Di Atas Ranjang Kematian

“Tiada hari yang aku lewati kecuali aku menangis. Setiap detik yang aku lalui, selalu terfikir untuk bunuh diri. Bagiku hidup ini sudah tidak ada artinya lagi. Aku selalu mengharapkan kematian setiap saat. Ya Ilahi… Andai aku tidak pernah dilahirkan dan aku tidak pernah mengenal dunia ini”

Sebenarnya aku sangat malu menceritakan aibku ini kepada orang lain, namun karena nasehat seorang ustadz, akhirnya aku memberanikan diri mengungkapkan semuanya, dengan harapan pembaca sekalian dapat mengambil hikmah dari masa laluku yang kelam. Semoga peristiwa ini tidak menimpa pembaca sekalian. Semoga Allah swt menerima tobatku. Aamiin.

Kejadian mengenaskan ini bermula dari persahabatanku dengan seorang teman wanita, sebut saja namanya Nia. Setelah sekian lama kenal dan saling tukar pikiran, suatu hari ia mengajakku ke rumahnya yang asri. Nia termasuk maniak internet, hampir tiada hari dia lewati tanpa membuka internet, hal ini membuatku merasa ingin tahu dunia maya tersebut. Nia mengajari cara menggunakan internet, mulai dari membuka situs, kirim email sampai tentang serunya berchating ria, proses itu berjalan hampir dua bulan.

Selama masa tersebut aku sering “perang” dengan suami, tuntutanku agar ia setuju kami berlangganan internet di rumah. Dia sangat menentang usulan tersebut, aku berusaha meyakinkannya bahwa aku sering merasa kesepian dan jenuh yang sangat menyiksa, jika harus tiap hari di rumah tanpa ada yang dikerjakan, sementara orang tua dan sanak keluarga juga jauh. Setelah melalui rayuan dan rengekan yang cukup lama akhirnya suamiku setuju.

Ya Ilahi… andai aku boleh ber andai-andai, sungguh indah jika dia tetap tidak setuju, namun Allah berkehendak lain.

Kini, setiap hari aku berinternet ria dengan teman-teman. Suamiku tidak lagi mendengar keluhan atau omelanku. Setiap kali ia keluar rumah, aku langsung aktifkan internet. Sedemikian antusiasnya nyaris seperti orang gila. Duduk berjam-jam di depan komputer, kagak ade matinye. Aku mulai sering berharap dia jarang dirumah, walaupun aku masih tetap mencintainya. Mengunjungi keluarga dan orang tua sudah mulai aku tinggalkan. Aku benar-benar sudah menjadi maniak internet. Suamiku sering cemburu dengan kebiasaan baru ini. Memang aku akui, mengurus anak dan suami sudah semakin jarang aku lakukan. Padahal aku mempunyai suami yang tampan dan cerdas serta seorang putri yang cantik jelita baru menginjak satu tahun usianya.

Ringkasnya aku sudah mengabaikan semuanya. Dulu aku sering meneleponnya sampai puluhan kali, ketika ia sedang di luar rumah. Hanya sekedar untuk mendengar suaranya atau bermanja ria. Sekarang dia tidak lagi mendengar suaraku lewat HP-nya, kecuali jika ada kebutuhan rumah tangga yang sangat penting. Itu pun sangat jarang terjadi. Aku faham dia sangat cemburu dan mulai uring-uringan, namun ketagihan dan keasyikan berchating ria membuatku nggak ambil pusing dengan kondisinya.

Aku mulai sering menjalin hubu-ngan dengan nama-nama samaran, yang aku tidak tahu apakah pemilik nama-nama itu laki-laki atau perempuan. Aku berdialog dengan siapa saja yang menyapaku lewat chating. Dari seluruh teman chatingku, ada satu yang membuat aku menaruh perhatian besar kepadanya, sebut saja namanya Robert. Aku menyukai pembicaraan dan kelakarnya. Dia pandai menghibur. Hubungan kami semakin kuat seiring berjalannya waktu. Dia selalu memujiku dengan kata-kata yang manis, kata-kata cinta dan rindu. Boleh jadi kata-katanya tidak demikian sangat indah, tetapi syetan menjadikannya semakin dahsyat.

Pada suatu hari ia meminta untuk mendengar suaraku. Aku menolaknya. Dia terus merayu bahkan mengancam akan meninggalkanku. Aku berusaha keras menolak permintaannya, akan tetapi aku tidak mampu. Nggak tahu kenapa, kayaknya aku sangat takut jika harus dicuekinnya. Akhirnya aku menerima walaupun bersyarat. Kami menggunakan program untuk percakapan suara, meskipun program tersebut kurang baik, akan tetapi suaranya bagus dan enak sekali, ia berkata kepadaku, “suaramu lewat internet kurang jelas, tolong berikan aku nomer teleponmu”.

Aku berusaha menolaknya, aku terkejut dengan sikap aktifnya. Namun rasa takut ditinggal membuat aku terpaksa memberikan nomor telepon rumah. Hubungan kami semakin berkembang, kini dia penasaran minta bertemu muka, setelah bosan hanya mendengar suara. Dia terus merayu agar kami bisa bertemu pandang, jujur saja aku juga penasaran ingin melihat tampangnya, tapi rasa takut melanggar syariat Allah membuat aku hati-hati. Kian hari permintaannya kian memaksa. Akhirnya dengan terpaksa aku memenuhi permintaannya. Kami saling berjanji, ngedate bertemu di salah satu plaza.

