Ghaib Bagian Dari Syari’at

Keabsahan iman seseorang adalah bila ia mempercayai hal yang ghaib. Namun, bagaimana cara meyakini sesuatu yang tak nampak di pelupuk mata?

Ghaib adalah lawan dari nyata. Ada alam ghaib, ada alam syahaadah (nyata). Iman kepada yang ghaib adalah “membenarkan berita ghaib dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk beriman kepada yang ghaib, bukan kepada yang tampak nyata. Karena disinilah ujian keimanan, ketundukan, kepasrahan dan ketulusan.

Mengomentari firman Allah : “Dan Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib”, Syaikh As Sa’dy rahimahullah berkata: “Hakekat iman adalah pembenaran yang utuh terhadap apa yang dikhabarkan oleh para Rasul yang mencakup ketundukan anggota badan. Bukanlah urusan iman itu terkait dengan perkara-perkara yang tampak oleh indera. Karena yang demikian itu tidak akan membedakan antara orang islam dan kafir. Objek keimanan adalah perkara ghaib yang tidak pernah kita lihat dan tidak pernah kita saksikan. Kita mengimaninya karena khabar dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Maka inilah iman yang akan memisahkan antara seorang muslim dan kafir”.

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum memeluk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam demi melihat tanda-tanda kenabian serta mukjizat-mukjizatnya, yang Allah Ta’ala tampakkan kepada Rasul-Nya. Mereka tahu saat-saat wahyu turun. Mereka melihat beratnya keada-an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kondisi ketika menerima wahyu.

Mereka melihat peristiwa-peristiwa besar yang mengiringi turunnya wahyu dan membenarkannya. Mereka kenal bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiada pernah berdusta ataupun berkhianat kepada sesama, maka bagaimana mungkin akan berdusta atau berkhianat kepada Allah, sedang Dia adalah Tuhan yang diibadahi dengan penuh pengagungan dan kecintaan, ketakutan dan harapan.

Maka sudah sepantasnya lah mereka beriman. Bahkan kalau bukanlah karena hasad dan gengsi, Yahudi Madinah, Nashrani Najran dan kaum kafir Quraisy pastilah beriman.

Yang lebih hebat dari mereka yang beriman saat itu adalah orang-orang yang datang setelah mereka. Tidak melihat Nabi barang sejenak, tidak pula peristiwa-peristiwa hebat di atas. Namun mereka beriman. Dari itu ketika Abu Ubaidah ra bertanya: “Ya Rasulallah, ada-kah yang lebih baik daripada kami? Kami memeluk agama Islam bersamamu. Dan kami berjihad bersamamu”. Beliau menjawab, “Iya (ada)! Yaitu kaum setelah kalian. Mereka beriman kepadaku sedang mereka tidak pernah melihatku.”

Berkata Asy Syaikh Ali Thanthawi, “Setiap orang mempunyai kualitas yang sama dalam mempercayai dan membe-narkan alam syahadaah (nyata). Sampai binatang melata pun dengan inderanya dapat menemukan wujud alam syahadah ini. Masing-masing orang tidak punya kelebihan padanya. Kelebihan hanya ada pada mereka yang beriman kepada apa yang tidak dilihatnya, namun ia meyakini adanya, karena berpegang kepada kebenaran berita tentang hal tersebut”.

Disinilah letak keistimewaan orang-orang yang takwa. Oleh karena itu Allah menjadikannya sebagai sifat pertama bagi orang-orang muttaqin sebagaimana dalam firman-Nya:

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib” (QS. Al Baqarah: 3)

Darimana Khabar Ghaib itu?

Pandangan mata kita terbatas. Pendengaran pun juga terbatas. Begitu pula halnya dengan akal budi kita. Jika beberapa orang berada dalam sebuah rumah tertutup, lantas terdengar bel pintu luar berdering tanda datangnya seorang tamu, maka mereka tidak dapat mengetahui identitas sang tamu dan maksud kedatangannya dengan rinci.

Dan ketika mereka memaksakan diri mereka untuk menebak-nebaknya, berbeda-bedalah persepsi mereka sebelum tamu itu sendiri yang memberitahukannya. Artinya dengan keterbatasan kita, mana mungkin kita sanggup sampai pada keimanan yang rinci dan benar akan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, hak-hak dan batasan-batasan-Nya kecuali jika Dzat yang Maha Ghaib itu sendiri yang memberitahukannya dengan detail, baik melalui Al- Quran atau Sunnah Nabi-Nya. Itulah dua sumber asli, agung dan suci yang akan selalu memberikan petunjuk pasti dalam meneropong alam ghaib ini.

Berpaling dari keduanya dan me-ngambil sumber-sumber teropong yang lainnya berupa mimpi, wangsit dan bisikan ghaib syetan, hasil renungan (baca lamunan), terawangan (baca pengkhayalan oleh syetan), atau kontak dengan jin, maka kesesatan yang didapatkannya akan jauh lebih besar. Bagaimana tidak demikian, sedang syetan para dukun memberikan satu yang haq lantas ditimpali de-ngan seratus kebathilan. Dan ini terjadi pada orang yang telah menyembah syetan dan menjadikannya sebagai walinya (pelindungnya). Na’udzubillah!

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: “Maka seorang mukmin beriman dengan segala apa yang dikhabarkan oleh Allah dan apa saja yang dikabarkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ia melihat yang diimani ataupun tidak. Inilah yang membedakan mereka dengan kaum zindiq yang mendustakan perkara-perkara ghaib. Karena akal budi mereka yang pendek dan tidak sanggup menjangkaunya maka kaum zindiq itu mendustakan apa yang tidak sanggup mereka ketahui. Rusaklah akal budi mereka. Carut marut angan-angan mereka. Sedang orang-orang beriman yang membenarkan yang ghaib serta mendapatkan hidayah, maka kalbu mereka pun menjadi tersucikan”

 

File Gerimis. Edisi 1 Tahun ke-1 2005

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: