Jangan Hidup tanpa Iman

Iman membuat hidup kita semakin berarti dan penuh makna. Pengabdian yang ikhlas dari seorang hamba kepada Rabb-nya akan mengisi kekosongan jiwanya, melapangkan dadanya dan menentramkan hatinya. Tidak ada ketenangan bagi jiwa seorang manusia kecuali dengan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah dan berdzikir mengingat-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati itu menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28).

Lihatlah kehidupan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sebagian besar mereka hidup dalam kesederhanaan dan bahkan kadang-kadang kekurangan. Makanan mereka sederhana, pakaian mereka sederhana. Tetapi menikmati kehidupan ini. Hari-hari mereka penuh aktifitas, jiwa-jiwa mereka penuh dengan optimisme dan hati-hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan. Bahkan tidak berlebihan kalau kita katakana bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Apa resepnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Iman.

Iman bagaikan sebuah mata air jernih yang membasahi jiwa, menghilangkan kegersangannya dan menghidupkan hati. Tiada anugerah Ilahi yang lebih besar daripada Iman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujuraat: 17).

Orang-orang yang celaka yang benar-benar celaka ialah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki perbendaharaan iman dan deposito keyakinan. Mereka selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kemarahan dan kegundahan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaahaa: 124).

Tidak ada yang bisa membahagiakan jiwa, mensucikannya dan menghi-langkan kemurungan, kesedihan dan kegelisahannya selain iman kepada Allah Rabbul ‘aalamiin. Tidak ada rasanya sama sekali kehidupan ini kecuali dengan iman.

“Apabila Iman telah hilang maka tidak ada lagi kehidupan, dan tidak ada dunia bagi siapa yang tidak menghidupkan agama.”

Sesungguhnya cara terbaik bagi kaum atheis jika mereka tidak beriman ialah mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri agar mereka dapat terbebas dari beban-beban, belenggu-belenggu dan malapetaka. Wahai alangkah sengsaranya kehidupan yang tanpa Iman,sungguh suatu la’nat yang abadi bagi mereka yang keluar dari manhaj Allah di muka bumi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al ‘An’aam:110).

Sungguh telah tiba saatnya bagi dunia untuk sadar sesadar-sadarnya dan beriman dengan sebenar-benarnya Iman bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, setelah pengalaman panjang yang berat selama berabad-abad yang lewat akal manusia sampai pada suatu kesimpulan bahwa patung adalah suatu khurafat dan kekafiran adalah suatu la’nat, atheisme adalah suatu kebohongan dan para rasul itu benar serta Allah adalah Haq (Maha Benar), bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Sesuai dengan kadar keimananmu lemah dan kuatnya, hangat dan dinginnya maka sekadar itu pula kebahagiaanmu, ketenangan dan ketentramanmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Dan kehidupan yang baik ini ialah ketenangan jiwa-jiwa mereka terhadap janji baik Rabb mereka, keteguhan hati-hati mereka dengan mencintai Tuhan mereka, kebersihan nurani-nurani mereka dari penyimpangan dan kedinginan syaraf-syaraf mereka di hadapan berbagai malapetaka serta ketenangan hati-hati mereka ketika turunnya qadha’ dan qadar Ilahi karena mereka telah ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan Islam sebagai dien dan dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai Nabi dan Rasul.

File Gerimis Edisi 5 Th. Ke-1/2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s