Sejak pandangan pertama aku terkagum padanya, mungkin syetan menghiasi wajahnya dalam pandanganku sebagai laki-laki yang sempurna. Sebenarnya suamiku tidak kalah tampan, tetapi syetan menghiasi sesuatu yang haram, menjadi lebih indah dan tampan. Hanya sekejap berbasa-basi lalu kami pun berpisah. Setelah itu kami semakin memperkuat hubungan haram itu. Sebenarnya dia tahu kalau aku sudah bersuami dan ibu dari seorang putri yang cantik jelita. Waktu berjalan demikian cepat, komunikasi lewat telepon menjadi sangat sering kami lakukan, hingga datanglah masa, dimana aku mulai membenci suamiku. Dia menyarankan agar aku minta cerai dari suamiku, dia berjanji akan menikahiku.

Hingga akhirnya terjadilah malapetaka itu…

Pada suatu hari, suamiku dapat tugas kantor ke luar kota selama 5 hari. Ia menawarkan kepadaku agar aku pergi ke orang tua. Aku merasa inilah saat yang tepat. Aku menolak tawarannya. Dengan berat hati dia terpaksa setuju dan meninggalkanku pada hari Jum’at. Aku mulai merasa merdeka. Aku bisa melakukan apa saja yang ku mau.

Ya Ilahi.. inilah awal musibah itu. Andai hamba boleh memutar jarum waktu. Kan kuputar perjalanan hidup menjadi lebih indah. Tapi inilah taqdirku yang harus kulalui. Taqdir yang disebabkan sikap bodohku…

Pada hari Sabtu kami janjian untuk bertemu. Aku dan syetan sepakat untuk menemuinya di plaza, tempat awal kami bertemu. Setelah ngobrol -ngalor ngidul- dan makan siang di cafe terdekat, kami jalan-jalan mengelilingi kota dengan mobilnya. Ini merupakan kali pertama dalam hidupku, keluar rumah bersama laki-laki asing. Aku merasa gelisah, aku berkata padanya: “Aku tidak ingin waktu keluar terlalu lama, aku khawatir jika suamiku menelpon atau terjadi sesuatu”.

Ia menjawab, “Jika suamimu tahu, mungkin ia akan menceraikanmu lalu kamu bebas darinya.” Ucapannya penuh kebencian terhadap suamiku, kegelisahanku semakin bertambah. Ia mengalihkan perhatian dengan pembicaraan sampingan. Tanpa kusadari kami sudah berada di sebuah tempat yang tidak aku kenal, mirip villa. Aku mulai teriak, “Tempat apa ini? Kemana engkau akan membawaku?

Hanya beberapa detik saja, mobil tiba-tiba berhenti. Seorang laki-laki membuka pintu mobil dan mengeluar-kanku dengan paksa. Sementara laki-laki ketiga di dalam villa dan yang ke empat aku lihat sedang duduk-duduk. Bau aneh menyebar dari tempat tersebut. Semua kejadian ini datang bagaikan halilintar, aku berteriak, menangis dan meminta belas kasihan mereka.

Karena ketakutan aku berteriak sekuat tenaga. Sebuah tangan menampar wajahku dengan keras membuat mulutku terkunci. Kondisinya lebih menyeramkan ketika ada suara yang membentakku, membuat jiwaku bergoncang dan kehilangan kesadaran. Akhirnya terjadilah suatu musibah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahkan terlintas di benak pun tidak. Musibah yang membuat kehormatanku sebagai wanita suci, hari itu terbang hilang menjadi hina, lebih hina dari seekor anjing. Sungguh penyesalan bertahun-tahun setelah kejadian ini, tidak pernah berhasil mengembalikan masa tersebut, masa dimana seharusnya aku lebih menjaga kehormatanku dari sejak awal pengaruh syetan mulai merasuk.

Setelah siuman dari pingsan, rasa takut yang begitu besar mulai menyelimuti. Tubuhku gemetar. Tak henti-hentinya aku menangis. Mereka mengikat kedua mataku lalu membawa ke mobil. Dengan kecepatan tinggi mereka membawa mobil ke daerah perumahanku lalu mereka campakkan tubuh yang hina ini dekat tong sampah samping rumah.

Aku masuk rumah dengan cepat, aku menangis dan menangis… hingga air mata kering. Aku mengurung diri di kamar, tidak melihat putriku, tidak makan barang sesuap pun. Aku membenci diriku, aku berusaha bunuh diri, aku tidak lagi mengenal anakku atau merasakan keberadaannya.

Suamiku pulang dari bepergian, kondisiku sangat buruk sekali. Dia membawaku ke rumah sakit dengan paksa. Dokter memberiku obat penenang. Aku minta suami agar membawaku ke rumah orangtua. Sesampainya di rumah orang tua aku banyak menangis. Orang tuaku terheran-heran, gerangan apa yang terjadi. Mereka mengira ada masalah antara aku dengan suamiku.

Suamiku sedih melihat keadaanku. Dia cuti kerja dua minggu agar lebih dekat denganku. Dia menolak untuk menceraikanku, ia sangat mencintaiku. Kami telah bersusah payah membina rumah tangga dan dia tidak ingin menghancurkannya.

Aku menyembunyikan semua rahasia di dadaku. Setiap hari berlalu kesedihanku kian bertambah pilu. Kehinaan macam apa yang telah menimpaku dari orang-orang yang rendah itu? Alangkah bodoh dan dungunya aku. Bagaimana mungkin aku melewati berbulan-bulan menyalurkan perasaan tulusku kepada orang-orang yang tidak berhak. Dan inilah aku yang menulis kisah ini di atas ranjang kesakitan dan kekurusan… bahkan menjadi ranjang kematian… (Hamba Allah)

 

File Gerimis. Edisi 1 Tahun ke-1 2005

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: