuh angan kita dengannya, puaskan hati dengan mata airnya, bisakah kita merasakan hal-hal yang menimbulkan kebencian kepada istri? Kira-kira bagaimanakah sikap kita terhadap sesuatu yang kita benci, namun ternyata tanpa kita duga sesuatu tersebut dapat menjadi sarana untuk diri kita memperoleh anugerah kebaikan dari Alloh swt? Jadi, adakah tempat untuk menumpahkan sikap benci itu di ruang kesempurnaan keimanan kepada Alloh swt?

Mengenai perlakuan baik kepada istri pada penggalan ayat di atas (An Nisa:19) :…”dan pergaulilah mereka dengan baik…”

Ibnu Katsir rh berkata:”yakni ucapan kata-kata yang menyenangkan mereka, lakukan perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap yang baik kepada mereka sesuai dengan kemampuan kalian. Sebagaimana kalian ingin diperlakukan seperti itu, maka lakukanlah hal seperti itu kepadanya”. Fiman-Nya:

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.(Al Baqorah: 228)

Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisa :19)

Al Qurthubi ra berkata dalam menjelaskan penggalan ayat:: “…Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka..” “yakni lantaran perilakunya yang buruk, selama ia tidak melakukan fahisyah (perbuatan keji) atau nusyuz ( pendurhakaan), maka dianjurkan untuk menyikapinya dengan sabar, karena mungkin pada ahirnya Alloh swt memberi rezeki berupa nak-anak yang shalih atau yang lainya dari mereka itu (kaum istri).

Hampir serupa dengan makna ayat ini adalah kandungan hadist yang yang diriwayatkan dalam shahih muslim dari abu hurairah ra yang berkata: rosululloh saw bersabda:

“janganlah seorang laki-laki yang beriman membenci seorang wanita yang beriman, jika ia tidak menyukai satu sifat padanya, mungkin ia akan menyukai sifat yang lain.”

Maksudnya, jangan sampai seorang laki-laki beriman membenci wanita beriman secara mutlak, sehingga mendorongnya untuk menceraikannya. Itu tidak seyogyanya ia lakukan. Sebaliknya, seyogyanya ia memaafkan kesalahanya lantaran kebaikannya, dan menolerir apa yang tidak disukainya lantaran apa yang disukainya. Ibnu ‘umar berkata, ” sungguh, kadang seseorang beristikhoroh kepada Alloh swt, lantas ia diberi pilihan, namun ia tidak suka kepada Robbnya swt atas pilihan itu, tak lama kemudian ia berfikir tentang kesudahan urusannya, namun barulah ia paham bahwa itu merupakan pilihan terbaik untuknya.”

Ibnul ‘arobi dengan sanadnya dari Abu Abdurrohman: Bahwa Syaikh Abu Muhammad bin Abu Zaid sangat masyhur ilmu dan agamanya. Ia mempunyai seorang istri yang berperangai buruk. Isetrinya itu sering melalaikan sebagian hak suami serta menyakiti suami dengan ucapan. Ia pun ditanya dan dikritik karena kesabaranya kepada isterinya. Ia pun menjawab, “aku adalah laki-laki yang mendapat nikmat sempurna dari Alloh swt berupa kesehatan badan, ilmu, dan budak-budak. Barangkali, ia adalah wanita yang dikirim sebagai hukuman atas dosa-dosaku. Aku takut, andaikata aku menceraikannya, akan turun kepadaku hukuman yang lebih berat daripada dia.

“Ya Alloh…berikanlah kami kemampuan agar kami menjadi suami yang baik dan adil sesuai dengan ridho-Mu, agar kami dapat menjadi suami yang mampu bersikap adil dan baik ketika bersanding dengan istri-istri kami sebagai bagian dari bukti cinta sejati kami kepada-mu dalam menjalankan ketaatan atas perintah-Mu…”

Bersambung…

File Gerimis Edisi 7 Tahun 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s