Mulia Bersama Penerima Ujian

Maha Suci Allah yang cinta-Nya melebihi cinta hamba-Nya. Yang rahmat-Nya mendahului kemarahan-Nya. Raja yang memberikan balasan terhadap amalan hamba-Nya, melebihi kadar amal hamba tersebut. Dia memuji mereka, padahal Dia-lah yang memberikan segalanya. Dia membeli sesuatu dari mereka, padahal Dia pula yang mengaruniakannya. Dia mengutamakan hamba-Nya karena amal-amal baik mereka, padahal Dia lah yang memberikan mereka hidayah dan menciptakan alam raya untuk kenikmatan hidup mereka.

Sementara banyak hamba-Nya yang keberadaan mereka seperti ketiadaannya. Ibarat mentimun bungkuk, ada tidak menambah bilangan, ketiadaannya pun tak mengurangkan hitungan, tidak mampu menangkap isyarat-isyarat keesaan dan kekuasaan-Nya. Perintah-Nya tak pernah digubris apalagi dipatuhi. Sementara larangan-Nya, dengan sangat bangga dikerjakan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Wahai orang yang menjual jiwanya dengan hawa nafsu, pecinta penyakit, penggemar kesengsaraan dan kehancuran, kamu telah menjual sesuatu yang paling berharga dengan harga yang sangat murah. Seakan-akan kamu tidak tahu nilai barang yang kamu jual, sehingga kerugiannya kamu nikmati sementara kamu anggap pembelinya yang menipumu. Kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah barang niaga, pembelinya Allah swt, bayarannya Surga dan perantaranya Rasulullah saw”. Duhai, betapa banyak mereka yang tidak sampai ke sana dan tiada pernah berfikir mensyukuri nikmat Allah swt dengan tunduk dan patuh terhadap seluruh perintah-Nya.

Cobaan merupakan rukun hidup. Orang yang siap hidup harus berani menerima cobaan, baik yang terlihat indah maupun yang terkesan mengenaskan. Kita tiada pernah tahu, apakah cobaan Allah untuk kita berupa kenikmatan ataukah kesengsaraan.

Lazimnya, para perintis jalan dakwah dan hamba pilihan Allah, diuji dengan musibah yang terlihat menyakitkan. Jalan ini adalah jalan Nuh AS ketika diuji dengan hinaan kaumnya serta tiada berimannya “dua orang cinta”nya yang sangat melipur lara-kan hati. Jalan ini adalah jalan Ibrahim AS ketika dicampakkan dalam gunungan api serta harus rela meninggalkan dua qurratul aini-nya di padang gersang dekat Ka’bah demi patuh terhadap perintah Allah swt. Jalan ini adalah jalan Yusuf AS ketika dibuang dalam sumur dan dipenjara, jalan Ayyub AS ketika ikhlas menerima penyakit yang susah tersembuhkan, jalan Yahya AS yang harus rela digergaji bersama ayahanda Zakaria AS. Jalan Musa AS ketika diusir Fir’aun lalu didustakan pula oleh kaumnya, jalan Isa AS ketika diburu untuk dibunuh oleh Yahudi laknatullah alaihim. Jalan ini adalah jalan manusia paling mulia di seantero jagat, Muhammad bin Abdullah saw, ketika hari-harinya dipenuhi ejekan kaumnya, dilempari dengan tahi onta, dicekik dengan tali kekang kuda, dituduh gila, difitnah sebagai tukang sihir, dipukul gerahamnya hingga retak, dicemari kehormatan istrinya tercinta, diusir dari Makkah, dikepung bersama sahabatnya hingga hanya bisa makan dedaunan sekelilingnya, bahkan harus mengikatkan batu diperutnya untuk menahan rasa lapar.

Renungkanlah wahai saudaraku, yang merasa hina dengan cobaan Allah swt. Anda sangat mulia ketika ridho menerima musibah dari Allah, sebagaimana mulianya para Rasul Allah ketika menikmati cobaan mereka. Kemuliaan anda ditentukan oleh sejauhmana keikhlasan anda terhadap cobaan itu. Perhatikanlah orang sekeliling anda, mereka juga merasakan ujian yang anda rasakan. Yang membedakan anda dengan mereka adalah, anda mengharapkan sesuatu dari Allah yang mereka tidak pernah harapkan padahal anda dan mereka merasakan sakit yang sama. Pemilik syari’at dan Penata Alam ini berfirman, “Sesungguhnya siapa yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan bersabar, Allah sungguh tidak menyia-nyiakan amalan orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf (12): 90).

Pemilik iman yang benar selalu meyakini dengan kuat bahwa, apapun yang menimpanya pasti karena kecintaan Allah swt kepada hamba-Nya, walaupun musibah itu datang dari manusia atau tirani kedzaliman. Seperti perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Memangnya apa yang dilakukan oleh para tiran itu padaku? Surgaku ada dalam hatiku, tiada pernah meninggalkanku. Jika mereka memenjarakan aku, itulah masa rehat bagiku. Jika mereka mengusirku, itulah rihlah, tamasya yang indah. Jika mereka membunuhku itulah cita-citaku; menemui Rabbku dalam syahadah”.

Pemilik iman sempurna tiada pernah menghiraukan ujian, indah kah dia atau menyengsarakan. Mereka selalu memandang kehidupan dunia hanya sementara, ibarat musafir menumpang lalu. Tiada kekekalan yang mesti diasakan kecuali kekekalan surga Allah swt, kehidupan setelah datangnya kematian. Seperti sya’ir yang selalu dilantunkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Keindahan dunia menampakkan diri dihadapanku
Ia menyeru kepadaku agar datang kepadanya
Akupun berpura-pura seakan-akan tiada melihatnya
Karena aku tahu tujuanku jauh lebih mulia.

Hamba Allah yang sadar mesti meyakini, bahwa ujian dan cobaan merupakan fit and proper test antara hamba yang bertakwa dunia, meraih surga di akherat, dengan hamba yang culas di dunia, raih sengsara diakherat, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)”. (QS. Al-Baqarah; 214).

File Gerimis Edisi 3 Th. Ke-1/2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s