Hubungan Suami Isteri yang Baik

Mu’asyarah atau hubungan suami isteri yang baik merupakan hal yang harus ditegakkan dan diusahakan. Karena hal itu adalah wujud dari keluarga yang sakinah. Maka untuk itu harus ada saling pengertian yang dalam tumbuh dari rasa mawaddah (cinta) dan rahmah(kasih saynag) di antara keduanya.

Perasaan tanggung jawab seorang suami terhadap keluarganya harus betul-betul dijaga. Tanggung jawab tersebut harus berlandaskan Islam. Dia harus tahu betul bahwa suami yang baik adalah suami yang baik dan dipandang baik oleh keluarganya. Rasulullah saw bersabda:

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang terbaik bagi isterinya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda:
“Bahwa Allah swt akan menanyakan tiap pemimpin tentang kepemimpinannya. Apakah dia telah memelihara kewajibannya itu atau dia telah menyia-nyiakannya sampai Allah swt menanyakan seorang laki-laki tentang ahli rumahnya.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban).

Allah swt telah memesan seorang suami untuk menjaga isteri dan keluarganya agar tidak berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah swt dan membiming mereka ke arah jalan yang selamat di dunia dan akhirat. Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrima: 6).

Ali Ra berkata:
“Haruslah kalian membimbing mereka dan mengajarkan mereka –tentang Islam-!”

Sedang Qatadah Ra mengatakan:
“Haruslah kamu memerintahkan mereka untuk mentaati Allah swt dan melarang mereka dari berbuat maksiat. Kamu harus tegak di tengah-tengah perintah Allah, juga memerintahkan mereka dan membantu mereka dalam menegakkan perintah Allah itu. Maka apabila engkau melihat mereka melakukan maksiat, cegahlah mereka!”

Al Alusi rhm berkata dalam tafsirnya:
“Ayat tersebut menunjukkan kewajiban bagi seorang suami (kepala rumah tangga) untuk belajar tentang kewajiban-kewajiban dalam agama, dan mengajarkan kepada mereka (anak dan isteri) tentang itu.” (Ruhul Ma’ani 28: 156 dan ‘Audatul Hijab 2: 210)

Maka dalam membina hubungan baik dan mesra dalam keluarga, antara suami dan isteri haruslah ditegakkan ajaran-ajaran Islam yang membimbing seseorang yang beriman dengan bimbingan yang pasti dan rinci. Tiap langkah harus diperbuat terdapat petunjuk yang harus dijalankan.

Adapun seorang isteri yang berada di samping seorang suami yang shalih, mempunya beberapa kewajiban terhadap suami yang harus diusahakan memenuhinya. Rasulullah saw berbda, “Hak suami atas kewajiban isterinya ialah, isteri tidak boleh meninggalkan ranjang suaminya, menerima yang dapat diberikan oleh suaminya, mengikuti perintah suaminya, dan tidak keluar rumah (untuk bepergian) kecuali telah mendapat izin suaminya, dan tidak berbuat seseuatu yang dia (suami) tidak senangi”. (HR. Tabrani).

Pembinaan yang dilakukan oleh Islam dalam membina keluarga sakinah agar orang yang beriman itu berbahagia di dunia dan di akhirat, dan mendapatkan pahala yang dijanjikan Allah swt yang selalu diharapkan oleh mereka untuk mencapainya. Tanpa mempunyai harapan itu, pelaksanaan ajaran agama akan terkatung-katung, dan menunjukkan atas keimanan orang tersebut yang sangat dangkal dan imannya tidak berfungsi.

Asma binti Yazid bin As-Sakan Ra datang kepada Rasulullah saw lalu dia mengatakan kepada Rasulullah saw, “Aku adalah utusan dari jama’ah wanita muslimin yang ada di belakangku. Mereka semua mengatakan sama seperti apa yang kukatakan dan sama seperti apa yang aku pikirkan. Allah swt telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan kaum wanita, kami pun beriman dan mengikutimu. Sedangkan kami, kaum wanita mempunyai kekurangan-kekurangan, memakai cadar, dan mempunyai peraturan-peraturan di rumah. Adapun laki-laki telah dilebihkan dengan shalat jum’at, menghadiri jenazah, dan jihad. Apabila mereka keluar untuk jihad (perang) kami menjaga harta mereka, mendidik, dan memelihara anak-anak mereka, lalu apakah kami dapat bagian dari mereka pahalanya, ya Rasulullah?

Lalu Rasulullah saw menoleh kepada para sahabatnya, lalu beliau saw mengatakan, “Apakah engkau dengar perkataan wanita itu, suatu pertanyaan yang sangat bagus tentang agamanya?” Mereka menjawab, “Betul ya Rasulullah”. Rasulullah mengatakan kepada Asma Radiyallahu ‘Anha, “Kembalilah ya Asma! Dan beritahukan kepada wanita-wanita yang ada di belakangmu, sesungguhnya hubungan pergaulan yang baik kepada suami dari seorang kalian, dan usaha kalian dalam mendapatkan kesenangan/keridhaan suaminya, juga mengikuti persetujuan suami adalah sebanding pahalanya dengan yang kamu sebutkan tadi.” Kemudian Asma berlalu, sambil mengucapkan tahlil, takbir dan rasa sangat gembira atas jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Muslim).

Maka jelaslah laki-laki yang mu’min dan wanita yang mu’minat mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pahala yang melimpah ruah dari pelaksanaan tugasnya masing-masing yang telah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dari lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: